Semua Tentang Sedekah: Mulai dari Pengertian, Hukum, Hikmah Hingga Keutamaannya

Sedekah

Pecihitam.org Manusia merupakan mahluk sosial. Oleh karenanya, manusia tidak akan terlepas dari yang namanya saling membutuhkan. Misalnya yang kaya butuh yang miskin , sementara yang miskin juga membutuhkan yang kaya. Pendeknya, manusia harus saling membantu. Salah kanal yang Islam sediakan untuk bisa membantu sesama adalah melalui sedekah.

Berkaitan dengan sedekah, maka kita sebagai manusia, harus ingat bahwa masih banyak orang di luar sana yang tidak seberuntung kita. Untuk itu kita perlu peduli antar sesama, peduli yang dimaksud adalah memberi atau bersedekah.

Agar lebih memhami tentang sedekah, maka kami jelaskan dibawah ini tentang sedekah secara detail.

Pengertian Sedekah

Secara Bahasa

Secara bahasa, sedekah berasal dari bahasa Arab, shadaqah yang secara bahasa berarti tindakan yang benar. Pada awal pertumbuhan Islam, sedekah diartikan sebagai pemberian yang disunahkan. Tetapi, setelah kewajiban zakat, termasuk zakat fitrah disyariatkan dalam Al-Qur’an sering disebutkan dengan kata shadaqah maka shadaqah mempunyai dua arti.

Pertama, shadaqah sunah atau tathawwu’ (sedekah) dan wajib (zakat). Sedekah sunah atau tathawwu’ adalah sedekah yang diberikan secara sukarela (tidak diwajibkan) kepada orang (misalnya orang yang miskin/pengemis), sedangkan sedekah wajib adalah zakat. Kewajiban zakat dan penggunaanya telah dinyatakan dengan jelas dalam Al-Qur’an dalam Surat At-Taubah ayat 60

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Secara Istilah

Sedangkan secara syara’ (terminologi), sedekah diartikan sebagai sebuah pemberian seseorang secara ikhlas kepada orang yang berhak menerima yang diiringi juga oleh pahala dari Allah.

Contoh, memberikan sejumlah uang, bahan pangan atau benda-benda lain yang bermanfaat kepada orang lain yang membutuhkan. Berdasarkan pengertian ini, maka yang namanya infak (pemberian atau sumbangan) termasuk dalam kategori sedekah.

Dasar Hukum Sedekah

Dibawah ini kami sajikan dasar hukum sedekah baik yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun hadis

Dalam Al-Quran

Ada banyak ayat yang hampir tersebar dalam seluruh surat Al-Qur’an yang membahas tentang tema sedekah. Di sini, kami kutipkan beberapa di antara

Surat Al-Hajj ayat 93

الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka (QS Al Hajj ayat 93)

Baca Juga:  Bolehkah Menyedekahkan Sesuatu yang Masih Dibutuhkan Menurut Ajaran Islam?

QS. Al-Baqarah ayat 195

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah :195)

Dalam Hadis

Dalam hadis pun banyak terdapat riwayat yang membicarakan tentang sedekah, baik yang berupa anjuran maupun penjelasan tentang keutamaannya, baik yang sharih menggunakan kalimat sedekah maupun kalimat lain yang semakna.

Di sini saya kutipkan dua diantaranya

Riwayat Imam Muslim

Riwayat ini menjelaskan tentang janji atau jaminan dari Allah bahwa Dia akan senantiasa menolong hamba-Nya selagi ia menolong saudaranya seiman.

وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْه

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”. (HR. Muslim)

Riwayat Ibnu Majah

خِيَارُكُمْ مَنْ اَطْعَمَ الطَّعَامَ

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang mampu memberi makan (kepada orang yang membutuhkannya).”

Hadits ini mengandung pengertian tentang keutamaan memberikan makan kepada orang yang membutuhkan. Dan orang yang semacam ini digambarkan sebagai manusia terbaik karena bisa bermanfaat kepada orang lain

Harta Yang Paling Utama untuk Sedekah

Harta yang paling utama untuk disedekahkan adalah kelebihan dari usaha dan hartanya untuk kebutuhan sehari-hari. Sebaliknya, jika memberikan sedekah dari harta yang masih dikategorikan kurang untuk memenuhi kebutuhan sendiri, lebih baik untuk tidak bersedekah.

Sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadist riwayat Imam Bukhari

خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى ، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

“Sedekah yang terbaik adalah yang dikeluarkan selebih keperluan, dan mulailah dari orang yang kamu tanggung.” (HR. Bukhari)

Kaya pada hadist diatas tidak berarti kaya dalam materi, tetapi orang yang kaya hati, yakni sabar atas kefakiran. Ada hadist yang menyebutkan “Cukup bagi seseorang dikatakan dosa apabila menghilangkan makanan pokoknya”. (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i dari Abu Hurairah).

