Pondok Pesantren Al-Huda Jetis; Pesantren Tertua Kedua di Kebumen

Pondok Pesantren Al-Huda Jetis; Pesantren Tertua Kedua di Kebumen

PeciHitam.org – Kebumen merupakan salah satu daerah yang menjadi pelopor didirikannya pondok pesantren di Indonesia. Tercatat, Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu yang sudah didirikan sejak tahun 1475 Masehi. Kemudian, setelah lebih dari tiga abad kemudian, lahirlah Pondok Pesantren Al-Huda Jetis, yang terletak di desa Kutosari, Kebumen.

Pendirinya ialah KH. Abdurrohman, yang memiliki nama kecil Sholihin. Pesantren al-Huda Jetis Kutosari Kebumen didirikan pada tahun 1801 M. Ada juga sumber yang mengatakan bahwa Pesantren al-Huda Jetis didirikan pada tahun 1880 M. Hal ini berdasarkan tulisan tahun pada kayu kerangka bagian atas bangunan mushala.

Sholihin muda merupakan anak seorang petani biasa dan kegiatan sehari-harinya ialah mengembala kerbau milik pamannya. Seperti lazimnya ulama terdahulu yang menghabiskan masa mudanya untuk menuntut ilmu di Makkah Madinah. Ketika Sholihin beranjak remaja, beliau juga pergi ke Kota Mekkah untuk menuntut ilmu.

Di Makkah, beliau belajar ilmu Tasawuf kepada Syaikh Sulaiman Zuhdi, tepatnya di Jabal Qubais. Pada waktu itu, Mekkah memang sudah dikuasai oleh ulama-ulama Wahabi. Menurut beberapa keterangan, di Mekkah sempat terjadi kerusuhan.

Sebagai mayoritas, kelompok Wahabi selalu meneror dan memerangi orang-orang Sunni lainnya. Ketika hal ini terjadi, Sholihin memutuskan untuk kembali ke tanah airnya, Indonesia.

Berbekal ilmu yang telah diperolehnya dari Makkah, beliau kemudian menyebarkan ilmunya kepada masyarakat setempat. Hal ini mengundang kecurigaan tentara Belanda, sebab kediamannya selalu ramai dan tertutup. Seolah beliau hendak mengatur strategi untuk memberontak.

Baca Juga:  Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan; Tempat Menempuh Ilmu Ulama Besar Indonesia

Oleh karena itu, beliau kemudian ditangkap dan diintrogasi. Namun karena tidak adanya bukti yang kuat, maka dibebaskan kembali dengan syarat harus pindah dari desa Ambal, daerah asalnya.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar bahwa Bupati Kebumen kala itu sedang membutuhkan seorang Kyai untuk ditempatkan di sekitar wilayah pemerintahan.

Diajukanlah nama Sholihin tersebut. Beliau kemudian ditempatkan di daerah Jetis, yang dulunya masih berupa hutan belantara dan belum pernah terjamah oleh manusia. Sebab, konon daerah Jetis adalah daerah yang amat angker dan dikuasai oleh iblis.

Singkat cerita dengan kemampuan yang dimilikinya, akhirnya dapat membersihkan tempat tersebut agar dapat ditinggali. Di Jetis inilah kemudian namanya diganti menjadi KH. Abdurrohman.

KH. Abdurrohman terkenal dengan penguasaannya dalam bidang ilmu tasawuf. Beliau juga merupakan seorang mursyid Thariqah Naqsyabandiyah Khalidyah. Lambat laun, jamaah thariqahnya pun semakin banyak. Bahkan hingga saat ini jamaahnya telah mencapai lebih dari 10.000 jamaah.

  1. Abdurrohman wafat pada hari Jumat, ketika sedang mengerjakan shalat Shubuh, tepatnya ketika melakukan sujud tilawah. Tongkat kepemimpinan pondok pesantren al-Huda Jetis ini diteruskan oleh putra beliau, yaitu Kyai Husain. Tidak berselang lama, beliau pun wafat dan kepemimpinan dilanjutkan oleh adiknya yaitu KH. Hasbulloh. Mbah Hasbulloh, panggilan akrabnya, beliau memiliki karakter yang sangat disiplin dan bersahaja.
Baca Juga:  Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta; Pesantren Tertua di Surakarta

Singkat cerita, Mbah Hasbulloh pun meninggal ketika sedang bertawajjuh atau menghadapkan diri kepada Allah. Beliau sedang berdzikir secara sirri, dilakukan dengan cara menundukkan kepala dalam-dalam serta mengarah pada titik lathifah qalbi sembari memejamkan mata, mengatupkan bibir. Hal ini biasa dilakukan oleh orang yang mengikuti sebuah thariqah.

Selanjutnya kepemimpinan Pondok Pesantren Al-Huda ini diteruskan oleh putranya yang bernama Mbah Machfudz Hasbulloh. Mbah Machfudz Hasbullah dikenal sebagai seorang yang amat gigih dalam menuntut ilmu, terutama ilmu agama.

Tercatat, beliau pernah mengenyam Pendidikan di Pondok Termas selama 2 tahun. Dilanjutkan ke pondok Bendo, Kediri, yang saat itu diasuh oleh Syekh Khozin.

Beberapa waktu kemudian, beliau dinikahkan dengan salah satu putri beliau yang bernama Nyai Maimunah. Beliau pun dikaruniai 17 putra dan putri. Namun yang hidup hanya 6 putra dan 6 putri, antara lain:

  1. Kyai. Abdul Kholiq
  2. Kyai. Juwaini
  3. Nyai. Umi Kulsum
  4. Nyai. Khasanah
  5. Nyai. Masruroh
  6. Kyai. Makhrus
  7. Nyai. Hayati
  8. Kyai. Muahaimin
  9. Nyai. Siti Ma’rifah
  10. Nyai. Siti Muhayaroh
  11. Kyai. Wahib Machfudz
  12. Kyai. Yazid Macfudz
Baca Juga:  Kelebihan Pesantren yang Tidak Dimiliki Lembaga Pendidikan Lain

Setelah beliau wafat kepemimpinan Pesantren al-Huda Jetis dipegang oleh putra sulungnya yang bernama KH. Abdul Kholiq. Beliau terkenal sebaga seorang kyai yang berkarakter tegas dan sangat disiplin. Setelah beliau wafat, kemudian digantikan oleh adiknya yaitu KH. Wahib Machfudz dan adiknya KH. Yazid Machfudz, yang saat ini menjabat sebagai Bupati Kebumen.

Di bawah kepemimpinan KH. Wahib Mahcfudz, Pondok Pesantren al-Huda Jetis ini memadukan antara tradisi salaf dan khalaf (modern). Dibangunlah beberapa sekolah formal, di antaranya SMP VIP Al-Huda, SMK VIP Al-Huda dan SMA VIP Al-Huda. Hingga saat ini terdapat ribuan santri baik putra maupun putri yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia.

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG