Rahmah El Yunusiyah; Ulama Perempuan, Pelopor Perguruan Muslim Sumatera Barat

Rahmah El Yunusiyah; Ulama Perempuan Sumatera, Pelopor Perguruan Muslim Sumatera Barat

PeciHitam.org – Dalam sejarah Islam, Ulama tidak hanya berasal dari kaum laki laki, tetapi ada juga seorang perempuan. Sebut saja Rabiatul Adawiyah seorang ulama sufi yang namanya dikenal hingga saat ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Indonesia memiliki banyak Ulama baik yang bergerak di bidang keagamaan dan juga fokus di bidang pendidikan. Salah satu ulama perempuan dari Sumatera yang pernah berjuang untuk pendidikan dan kesetaraan adalah Rahmah El Yunusiyah.

Biografi Singkat Rahmah El Yunusiyah

Rahmah merupakan putri dari ulama terkenal di Sumatera. Kakeknya bernama Imanuddin adalah Ulama yang ahli di bidang ilmu falak dan juga menjadi pemimpin tarekat Naqsyabandiyah di Minangkabau.

Ayah Rahmah bernama Syekh Muhammad Yunus, seorang Qaddi di Pandai Sikat dan meninggal dunia ketika Rahmah masih kecil, hal ini membuat sosok Rahmah tidak pernah mendapatkan pendidikan langsung dari ayahnya.

Rahmah adalah anak bungsu, maka ketika ayahnya wafat dia kemudian menjadi dekat dengan Ibu dan kakaknya Zainuddin Labay el Yunusy. Dari kakaknya inilah Rahmah memperoleh pendidikan dan pengajaran berbagai cabang keilmuan.

Zainuddin Labay el Yunusy sendiri waktu itu adalah seorang ulama muda revolusioner dimana dia berhasil merubah sistem pendidikan sekolah agama menjadi pendidikan modern yang diperuntukkan oleh laki laki dan perempuan.

Baca Juga:  Kewalian, Kalam Hikmah dan Karomah Imam Asy Syadzili

Sekolah yang didirikan kakaknya ini merupakan sekolah Islam pertama di Indoensia yang memperbolehkan perempuan dan lelaki bersekolah di tempat yang sama. Disanalah Rahmah mengenyam pendidikan.

Namun, perjalanan pendidikan Rahmah tidak berlansung lama. Hal ini terjadi karena beberapa bulan kemudian, Rahmah dijodohkan ketika berusia 15 tahun. Meski berat, dia menyetujui perjodohan tersebut.

Para tahun 1922, suami Rahmah mempunyai niat untuk menikah lagi dan meminta izin kepada Rahmah untuk melakukan pologami. Tentu saja Rahmah menolak keras rencana suaminya tersebut.

Meski demikian, penolakan ini tidak diperlihatkan secara langsung, namun ketika suaminya hendak melakukan pernikahan kedua, Rahmah dihadapkan kepada dua pilihan, menerima atau bercerai. Rahmah memilih untuk bercerai.

Rahmah el Yunusy dan Pendidikan Islam

Setelah bercerai dengan suaminya, Rahmah menjalani kehidupan dengan aktif dalam gerakan perempuan dan perjuangan pendidikan di Sumatera. Suatu ketika, Rahmah memimpin rapat kaum ibu di Padang Panjang.

Rupanya raoat yang dilakukan diawasi oleh pihak Belanda sehingga Rahmah dihukum dengan membayar denda sebanyak 100 Gulden dengan tuduhan membicarakan politik dan menjadi anggota pengurus Serikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS).

SKIS adalah organisasi perempuan di Sumatera pada waktu itu yang memperjuangkan hak perempuan. SKIS mempunyai majalah yang terbit setiap bulan untuk mengedukasi pembacanya mengenai hak-hak perempuan dan derajat kaum perempuan yang tidak selamanya manut jika ditindas.

Baca Juga:  Mengenal Empat Sifat Utsman bin Affan yang Patut Kita Contoh, Salah Satunya Sangat Pemalu

Selain di SKIS, Rahmah juga menjadi ketua Khutub Khanan, sejenis taman bacaan. Rahmah berpendapat bahwa perempuan harus belajar, terdidik dan pintar. Pada tahun 1935, dia mewakili perempuan Sumatera Tengah datang ke Kongres Perempuan di Bandung.

Rahma memiliki pandangan bahwa meningkatkan derajat kaum perempuan harus dilakukan oleh perempuan itu sendiri. Hal ini yang kemudian membuat Rahmah mendirikan Diniyah Putri School Padang Panjang pada tanggal 1 November 1923.

Pada tahun 1924 kakaknya Zainuddin meninggal dunia, Rahmah sangat terpukul mendengar kabar ini. Momen ini membuat dia belajar keras untuk mempertahankan dan mengurus perguruannya sambil tetap memegang prinsip.

Prinsip itu membuat Rahmah menolak tawaran subsidi pemerintah Hindia Belanda untuk pendirian sekolahnya yang kekurangan dana. Dalam buku Sejarah Setengah Abad Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia Rahmah digambarkan sebagai sosok yang memilih perjuangan nonkooperasi dengan pemerintah kolonial belanda.

Rahmah selalu berpesan kepada kaum Perempuan bahwa mereka harus berjuang sendiri terlebih dahulu sebelum menerima bantuan dari kaum lelaki. Jika memang nantinya usaha yang dilakukan sudah maksimal dan hasil yang di inginkan belum tercapai baru boleh meminta bantuan kaum lelaki.

Baca Juga:  Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie: Keturunan Rasulullah, Pendiri Kota Pontianak

Hal ini dia contohkan ketika salah seorang Ulama Minagkabay M. Zen Djambek menawarkan bantuan untuk penyelesaian pembangunan gedung perguruannya. Rahmah menolak dengan halus dengan mengucapkan “Buat sementara, golongan puteri akan mencoba mengupayakannya sendiri,” kata Rahmah..

Rahmah mengumpulkan dana untuk pembangunan tersebut dari ceramahnya di berbagai kota seperti Aceh, Sumatera Utara dan Semenanjung Melayu sepanjang tahun 1926. Usaha yang dilakukannya berhasil, sekolah yang di dirikannya berkembang hingga membuka cabang di Batavia.

begitulah sedikit kisah tentang Rahmah El Yunusiyah, ulama perempuan pejuang pendidikan Islam yang terkenal dari Sumatera.

Mohammad Mufid Muwaffaq