Kepada Siapa Bersedekah?

Pada dasarnya sedekah dapat diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan, namun ada beberapa kelompok orang yang lebih utama yaitu kepada keluarga yang paling membutuhkan.

Dalam hal ini, keluarga yang jauh hendaklah didahulukan dari tetangga yang bukan keluarga. Karena selain sedekah, pemberian itu akan saling mempererat hubungan silaturahmi. Jadi sedekah kepada keluarga, terlebih orang tua kita akan mendapatkan pahala ganda; pahala sedekah dan pahala silaturrahmi.

Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya (QS Al-Baqorah : 215)

Dari penjelasan diatas, maka dapat dikerucutkan bahwa yang paling utama bersedekah, yaitu sedekah kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak yatim, orang miskin dan kepada musafir.

Sedekah yang Tidak Dibolehkan

Sedekah hukumnya dibolehkan selama benda yang disedekahkan itu adalah milik sendiri dan benda itu dari segi zatnya suci dan diperoleh dengan cara yang benar, meskipun jumlahnya sedikit.

Maka jika barang itu statusnya milik bersama atau orang lain, maka tidak sah benda itu untuk disedekahkan karena barang yang disedekahkan harus di dasari oleh keikhlasan dan kerelaan dari pemiliknya.

Baca Juga:  Mau Pahala Sedekah Anda Melimpah? Berikanlah Kepada Orang Ini

Berkaitan dengan ini, maka tidak boleh seorang istri menyedekahkan harta suaminya kecuali ada izin darinya. Tetapi, jika telah berlaku kebiasaan dalam rumah tangga seorang istri boleh menyedekahkan harta tertentu seperti makanan, maka hukumnya boleh tanpa minta izin kepada suaminya terlebih dahulu.

Demikian halnya, haram pula menyedekahkan benda yang secara zat dihukumi haram seperti babi, dan anjing. Atau barang itu diperoleh dengan cara yang diharamkan seperti mencuri, merampok atau korupsi. Karena hal itu bukan miliknya secara sah, dan Allah juga tidak menerima sedekah dari yang haram atau bersumber dari cara yang haram.

Sebagaimana hal ini ditegaskan sebuah hadist riwayat Imam Muslim

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا 

“Sesungguhnya Allah Mahasuci, tidak menerima kecuali yang suci pula” (HR. Muslim)

Sedekah Orang yang Memiliki Utang

Disunatkan bagi orang yang memiliki utang tidak memberikan sedekah. Lebih baik baginya membayar utang. Menurut ulama Syafi’iyah, haram hukumnya memberikan sedekah bagi orang yang memiliki utang atau tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Mereka berpendapat bahwa mebayar utang adalah wajib, maka tidak boleh meninggalkan yang wajib untuk melaksanakan hal yang sunnah.

Sedekah dengan Uang Haram

Menurut ulama Hanafiyah, sedekah dengan harta yang haram Qath’i, seperti daging bangkai atau hasilnya dipakai membangun mesjid dengan harapan akan mendapat pahala atau menjadi halal adalah kufur sebab meminta halal dari suatu kemaksiatan adalah kufur.

Akan tetapi, tidak dipandang kufur, jika seseorang mencuri uang Rp. 100.000 kemudian mencampurkan dengan hartanya untuk disedekahkan. Namun demikian, tetap tidak dapat dimaafkan sebelum uang curian tersebut diganti.

Allah SWT berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Yang Merusak Pahala Sedekah

Ada beberapa perkara yang dapat menghilangkan pahala sedekah, diantaranya adalah:

  1. Riya (memamerkan) artinya memperlihatkan sedekah kepada orang lain karena ingin dipuji. Bersedekah jika ada orang tetapi jika dalam keadaan sepi ia tidak mau bersedekah.
  2. Menyakiti perasaan orang menerima sedekah. Poin 1 dan 2 sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 262 yang artinya “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Bentuk-bentuk Sedekah

Dalam Islam, sedekah tidak selalu harus dengan yang berbentuk materi, tetapi mencakup semua kebaikan baik bersifat fisik maupun non fisik.

Berdasarkan hadist, para ulama membagi menjadi sepuluh yang termasuk katagori sedekah:

  1. Berbuat baik dan menahan diri dari kejahatan.
  2. Berlaku adil dalam mendamaikan orang yang sedang bersengketa.
  3. Membantu orang lain yang akan menaiki kendaraan yang akan ditumpanginya.
  4. Membantu mengangkat barang orang lain kedalam kendaraannya.
  5. Menyingkirkan benda-benda yang mengganggu dari tengah jalan seperti duri, batu, kayu.
  6. Melangkahkan kaki ke jalan Allah.
  7. Menngucapkan zikir seperti tasbih, takbir, tahmid, tahlil dan istighfar.
  8. Menyuruh orang lain berbuat baik dan mencegahnya dari kemungkaran.
  9. Membimbing orang buta, tuli dan bisu serta menunjuki orang yang meminta petunjuk tentang sesuatu seperti alamat rumah.
  10. Memberikan senyuman kepada orang lain.
Baca Juga:  Bolehkah Bersedekah kepada Orang Tua, Bagaimana Ketentuannya?

Hikmah Sedekah

Sedekah memiliki nilai sosial yang tinggi. Orang yang bersedekah dengan ikhlas, ia bukan hanya mendapatkan pahala tetapi juga memiliki hubungan sosial yang baik.

Hikmah yang dapat dipetik ialah sebagai berikut:

  1. Orang yang bersedekah lebih mulia dibanding orang yang menerimanya sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist “Tangan diatas lebih baik dari tangan yang di bawah”.
  2. Mempererat hubungan sesama manusia terutama kepada kaum fakir miskin, menghilangkan sifat bakhil dan egois, dan dapat membersihkan harta serta dapat meredam murka Tuhan.
  3. Orang yang bersedekah senantiasa didoakan oleh kedua malaikat, sebagaimana hadist yang artinya “Tidaklah seorang laki-laki berada dipagi hari kecuali dua malaikat berdoa, Ya Allah berilah ganti orang yang menafkahkan (menyedekahkan) hartanya dan berikanlah kehancuran orang yang menahan hartanya”. (HR. Bukhari-Muslim).

Keutamaan dan Manfaat Sedekah

Berikut adalah keutamaan dan manfaat dari bersedekah

Amalan yang Utama

Umar Bin Khathtab pernah berkata: “Sesungguhnya amalan-amalan itu saling membanggakan diri satu sama lain, maka sedekahpun berkata (kepada amalan- amalan lainnya),’Akulah yang paling utama diantara kalian.”

Melindungi dari Bencana

Rasulullah SAW pernah bersabda seperti dibawah ini: “Obatilah orang sakit diantara kalian dengan sedekah.”

Pahalanya Berlipat Ganda

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Baqarah:261)

Menghapus Dosa dan Kesalahan

Rasul SAW bersabda: “Bersedekahlah kalian, meski hanya dg sebiji kurma. Sebab, sedekah dapat memenuhi kebutuhan orang yang kelaparan, dan memadamkan kesalahan, sebagaimana air memadamkan api.”

Beliau juga menasehatkan kepada para pedagang: “Wahai sekalian pedagang,sesungguhnya setan dan dosa menghadiri jual beli kalian, maka sertailah jual beli kalian dengan sedekah.”

Menjadikan Harta Berkah dan Terus Berkembang

Allah SWT berfirman: “Katakanlah,’Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rejeki bagi siapa yg dikehendaki diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yg dikehendaki-Nya). Dan apa yg kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rejeki sebaik-baiknya.” (QS. Saba’ ayat 39)

Pahalanya Terus Mengalir

Rasul SAW bersabda: “Pahala amalan dan kebaikan yg bakal menghampiri seorang mukmin sepeninggalnya—Beliau menyebutkan diantaranya–,(yakni)musyaf yg ia tinggalkan,masjid yg ia bangun,rumah untuk orang yg dalam perjalanan yg ia bangun, sungai yg ia alirkan, atau sedekah yg ia keluarkan dari hartanya dikala sehat dan hidupnya, maka ia akan bakal menghampirinya sepeninggalnya.”


Dari uraian diatas, maka jelas sekali bahwa sedekah memiliki banyak ke utamaan , dan dari beberapa ke utamaan ini akan menjadi motopasi bagi kita agar kita gemar bersedekah”

Demikianlah penjesan tentang sedekah, yang mana ia tidak akan menghilangkan harta selama kita di dunia, tapi dengan bersedekah kita akan mendapatkan pahala yang paling mulia diakhirat nanti. Maka dari itu perbanyaklah bersedekah selagi kita masih hidup di dunia, karena sedekah dapat menyelamatkan kita dari api neraka diakhirat nanti.

Semoga kita sama-sama dapat mempraktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan semoga selaga amal ibadah yang kita lakukan akan tercatat hingga menjadi bekal kita nanti. Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam bisshawab.

Faisol Abdurrahman
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG