Khalid bin Walid, Panglima dan Ahli Strategi Perang yang Bergelar Saifullah Al-Maslul

Khalid bin Walid, Panglima dan Ahli Strategi Perang yang Bergelar Saifullah Al-Maslul

Pecihitam.org – Khalid bin Walid, siapa yang tidak pernah mendengar kisah hidup seorang yang gagah perkasa dan cerdik ini?! Ia adalah seorang panglima perang yang mahsyur dan ditakuti di medan pertempuran. Nabi Muhammad Muhammad memberinya gelar “Saifullah Al-Maslul” yang bergelar pedang Allah yang terhunus.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sahabat Khalid bin Walid adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang kariernya. Shahabat yang satu ini masuk Islam pada tahun kedelapan hijriyah dan telah terjun dalam puluhan peperangan.

Khalid bin Walid adalah komando pasukan kaum muslimin pada perang yang masyhur yaitu perang Yamamah dan Yarmuk, dan beliau telah melintasi perbatasan negeri Iraq menuju ke Syam dalam lima malam bersama para tentara yang mengikutinya. Inilah salah satu hal menakjubkan dari sang panglima perang ini yang melegenda ini.

Kelahiran
Dari beberapa sumber disebutkan, Khalid bin Walid dilahirkan sekitar 17 tahun sebelum masa turunnya wahyu. Dia anggota suku Banu Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya bernama Lababah.

Khalid termasuk di antara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah binti Al-Harits, bibi dari Khalid adalah isteri Nabi. Dengan Umar bin Khattahab pun, Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya.

Khalid bin Walid Masuk Islam
Dahulu sebelum masuk Islam, nama Khalid bin Walid sangat masyhur sebagai panglima tentara kaum kafir Quraisy yang tak terkalahkan. Begitu gagah dan perkasanya Khalid baik ketika di medan perang maupun dalam hal menyusun strategi perang.

Khalid bin Walid masuk Islam setelah Perang Uhud yang banyak merenggut para pejuang muslim. Dalam perang itu, Khalid bin Walid menjadi panglima tentara kaum kafir Quraisy. Ia masuk Oslam setelah mendengar lantunan ayat suci Al Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13 yang dibacakan oleh Bilal berikut

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Baca Juga:  Abdullah bin Umar, Putra Khalifah Umar Yang Menjadi Perawi Hadits

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

Setelah itu, Nabi memberi gelar kepadanya dengan nama “Syaifullah Al-Maslul” yang artinya pedang Allah yang terhunus. Setelah bergabungnya Khalid bin Walid ke dalam Islam, bertambah kuatlah pasukan Muslim hingga bisa menaklukan kota Mekkah dan Pasukan Kafir Quraiy.

Awal-awal masuk Islam, Khalid sempat melucut pedang, baju besi dan perlengkapan perang lainnya. Ia lakukan di hadapan Nabi sebagai bentuk penyesalan karena telah banyak membunuh kaum muslimin ketika ia menjadi panglima pasukan kafir.

Namun kemudian Nabi meminta Khalid untuk terus memakainya. Jika dulu pedang itu digunakan untuk membunuh kaum muslimin, maka sekarang pun harus tetap digunakan dengan bergabung bersama pasukan kaum muslimin.

Peran Khalid bin Walid dalam Perang Mu’tah 
Saat terjadi pertempuran Mu’tah. Jumlah tentara kaum muslimin pada saat itu sekitar 3.000 personil, sementara Bangsa Romawi memilki dua ratus ribu personil. Melihat tidak adanya keseimbangan jumlah tentara kaum muslimin di banding musuh, terkuaklah sikap kesatria dan kepahlawanan kaum muslimin pada peperangan ini. 

Nabi Muhammaf shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan agar pasukan dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, dan jika dia terbunuh maka kepeminpinan berpindah kepada Ja’far bin Abi Thalib, dan jika terbunuh maka kepeminpinan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah.

Semua pemimpin di atas mati syahid pada peperangan ini, lalu bendera diambil alih oleh Tsabit bin Aqrom, dan dia berkata kepada kaum muslimin: Pilihlah seorang lelaki sebagai pemimpin kalian, maka mereka memilih Khalid bin Walid. Maka pada peristiwa inilah tampak jelas keberanian dan kecerdikannya.

Baca Juga:  Mengenal Sosok Salman al Farisi, Pencari Kebenaran Islam

Dia kembali mengatur para pasukan, maka dia merubah strategi dengan menjadikan pasukan sayap kanan berpindah ke sayap kiri dan sebaliknya pasukan sayap kiri berpindah ke sebelah kanan. Kemudian sebagian pasukan diposisikan agak mundur. Setelah beberapa saat mereka datang seakan pasukan bantuan  yang baru datang.

Hal ini dilakukan guna melemahkan semangat berperang musuh. Kemudian kesatuan tentara kaum muslimin terlihat menjadi besar atas pasukan kaum Romawi, sehingga menyebabkan mereka mundur dan semangat mereka melemah.

Pada Perang Mu’tah, hanya beberapa kaumm muslimin yang menjadi korban, sedangkan di pihak kaum kafir banyak sekali.

Peperangan Lainnya
Sahabat Khalid bin Walid juga ikut serta dalam peperangan melawan kaum yang murtad. Beliau juga ikut berperang menuju Iraq. Namun, sebagaimana mafhum dalam kitab-kitab Tarikh, Khalid bin Walid diberhentikan sebagai panglima perang pada masa Khalifah Umar bin Khattahab.

Para ulama berbeda pendapat tentang sebab diberhentikannya Khalid sebagai komando perang di Syam, dan semoga yang benar adalah apa yang dikatakan oleh Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu: Tidak, aku akan memecat Khalid sehingga masyarakat mengetahui bahwa sesungguhnya Allah membela agamanya tidak dengan Khalid.

Maksudnya adalah agar kaum muslimin tetap berkeyakinan bahwa Allah lah pemberi kemenangan sebenarnya, dan agar mereka tidak bergantung padanya.

Di antara ungkapan Khalid bin Walid yang begitu dalam maknanya adalah “Tidaklah sebuah malam di mana aku bersama seorang pengantin yang aku cintai lebih aku sukai dari sebuah malam yang dingin lagi bersalju dalam sebuah pasukan kaum muhajirin guna menyerang musuh”

Disebutkan, Khalid pernah menulis sebuah surat kepada Kaisar Persia yang yangbisinya, “Sungguh aku t telah datang kepada kalian dengan pasukan yang lebih mencintai kematian sebagaimana orang-orang Persia menyenangi minum khamr.”

Wafat
Khalid bin Walid wafat pada tahun 21 H. di Himsh pada usia 52 tahun. Meski Khalid bin Walid sering aktif dalam banyak peperangan menegakkan agama Allah, namun ia tidak gugur dalam pertempuran.

Baca Juga:  Biografi Gus Dur, Sang Guru Bangsa

Abu Zannad berkata, “Pada saat Khalid akan meninggal dunia, dia menangis dan berkata, “Aku telah mengikuti perang ini dan perang ini bersama pasukan, dan tidak ada satu jengkalpun dari bagian tubuhku kecuali padanya terdapat bekas pukulan pedang atau lemparan panah atau tikaman tombak dan sekarang aku mati di atas ranjangku terjelembab sebagaimana matinya seekor unta. Janganlah mata ini terpejam seperti mata para pengecut”

Dari Sahl bin Abi Umamah bin Hanif dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meminta kepada Allah mati syahid dengan sebenarnya maka Allah akan menyampaikannya kepada derajat orang-orang yang mati syahid sekalipun dirinya mati di atas ranjangnya.”

Lalu pada saat wafat, Khalid tidak meninggalkan kecuali kuda, senjata dan budaknya yang dijadikannya sebagai sedekah di jalan Allah. Saat berita kematian tersebut sampai kepada Amirul Mu’minin, Umar bin Al-Khattab, dia berkata, “Semoga Allah meberikan rahmatnya kepada Abu Sulaiman, sesungguhnya dia seperti apa yang kami perkirakan.”

Faisol Abdurrahman