Empat Terminologi Ruh Menurut Imam Ghazali

Ruh Menurut Imam Ghazali

Pecihitam.org – Manusia terdiri dari dua bagian, ruh dan jasad. Ruh adalah bagian bathin sedangkan jasad adalah bagian dzahir. Ruh berasal dari taman indah yang berasal dari keharibaan al-hadrah al-quds, sedangkan jasad berasal dari tanah liat dan segumpal darah. Pengertian rohani sebenarnya merujuk pada realitas manusia, dan esensinya berasal dari alam malakut dan al-amr. Untuk lebih jelasnya, akan dibahas 4 terminologi ruh menurut Imam Ghazali:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

1. Unsur Qalb

Qalb menurut pandangan Imam Ghazali terbagi menjadi dua pengertian, yaitu:

Pertama, Qalb adalah sebuah daging yang berada dalam tubuh yang tepatnya sebelah kiri dari dada Qalb berupa daging khusus berada dalam batin manusia tepatnya dalam sebuah rongga yang dipenuhi oleh gumpalan darah hitam.

Qalb ini adalah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT kepada makhluknya baik hewan maupun manusia. Adapun perbedaan antara Qalb manusia dan hewan yaitu Qalb manusia dapat berfungsi dan dapat bekerja serta hidup, sedangkan Qalb hewan tidak berfungsi dan dapat dikatakan mati untuk kelangsungan hidupnya hewan dianugrahkan oleh Allah suatu insting, sedangkan manusia menggunakan Qalb untuk kelangsungan hidupnya.

Kedua, Qalb adalah suatu yang lembut yang dianugerahkan Allah yang menjadi hakekat manusia dan dengan Qalb ini manusia dapat membedakan antara alim dan arif. Qalb inilah yang menunjukkan, menentukan sesuatu yang akan dilakukan oleh manusia baik perbuatan yang baik maupun yang buruk.

Sehingga kehidupan manusia dan Qalb juga yang menjadikan sifat manusia seperti binatang bahkan lebih rendah dan dapat juga menjadikan derajat manusia seperti malaikat bahkan lebih tiggi dan Qalb ini pula mempunyai hubungan dengan Qalb jasmani.

Baca Juga:  Tanda Jidat Hitam, Benarkah Atsaris Sujud (Bekas Sujud)?

Qalb adalah penguasa perbuatan manusia baik syahwat dan juga marah seperti berbohong, bermusuhan, membunuh dan setiap pekerjaan yang tercela. Dari sinilah Qalb mempunyai peran penting untuk mencegah perbuatan yang tercela tersebut.

Seperti halnya pemerintahan yang mana seorang khalifah mempunyai kekuasaan atas semua wazir-wazirnya dan apabila terdapat penyimpangan dari wazir tersebut maka khalifat akan dilepas jabatannya begitu juga dengan Qalb. Jadi Qalb mempunyai fungsi yang amat penting dalam perbuatan-perbuatan manusia baik yang mulia maupun yang tercela.

2. Unsur Ruh

Pembahasan tentang ruh adalah suatu pembahasan yang berkaitan dengan badan atau tubuh, dalam pembahasan ruh Ghazali membagi pengertian ruh menjadi dua bagian yaitu:

Pertama, Ruh adalah suatu yang lembut bersumber dari rongga hati jasmani manusia kemudian tersebar keseluruh pokok-pokok dari bagian tubuh yang menerangi cahaya kehidupan dan panca indera.

Seperti pelita yang menerangi ruangan dalam suatu rumah maka cahayanya akan menerangi setiap sudut dari rumah tersebut lalu menjadikan suatu rumah terang benderang karena cahaya yang diberikan pelita. Begitu pula halnya dengan tubuh yang selalu diterangi oleh cahaya ruh yang bersih dan terang.

Kedua, Ruh adalah suatu kelembutan ilmu yang terdapat dalam diri manusia karena dengan ruh inilah manusia menjadi seorang yang berilmu dan orang yang bisa membedakan antara baik buruk yang kemudian fungsi ruh adalah memberikan petunjuk melalui cahayanya yang selalu menerangi dalam tubuh sehingga manusia mengetahui dan mencapaima’rifatullah.

Mungkin al-ghazali ingin menerangkan bahwa ruh adalah hal yang paling penting dalam jasad, karena ruh merupakan cahaya yang menerangi jasad, jasad tanpa ruh bagaikan pohon tanpa buah, dan seperti computer tanpa prossesor.

3.Unsur Nafs 

Dalam pembahasan Nafs Ghazali membagi arti menjadi dua:

Baca Juga:  Telaah Hadits 72 Bidadari Surga yang Jadi Hadits Primadona Para “Mujahid”

Pertama, Nafs adalah kekuatan amarah dan syahwat dalam diri manusia yang kebanyakan diartikan dalam ilmu tasawuf bahwa Nafs adalah suatu sifat yang tercela dalam diri manusia. Karena dengan Nafs-lah manusia dapat terjerumus dalam perbuatan yang tercela dan dengan Nafsnya pulalah manusia dapat menjadi seorang yang mempunyai sifat yang terpuji.

Seperti orang yang sering berbuat kehinaan adalah orang yang mengikuti Nafs syahwatnya sedangkan orang yangterpuji adalah orang yang dapat mengendalikan sifat yang terpuji.

Kedua, Nafs adalah kelembutan dalam suatu hakekat manusia Nafs manusia dan dzat manusia mempunyai sifat yang bermacam-macam sesuai dengan keadaan manusia apabila dalam suatu permasalahan Nafs syahwat dapat terkendali maka disebut Nafs mut’mainnah.

Apabila dalam suatu permasalahan manusia berada jauh atau tidak terdapat sifat Allah dan bukan merupakan Nafs dari Allah melainkan Nafs yang datang dari ajakan golongan setan maka disebut dengan Nafs lawwamah. Sedangkan manusia yang mengedepankan Nafs dan syahwatnya dalam suatu permasalahan dan mengikuti ajakan setan maka Nafs ini disebut Nafs amrotu bissu’. 

4.Unsur ‘Aql 

Dalam pandangan akal, Ghazali juga membaginya menjadi dua:

Pertama, akal adalah segala sesuatu permasalahan yang menimbulkan ilmu pengetahuan yang berada dalam hati. Jadi hakekat akal adalah hati sebagaimana disebutkan dalam al-qur’an “Qulubun La Ya’qilun”.

Dengan demikian jelaslah bahwa akal terdapat dalam hati setiap manusia dimulai dari permasalahan dalam otak dan kemudian dipikirkan dalam hati dan berakhir dengan perbuatan.

Kedua, kelembutan yang diawali dengan ilmu-ilmu pengetahuan dalam hati kemudian direalisasikan dalam kehidupan sehingga orang yang berilmu akan mengetahui dan sadar bahwa dalam dirinya terdapat suatu wujud yang berdiri sendiri dan didalam wujud tersebut mempunyai sifat dan tidak disifati.

Baca Juga:  Perempuan yang Tidak Berhijab Tapi Rajin Sholat, Bagaimana Menurut Islam?

Akal adalah gambaran hasil kepercayaan yang diperoleh dari Nafs dengan fitrah dan juga ilmu yang didapat secara berusaha, dari hasil usaha inilah maka akan mencapai suatu ilmu yang dapat diterima oleh akal. 

Menurut Imam Ghazali akal adalah suatu jembatan untuk mencapai suatu ilmu sedangkan ilmu adalah satu dan tidak terbagi ataupun menempati suatu ruang, karena apabila ilmu menempati ruang maka ilmu akan musnah dan tidak dapat terbagi karena apabila ilmu terbagi maka akan hilang sebagian dan akan abadi sebagian yang lain.

Pada hakikatnya keempat dimensi diatas merujuk pada satu realitas, yaitu esensi manusia yang berupa substansi spiritual yang tidak terbagi dan identik dengan ruh. Terminologi menurut Imam Ghazali di atas lebih merujuk kepada kondisi yang dihadapi oleh ruh, yaitu:

  • Pada saat ia sedang melakukan proses berfikir yang disebut ‘aql.
  • Pada saat ia mengatur tubuh jasmaninya ia disebut nafs.
  • Pada saat ia bertindak sebagai organ kognitif yang dapat menerima iluminasi intuitif maupun maupun pemberian Ilahiyyah yang lain disebut qalb
  • Pada saat ia menghadap ke alamnya sendiri, yaitu alam entitas-entitas abstrak, ia disebut ruh.

Demikianlah empat terminologi ruh menurut Imam al Ghazali, semoga semakin menanmbah khazanah keilmuan dan keimanan kita bersama. Wallahua’lam bisshawab.

Sumber

  • Sayyid Muhammad bin Muhammad Al-Husaini, Ittihaf
  • Imam Ghazali, Ihya’  Ulumuddin, juz III