Ragam Makna “Kafir”

ragam makna kafir

Pecihitam.org – Secara umum, hubungan antara Tuhan dan manusia adalah hubungan ketuhanan dan kehambaan. Jika berjalan dengan harmonis, maka hubungan itu terjalin dengan jalinan iman, sedangkan bila putus, maka hubungan tersebut terhalang oleh hijab ke-kufr-an.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dari segi kebahasaan, sebagaimana kamu al-Munjid, kata kufr berasal dari kata kerja kafara, yakfuru, dan kata benda kufran, al-syai`a. Artinya, satarahu wa ghaththahu (menutupi sesuatu dan menguncinya). Pelaku atau subjeknya disebut kafir atau orang yang menutupi atau mengunci.

Ada pula yang berpendapat bahwa kufr juga berarti menyembunyikan. Berdasarkan pengertian ini maka para petani disebut Allah sebagai kuffar (bentuk plural dari kafir) di dalam ayat ke-20 dari surah al-Hadid: “… seperti perumpamaan hujan yang membuat para petani (kuffar) kagum karena tanaman yang ditumbuhkannya ….”. Para petani disebut kuffar karena pekerjaan mereka memang menyembunyikan dan menutupi biji-bijian di dalam tanah supaya tumbuh.

Adapun penggunaan kata kufr dari segi istilah, jika kita merujuk kepada al-Qur`an, maka istilah kafir diartikan sebagai seorang yang ingkar dan tidak mau mengakui kebenaran agama karena ia selalu menutup hatinya rapat-rapat sehingga tak dapat masuk ke dalam sanubarinya kebenaran sedikit pun.

Salah satu ayat yang menggambarkan sifat kufr yang ada dalam diri orang yang kafir adalah ayat ke-6 dari surah al-Baqarah: “Sesungguhnya orang-orang kafir (kafaru), sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutupi. Bagi mereka siksa yang amat berat.”

Jika orang kafir disebut sebagai orang yang menutup hatinya, maka sebaliknya, orang yang selalu membuka hatinya untuk menerima kebenaran disebut Allah mu`min, subjek dari kata iman.

Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibni Katsir memaknai kata kafaru pada ayat di atas dengan gathth al-haqq wa satarahu, “mengunci diri dan menutupnya” dari kebenaran, sehingga apakah Nabi Saw memberi peringatan atau tidak mereka tetap saja tidak beriman.

Sayyid Quthb dalam karya tafsir-nya Fi Zhilal al-Qur`an menyatakan bahwa ayat di atas bermaksud bahwa ada perbedaan antara ciri orang bertakwa (beriman) dengan orang kafir, yaitu bahwa jendela hati orang bertakwa selalu terbuka untuk menerima kebenaran, sedangkan hati orang kafir selalu tertutup.

Adapun al-Maraghi menafsirkan kata kufr, sehubungan dengan tafsir ayat di atas, dengan makna penutup sesuatu, yang menyelimuti. Kata tersebut juga dapat berarti petani dan juga dapat berarti menutup kenikmatan dalam arti tidak menyatakan syukur. “Sudah merupakan sunnatullah,” sebut al-Maraghi, “bagi orang-orang yang tetap berdiri pada kekafiran, Allah akan mengunci hati, pendengaran dan mata mereka dari petunjuk.”

Baca Juga:  Tauhid Sebagai Ajaran Semua Nabi, Inilah Pengertian dan Pentingnya dalam Agama Ini

Sebab-sebab kekafiran mereka adalah: Pertama, terkadang mereka ingkar terhadap kebenaran setelah mengetahui kebenaran itu, walaupun pada dasarnya apa yang diturunkan kepada Muhammad itu sudah disampaikan dengan cara yang cukup jelas. Kedua, terkadang karena mereka berpaling dari kebenaran dan merasa lebih tinggi di hadapannya sehingga tidak mau melihat hakikat kebenaran itu.

