Persamaan dan Perbedaan Haji dan Umroh: Hukum, Rukun serta Waktunya

perbedaan haji dan umroh

Pecihitam.org – Ibadah Haji memiliki banyak persamaan dengan umroh. Akan tetapi, Haji dan Umroh ini juga mempunyai perbedaan mendasar terkait waktu dan hukum pelaksanaannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Haji adalah satu rukun Islam kelima yang hukumnya wajib dilakukan oleh setiap muslim setidaknya sekali seumur hidup mereka yang secara fisik dan finansial mampu melakukan perjalanan, dan dapat mendukung keluarga mereka selama ketidakhadiran mereka

Haji secara literal artinya adalah menyengaja atau mengunjungi. Maksudnya adalah menyengaja datang ke Baitullah secara fisik dan jiwa untuk menunaikan amalan tertentu, dengan syarat-syarat tertentu, dan pada waktu tertentu, yaitu pada bulan-bulan haji.

Sedangkan, umroh secara literal berarti ziarah. Maknanya adalah berziarah ke Baitullah untuk melaksanakan amalan-amalan tertentu sesuai rukun dan ketentuannya.

Persamaan Haji dan Umrah

Haji dan umroh memiliki sejumlah persamaan. Kedua ibadah ini sama-sama dikerjakan dalam keadaan berihram. Umroh dan haji sama-sama dikerjakan dengan terlebih dahulu mengambil miqat makani. Tempat berihram jamaah haji Indonesia adalah di Bir Ali dan Yalamlam.

Umroh dan haji sama-sama terdiri atas tawaf mengelilingi Ka’bah tujuh putaran. Kemudian, disambung dengan sai tujuh kali antara Safa dan Marwah. Setelah itu, jamaah haji bercukur atau tahalul. Bisa dikatakan, haji adalah ibadah umroh plus beberapa ritual lainnya.

Perbedaan Hukum Haji dan Umrah

Dilihat dari segi hukum, Haji dan umroh memiliki perbedaan. Haji hukumnya wajib dilakukan oleh orang muslim yang mampu. Dasarnya adalah Al Quran Surah Ali Imran: 97,

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ

” … mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, dari semesta alam.”

Selain itu terdapat dalil lain berdasarkan hadits riwayat dari Ibnu Umar,

Baca Juga:  Hukum Sedekah Laut Dari Sudut Pandang Hadits dan Fiqih

“Islam didirikan atas lima hal, bersaksi tiada tuhan selain Allah sesungguhnya Nabi Muhammad utusan Allah, mendirikan salat, melaksanakan zakat, haji ke Baitullah dan puasa Ramadan,” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, seorang muslim yang sudah mampu baik dari segi finansial, fisik dan spiritual, maka wajib hukumnya mengerjakan haji.

Berbeda dengan haji yang hukumnya wajib, terdapat perbedaan pendapat ulama tentang umroh. Sebagian menilai ibadah umroh wajib dikerjakan sekali seumur hidup, dan sebagian lain menyebut hukumnya sunah: jika tidak dikerjakan tidak berdosa, dan jika ditunaikan, mendapatkan pahala.

Ulama yang menyatakan umrah hukumnya wajib, berlandaskan pada Al Quran Surah al-Baqarah: 196,

وَأَتِمُّوا۟ ٱلْحَجَّ وَٱلْعُمْرَةَ لِلَّهِ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah untuk Allah.”

Dan juga hadits berikut;

الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَأَنْ تُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ وَتَعْتَمِرَ، وَتَغْتَسِلَ مِنَ الْجَنَابَةِ، وَأَنْ تُتِمَّ الْوُضُوءَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ

Islam adalah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Allâh dan bahwa Muhammad Rasûlullâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji dan umrah, mandi junub, menyempurnakan wudhu dan puasa Ramadhan.

Sedangkan ulama yang menyebut umrah hukumnya sunah, melandaskan pada hadits riwayat dari Jabir, bahwa Rasulullah Saw pernah ditanya mengenai umrah wajib atau tidak. Beliau menjawab,

“Tidak, dan ketika kau umrah maka itu lebih baik bagimu.” (HR. at-Tirmidzi).

Perbedaan Rukun Haji dan Umrah

Terkait rukun, antara Haji dan umroh juga terdapat perbedaan.

Rukun haji antara lain:

  • Niat ihram
  • Wukuf di Arafah>
  • Tawaf.
  • Sai, dan
  • Memotong rambut.
Baca Juga:  Kesaksian Non Muslim dalam Islam, Diterima atau Tidak?

Sementara itu, dalam umroh, Empat rukun lain sama, yaitu niat ihram, tawaf, sai, dan memotong rambut namun tidak ada rukun wukuf di Arafah.

Perbedaan Waktu Haji dan Umrah

Jika merujuk pada waktu pelaksanaan, haji jelas memiliki waktu yang lebih terbatas daripada umroh. Karena, haji hanya dapat dilakukan pada bulan-bulan haji saja, yaitu dimulai sejak Syawal hingga awal Dzulhijah. Firman Allah dalam Surah al-Baqarah: 197

ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَٰتٌ

“Musim haji itu (berlangsung) pada beberapa bulan yang telah diketahui” .

Sementara itu Abdullah bin Umar berkata,

“Bulan-bulan haji adalah Syawal, Dzulqa’dah, dan 10 hari (pertama) Dzulhijah” (H.R. Bukhari).

Sedangkan, ibadah Umroh dapat dilakukan kapan saja sepanjang tahun, karena di dalamnya tidak terdapat rukun wukuf di Arafah, yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijah.

Cara Melaksanakan Haji dan Umroh

Pakar tafsir Alquran, Prof Quraish Shihab, dalam bukunya, Haji dan Umroh, menyebutkan, ada tiga pilihan cara melaksanakan haji dan umroh.

Pertama adalah Haji Tamattu’, yaitu melakukan umroh terlebih dahulu. Setelah itu, baru melaksanakan ibadah haji. Keduanya sama-sama dilakukan pada musim haji.

Umat Muslim yang melaksanakan ibadah haji ini memperoleh kemudahan. Mereka dapat menanggalkan pakaian ihram serta boleh melakukan perbuatan yang dilarang selama berihram. Namun syaratnya adalah harus menyelesaikan ibadah umroh terlebih dahulu. Kemudahan ini tidak diperoleh mereka yang melaksanakan haji ifrad.

Kemudian bagi yang melaksanakan haji tamattu’ dikenakan kewajiban tambahan, yakni keharusan membayar dam (denda) berupa menyembelih seekor kambing atau berpuasa tiga hari di Makkah dan tujuh hari setelah kembali ke Tanah Air.

Haji tamattu’ dilakukan dengan memakai ihram dari miqat. Niatnya untuk umroh pada musim haji. Setelah tahalul, jamaah kembali memakai ihram dengan niat haji pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah).

Baca Juga:  Pengen Tau Ghibah yang Sesuai Syari? Ini 6 Kondisi dimana Ghibah Boleh Dilakukan

Kedua adalah Haji Ifrad, yaitu melakukan ibadah haji tanpa umroh. Bila memilih ibadah haji ini, maka umroh akan diakhirkan.

Ketiga adalah haji qiran. Maknanya adalah umat Muslim berihram untuk umroh sekaligus juga untuk berhaji. Seseorang dikatakan melaksanakan haji qiran apabila melakukan haji dan umroh dengan cara digabung dalam satu niat dan gerakan secara bersamaan sejak mulai dari berihram.

Ketika memulai dari miqat dan berniat untuk berihram, niatnya adalah menunaikan haji dan sekaligus umroh yang digabung dalam satu praktik amal. Hal ini sebagaimana hadits riwayat Aisyah ra,

“Kami berangkat bersama Nabi SAW pada tahun haji wada (perpisahan). Di antara kami, ada yang berihram untuk umroh, ada yang berihram untuk haji dan umroh, dan ada pula yang berihram hanya untuk haji. Sedangkan, Rasulullah SAW berihram untuk haji. Adapun, orang yang berihram untuk haji atau menggabungkan haji dan umroh, mereka tidak tahalul sampai hari nahar (10 Dzulhijah).” (HR Bukhari).

Mayoritas ulama menyebutkan, karena qiran ini adalah haji sekaligus umroh, maka dalam praktiknya tidak perlu dua kali. Tidak perlu melakukan dua kali tawaf dan tidak perlu dua kali sai, juga tidak perlu dua kali bercukur. Semua cukup dilakukan satu ritual dan sudah dianggap sebagai dua pekerjaan ibadah sekaligus, yaitu haji dan umroh.

Dari tiga cara pelaksanaannya ini sama-sama dibenarkan dalam syariat Islam. Rasulullah bersabda,

“Ambil dariku cara melaksanakan ibadah haji untuk kalian.”

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik