Rithah al Hamqa, Wanita Pemintal Benang yang Dikisahkan dalam Al-Quran

Rithah al Hamqa

Pecihitam.org – Ooooh ibu..usiaku sudah lanjut, namun belum datang seorang pun pemuda yang mau meminangku. Apakah aku akan menjadi perawan seumur hidupku?” Kira-kira begitulah keluhan seorang gadis Mekkah yang bernama Rithah Al Hamqa berasal dari Bani Ma’zhum.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hari-harinya diliputi kesedihan karena jodohnya tak kunjung tiba. Padahal Rithah adalah wanita yang cukup jelita dan juga banyak harta. Namun tetap saja sampai usianya telah lanjut tak ada pria yang bersedia meminangnya.

Hingga setiap hari ia memandangi cermin dan bertanya-tanya adakah yang salah dengan dirinya. Mengapa sampai di usianya yang tidak bisa dibilang muda lagi, belum juga ada seseorang yang berniat menikahinya.

Melihat kegelisahan putrinya, sang ayah, Umar, pun bertekad menemukan seorang laki-laki yang mau menikahi anaknya. Dia berjanji akan mengunjungi berhala-berhala setiap hari untuk mendoakan Rithah.

Memberikan dirham yang banyak kepada penjaganya dan melumuri kedua kaki berhala itu dengan darah kambing yang gemuk. Namun, sekian lama para berhala itu tak kunjung mengabulkan doanya.

Kondisi itu juga mengusik ibunya. Suatu hari sang ibu menemui seorang ahli nujum di biaranya yang terletak di Thaif. Sang ibu menyelipkan sekerat emas ke tangan ahli nujum itu agar dia mau membaca masa depan anaknya.

Ahli nujum tersebut kemudian meramal bahwa dalam waktu dekat Rithah akan menikah. Seorang laki-laki akan datang untuk meminangnya pada bulan purnama. Namun, sayangnya purnama demi purnama datang dan pergi, namun sang pria yang dijanjikan tidak pernah datang dan ramalan itu tidak terbukti.

Usia Rithah pun semakin tua. Tahun demi tahun berlalu dengan amat sangat lambat dalam hidupnya. Musim demi musim dijalaninya dengan penantian yang tak berujung. Bahkan hingga orang tuanya meninggal, Rithah belum juga mendapat pasangan. Ia kesepian dan kini satu-satunya yang Rithah miliki hanyalah harta warisan.

Tak ada yang bisa menyibukkan hari-harinya. Hartanya terlalu banyak hingga membuat Rithah tak perlu bekerja. Ia pun tak punya sahabat untuk dikunjungi. Setiap hari yang ia lakukan hanyalah menunggu seorang pria mengetuk pintu rumahnya. Namun ratusan bahkan ribuan hari berlalu, terasa sia-sia belaka. Hingga usianya pun tak lagi muda.

Baca Juga:  Mukjizat-Mukjizat Nabi Musa AS dalam Kisah yang Terdapat dalam Al-Quran

Setelah menjadi perawan tua, tiba-tiba seorang kerabatnya dari Bani Tamim mengunjunginya. Bukan kunjungan biasa, sang kerabat membawa serta seorang pria muda bernama Sukhr yang akan melamar Rithah.

Betapa girang hati Rithah. Penantian panjangnya telah terjawab, kesendiriannya akan berakhir sudah. Rithah pun menikah dengan Sukhr dan menjadi wanita paling bahagia. Ia kemudian menemui berhala-berhala di Ka’bah untuk mempersembahkan korban sebagai bentuk rasa syukurnya.

Namun ternyata kebahagiaan Rithah hanya sekedipan mata. Suaminya tiba-tiba menghilang bak di telan bumi. Sukhr kabur membawa harta yang sangat banyak milik Rithah. Ia pun lantas mencari suaminya. Namun ternyata Sukhr telah diusir oleh masyarakat kampungnya karena berbuat jahat bersama sekumpulan pemuda.

Dalam hatinya, tak masalah jika suaminya adalah seorang penjahat, asalkan ia tak hidup seorang diri. Rithah pun mencari dan terus mencari. Setelah sekian lama mencari, ia pun bertemu dengan Sukhr suaminya.

Namun betapa menyakitkan hati, ternyata Sukhr justru menolak kembali, dengan alasan Rithah terlalu tua untuk dirinya. Sukhr mengaku menikahi Rithah hanya karena ingin mengambil hartanya saja.