Hamka dalam al-Azhar-nya mengartikan kata kafaru pada ayat di atas dengan “orang-orang yang tidak mau percaya” dan menjelaskan ayat di atas sebagai berikut:

“Orang kafir adalah orang yang telah menyediakan hatinya buat percaya, yakni bahwa di dalam hati sanubari itu ada kesediaan buat menerima kebenaran, atau lebih tegas lagi di dalam hati tiap-tiap manusia itu ada tampang buat mengakui kebenaran, tetapi oleh si kafir tampang yang bisa tumbuh dengan baik itu ditimbunnya, dikemukakan berbagai alasan kebenaran dengan berbagai cara, namun bagi mereka sama saja, tidak ada yang mereka terima. Mereka telah mengkafiri suara hati mereka sendiri.”

“Sebab mereka menjadi kafir adalah karena petunjuk mereka anggap mengganggu kedudukan dan perasaan tinggi diri mereka.”

Dari penjelasan di atas dapat kiranya disimpulkan bahwa makna kafir di dalam al-Qur`an adalah orang yang menutup diri dari petunjuk kebenaran, sementara ia sebenarnya mengetahui bahwa petunjuk itu benar adanya. Persoalannya, bagaimana jika orang yang diduga kafir itu lebih dulu tidak mengetahui dan tidak mengakui petunjuk itu adalah benar?

Beberapa Makna Kafir

Berangkat dari pengertian di atas, al-Qur`an juga menjelaskan makna-makna kafir dalam beberapa konotasi  makna berikut:

Kafir Ingkar, yaitu seseorang yang mengingkari Allah dengan hati dan lidahnya. Kelompok ini dijabarkan sebagai berikut:

Pertama, mengingkari adanya Allah seperti digambarkan di dalam ayat ke-60 dari surah Hud dan ke-24 dari surah al-Jatsiyat ayat ke-24. Kafir semacam ini juga disebut atheis atau dahriy.

Kedua, mengingkari keesaan Allah, sebagaimana ditegaskan dalam surah al-Maidah ayat ke-73. Kafir semacam ini juga disebut musyrik (politheis).

Baca Juga:  Jangan Baca Kitab Kuning Sebelum Paham Rumus dan Istilahnya!

Ketiga, mengingkari kitab Allah (al-Qur`an) seperti tercantum dalam ayat ke-41 dari surah al-Fushshilat.

Keempat, mengingkari kenabian, seperti tercantum dalam ayat ke-13 dan ke-14 dari surah al-Qamar, serta dalam ayat ke-34 dari surah Saba’.

Kafir Juhud, yaitu seseorang yang mengakui adanya Tuhan, tapi tak mau mengikrarkan imannya itu dengan lidah, seperti kafirnya Umaiyat ibn Abi Shalt sebagaimana diisyaratkan Tuhan di dalam ayat ke-89 dari surah al-Baqarah.

Kafir Mu’anadat, yaitu seseorang yang mengakui Allah dan meingkrarkan imannya dengan lidah, tapi tak mau memeluk Islam, seperti Abu Thalib.

Kafir Nifaq (munafiq), yaitu seseorang yang bersikap ambivalen, yatu pada lahirnya ia beriman kepada Allah, tapi di dalam hati ia ingkar. Orang semacam ini dicancam oleh Tuhan dengan azab yang paling pedih dengan menempatkannya di dasar neraka yang paling bawah, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat ke-145 dari surah al-Nisa.

Kafir Fisq, yaitu orang yang meremehkan perintah dan larangan Allah, namun hatinya tetap mempercayai Allah dan lidahnya mengikrarkan dua kalimat syahadat. Dari itu orang semacam ini disebut fasiq. Ungkapan kafir dipakaikan kepadanya berdasarkan hadits Nabi Saw yang diriwayatkan oleh al-Thabrani: “Barangsiapa yang sengaja meninggalkan shalat, maka dia telah kafir secara terang-terangan.”

Iblis adalah makhluk pertama yang mula-mula kafir kepada Tuhan. Kekafi-rannya terdapat di dalam banyak ayat al-Qur`an, antara lain dalam surah 2:34, 38:74, 17:61-63, 15:30-35 dan 20:116.

Kufr dalam al-Qur`an juga dapat berarti “tidak bersyukur”, sehingga kafir berarti “orang yang tidak bersyukur.” Kekafiran ini juga disebut dengan Kafir Nikmat. Hal ini dapat kita lihat dalam firman Allah dalam surah Ibrahim ayat ke-7: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memberikan pernyataan, jika kamu bersyukur pasti Kutambah nikmat-Ku kepadamu, sebaliknya jika kamu mengingkari (kafartum) nikmat itu, tentu siksaan-Ku lebih dahsyat.”

Ibnu Katsir menafsirkan kata kafartum pada ayat di atas dengan kafartum al-ni’am wa satartumuhu wa jahadtumuhu (kalian telah menutup diri dari mengakui nikmat itu (dari Allah) dan menyembunyikannya serta mengingkari-nya. Maksudnya, karena ketertutupan diri dari pengakuan bahwa nikmat itu dari Allah, maka selanjutnya kalian tidak bersyukur.

Adapun Sayyid Quthb menyatakan bahwa wa al-kufr bi ni’mat Allah qad yakunu bi ‘adami syukriha (kekafiran terhadap nikmat Allah itu adalah tidak menyukurinya.

Baca Juga:  Tafsir Alif Lam Mim Menurut Kyai Shalih Darat, Bagaimanakah Maknanya?

Al-Maraghi menafsirkan kata wa la`in kafartum pada ayat di atas dengan: “Jika kalian kufur dan ingkar kepada nikmat-nikmat Allah, serta tidak memenuhi hak nikmat tersebut, seperti bersyukur kepada Allah yang memberi nikmat itu.

Hamka juga mengisyaratkan bahwa kufr dalam ayat tersebut berarti tidak bersyukur, seperti pernyataannya dalam Tafsir al-Azhar:

“Inilah peringatan Tuhan kepada Bani Israil setelah mereka dibebaskan dari penindasan Fir’aun. Kebebasan itu sendiri adalah perkara besar yang wajib disyukuri. Dalam bersyukur hendaklah terus berusaha guna mengatasai kesulitan. Setelah bebas dari tindasan Fir’aun mereka harus membangun, jangan mengomel atas persediaan yang kurang, jangan mengeluh kalau belum tercapai apa yang dicita.”

“Syukuri yang ada, maka pastilah akan ditambah Tuhan. Tetapi kalau hanya mengeluh, ini kurang, itu belum beres, yang itu lagi belum tercapai, seakan-akan pertolongan Tuhan tidak juga segera datang, maka itu namanya kufr, artinya melupakan nikmat, tidak mengenal terimakasih. orang yang demikian akan mendapat siksa yang pedih dan ngeri. Di antaranya ialah jiwanya yang meremuk karena ditimpa penyakit selalu merasa tidak puas.”

Klaim Kafir tidak mudah

Paparan di atas dapat melahirkan setidaknya dua kesimpulan:

Pertama, bahwa makna kufr dan kafir dalam al-Qur`an ternyata beragam dan tidaklah bermakna tunggal, sebagaimana selama ini difahami secara tunggal pula bahwa kafir berarti orang yang tidak beriman. Padahal ada kriteria-kriteria kafir yang tidak serta-merta mengeluarkan orangnya dari keberimanan.

Dari ragam konotasi makna kufr di atas hanya Kafir Ingkar yang dapat menyatakan bahwa orangnya tidak beriman. Hal ini menyiratkan bahwa klaim kafir terhadap seseorang tidak dapat dinyatakan dengan mudah dan sembarangan. Berdasarkan al-Qur`an haruslah dipilah dulu klaim kafir manakah yang ingin disematkan kepada seseorang. Karena itulah, ideologi yang suka mengklaim orang lain sebagai kafir (takfiri) dikecam banyak pihak.

Kedua, terkait dengan makna kafir sebagai Kafir Nikmat, bahwa pada hakikatnya percaya kepada Tuhan dan hal-hal yang berhubungan dengan-Nya yang dimanifestasikan dalam beragama adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas adanya nikmat-nikmat dan pemberian-pemberian yang Ia berikan.

Agama seharusnya difahami sebagai wadah bersyukur, sebab Tuhan telah melimpahkan nikmat-Nya kepada kita semenjak kita di-ada-kan, bukan sekedar tempat meminta pertolongan. Dalam konteks Islam, maka agama ini adalah agama yang menjadi pedoman hidup para penganutnya baik pada saat senang dan gembira, tidak hanya pada saat sedih dan menderita.

Yunizar Ramadhani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *