Rentetan Sejarah Berdirinya Nahdlatul Ulama

Rentetan Sejarah Berdirinya Nahdlatul Ulama

PeciHitam.org – Nahdlatul Ulama sebagai salah satu ormas keagamaan terbesar di Indonesia, tentu memiliki sejarah tersendiri. Untuk itu, pada kesempatan ini, penulis akan mencoba menjelaskan kembali bagaimana Sejarah Berdirinya Nahdlatul Ulama hingga bisa berkembang menjadi sebuah wadah yang dicintai banyak orang.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Berawal dari upaya untuk merespon kebangkitan nasional, muncullah organisasi pergerakan di kalangan pesantren. Upaya-upaya ini melahirkan beberapa organisasi di antaranya Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916, kemudian dilanjutkan dengan didirikannya Taswirul Afkar atau Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran) pada tahun 1918, yang mewadahi kaum santri dalam mengembangkan Pendidikan sosial politik dan keagamaan.

Setelah didirikannya beberapa organisasi tersebut, kemudian melahirkan semangat untuk mendirikan Nahdlatul Tujjar (pergerakan kaum saudagar). Dilatarbelakangi oleh munculnya beberapa organisasi tersebut, kemudian muncullah inisiatif untuk mewadahinya dalam suatu naungan besar yang lebih sistematis dalam merespon perkembangan zaman.

Pada tahun 1924, suatu Komite Khilafat didirikan di Surabaya tepatnya pada tanggal 4 Oktober 1924 dengan Ketua Wondosudirdjo (atau dikenal Wodoamiseno) dari Serikat Islam dan Wakil Ketua K.H. Wahab Hasbullah.

Setelah sebelumnya di tahun yang sama, perkembangan di Hijaz, Ibnu Sa’ud berhasil mengusir Syarif Husein dari Makkah. Pemimpin Wahabi pada masa itu mulai melakukan pembersihan dalam kebiasaan praktik beragama sesuai dengan ajarannya.

Baca Juga:  Ini Alasan Kenapa Kita Harus Memilih Menjadi Warga NU?

K.H. Wahab Hasbullah berencana untuk mendirikan organisasi pembela mazhab Ahlu as-Sunnah wa al-Jama’ah, kemudian muncullah ide untuk mendirikan perkumpulan tersendiri guna memperjuangkan aspirasi tersebut.

Ide K.H. Wahab Hasbullah itu kemudian disampaikan kepada Hadhratus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari yang kala itu merupakan sesepuh umat Islam Indonesia khususnya di pulau Jawa.

Ide untuk mendirikan perkumpulan tersebut menurut K.H. Hasyim Asy’ari harus dikaji secara mendalam, karena bisa berkonotasi memecah belah persatuan umat. Kemudian sebelum menyetujuinya, beliau menjalankan shalat istikharah, memohon agar mendapat petunjuk dari Allah.

Petunjuk tersebut justru muncul melalui Syaikh Klalil Bangkalan (merupakan guru dari K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Wahab Hasbullah, dan K.H.R. As’ad Syamsul Arifin), yang mengirimkan sebuah tongkat miliknya beserta tulisan ayat al-Quran surat Thaha: 17-23 yang menceritakan mukjizat Nabi Musa a.s, melalui K.H.R. As’ad Syamsul Arifin untuk diberikan kepada K.H. Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng, Jombang.

Selanjutnya di tahun 1925, Syaikh Khalil Bangkalan juga mengirimkan tasbih miliknya lengkap dengan bacaan Asmaul Husna’ (Ya Jabbar, Ya Qahhar dibaca 3x sesuai pesan gurunya) kepada K.H. Hasyim Asy’ari melalui K.H.R. As’ad Syamsul Arifin yang di kalungkan di leher beliau.

Baca Juga:  Nahdlatul Ulama dan Masa Depan Sumber Daya Energi Indonesia

Dalam perjalanan, beliau sama sekali tidak menyentuhnya dengan tangan hingga sampai pada yang dituju, beliau mempersilakan K.H. Hasyim Asy’ari sendiri untuk melepas tasbih tersebut.

Singkat cerita, akhirnya lahirlah suatu organisasi yang diberi nama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama). Nahdlatul Ulama ini lahir tepatnya pada tanggal 31 Januari 1926, dengan Rois Akbar Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Lalu, KH. Ridwan Abdullah diberi kepercayaan untuk membuat lambang organisasi Nahdlatul Ulama.

Lambang bergambar bola dunia dilingkari seutas tampar dan sembilan bintang, diciptakan oleh Kiai Ridwan berdasarkan mimpi setelah melakukan shalat Istikharah menjelang muktamar pertama Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 di Surabaya.

Nahdlatul Ulama adalah Jamiyyah Diniyyah Islamiyyah (Organisasi Sosial Keagamaan Islam) yang didirikan oleh para ulama pesantren yang tidak hanya memegang teguh salah satu dari mazhab empat yang berhaluan Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah ‘ala mazhahib al-Arba’ah.

Namun juga memperhatikan masalah-masalah sosial, ekonomi, perdagangan dan sebagainya dalam rangka pengabdian kepada bangsa, negara dan umat manusia.

Baca Juga:  Sunan Bonang, Seorang Seniman yang Mengharmoniskan Seni-Budaya Jawa dengan Islam

Penyematan gelar ulama dalam tradisi Nahdlatul Ulama tidak sembarang orang yang paham ilmu agama, melainkan seseorang tersebut baru disebut ulama jika ia memiliki kedalaman ilmu agama dan pernah menempuh jalur pendidikan (mengaji) di pesantren.

Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat pentingnya peran ulama yang multifungsi. Pada suatu saat ia berfungsi sebagai dinamisator masyarakat, namun pada saat yang sama ia berperan sebagai stabilisator.

Begitulah sejarah singkat mengenai berdirinya Nahdlatul Ulama di Indonesia. Sebagai Nahdliyyin, hendaknya kita mengetahui bagaimana NU muncul dan berkembang di Indonesia untuk menjadi semangat bagi kita semua.

Mohammad Mufid Muwaffaq