Mendengar itu, betapa hancur hati Rithah. Ia pulang ke rumahnya untuk kembali menjadi seorang wanita yang kesepian. Hari demi hari berlalu, Rithah menyendiri di rumahnya yang megah dengan harta yang tak kunjung habis meski sudah banyak yang dicuri oleh suaminya.

Setiap hari Riithah hanya bisa meratapi jalan hidupnya. Ia menangis siang dan malam tanpa henti. Hingga suatu hari, Rithah memegang alat pintal benang milik ibunda. Ia kemudian memintal benang dengan alat tersebut.

Baca Juga:  Abu Nawas: Cara Menghitung Bulu Ekor Keledai

Keesokan harinya, Rithah nampak tak lagi berduka. Ia pergi ke pasar membeli banyak benang dan memanggil beberapa gadis desa ke rumahnya untuk memintal benang bersama.

Para gadis itu dibayarnya sekian dirham untuk memintal benang. Demikian hari demi hari para gadis bekerja memintal benang untuk Rithah. Setiap hari mereka selalu datang ke rumah Rithah dan menemaninya.

Hasil pintalan itu tak pernah ia jual ataupun ia kenakan pribadi. Karena ternyata setiap malam, Rithah selalu mengurai benang yang telah dipintal kencang. Keesokan harinya, ia bersama para gadis memintalnya kembali. Namun malam hari Rithah akan menguraikan benang itu lagi dan lagi. Demikianlah aktivitas Rithah sehari-hari.

Ia telah kehilangan akal sehatnya. Duka dan kesepiannya membuat Rithah menjadi wanita bodoh lagi gila. Ia pun kemudian dikenal sebagai Rithah Al Hamqa yang berarti Rithah si Bodoh.

Meski demikian, kisah Rithah al Hamqa ini masih diperdebatkan keshahihannya oleh para ahli tafsir. Mereka berbeda pendapat mengenai kisah wanita pemintal benang yang disebut dalam Al Qur’an sebagai sebuah perumpamaan yang sangat indah. Allah Swt berfirman,

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِى نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَٰنَكُمْ دَخَلًۢا بَيْنَكُمْ أَن تَكُونَ أُمَّةٌ هِىَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ ٱللَّهُ بِهِۦ ۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ مَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.

Lantas apa kata para mufasir mengenai ayat ini?

Abdullah bin Kathir dan As-Suddi mengomentari ayat diatas: “Ayat ini adalah mengenai kisah seorang perempuan bodoh di Makkah. Tiap kali dia memintal benang dan menjadikannya kuat, dia mengurainya lagi.” Itulah mengapa Rithah kemudian dijuluki al-Hamqa, si bodoh.

Baca Juga:  Inilah Penyebab Kesombongan Qarun yang Bisa Kita Ambil Hikmahnya

Sedangkan Mujahid, Ibnu Qatadah, dan Ibnu Zayd berbeda pendapat. “Ayat ini adalah mengenai orang yang menepati perjanjian yang telah disepakati.”

Beberapa mufasir lebih menyepakati pemahaman kedua mengingat kaitannya dengan lanjutan kalimat berikutnya.

Sementara itu, Ibnu Abu Hatim meyakini kisah mengenai perempuan stres gara-gara cinta itu memang terjadi, namun dengan nama yang berbeda.

Hatim memaparkan sebuah hadis darri Abu Bakar bin Abu Hafsah yang menceritakan bahwa ada seorang perempuan yang dikenal dengan nama Saidah al-Asadiyah. Ia adalah wanita yang gila, pekerjaan sehari-harinya hanyalah mengumpulkan rambut dan serat-serat.

Sebetulnya tak masalah apakah kisah mengenai perempuan Makkah pada masa jahiliah yang frustrasi dengan pemintalan benang itu benar terjadi atau tidak. Karena setidaknya kisah si wanita pemintal benang bisa menjadi perumpamaan bagi dua perkara.

Pertama yakni tentang kaum yang melakukan perjanjian dengan Rasulullah agar tak melanggarnya. Kedua yakni umat Islam yang telah beribadah dan melakukan banyak amalan di siang hari, hendaknya jangan merusaknya dan menyiakannya dengan melakukan maksiat di malam hari. Sebagaimana Rithah al Hamqa si wanita bodoh yang mengurai benang yang telah dipintalnya kuat-kuat.

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik