Sejarah Awal Paham Khawarij: Dari Kekecewaan hingga Pembunuhan Ali bin Abi Thalib

Sejarah Awal Paham Khawarij; Dari Kekecewaan hingga Pembunuhan Ali bin Abi Thalib

Pecihitam.org – Sebagaimana kita telah ketahui Perang Siffin yang melibatkan Ali bin AbuTahalib dengan Muawiyah bin Abu Sufyan merupakan pemantik dari munculnya paham Khawarij.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dikisahkan dalam peperangan itu Muawiyah bin Abu Sufyan hampir saja kalah. Namun, mereka mengangkat mushaf pada ujung tombak dan menyerukan penghentian peperangan dengan melakukan tahkim atau arbitrase.

Awalnya Ali bin Abu Thalib tidak mau menerima ajakan ini karena menangkap adanya tipu muslihat di dalamnya. Karena sebagaimana biasanya, setiap orang yang terdesak akan meminta diberhentikannya gencatan peperangan dan mengadakan perundingan.

Tetapi sebagian pasukan Ali bin Abu Thalib mendesak supaya menerima seruan damai itu. Dan karena keadaan terdesak dan demi mementingkan perdamaian antara antara saudara, maka Ali bin Abi Thalib pun menyetujui seruan damai itu.

Tetapi ada juga sebagian di antara pasukan Ali bin Abi Thalib yang tidak suka dan tidak menerima ajakan tahkim itu. Karena mereka menganggap bahwa orang yang mau berdamai ketika sedang terjadi pertempuran adalah orang yang ragu akan pendiriannya, tidak yakin akan kebenaran peperangan yang ditegakkannya.

“Hukum Allah sudah nyata. Siapa yang melawan khalifah yang sah, maka harus diperangi”, tegas mereka.

“Kita berperang demi menegakkan kebenaran dan keadilan agama. Kita berjalan di atas garis yang benar, garis yang dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Kenapa kita mau berhenti berperang sebelum mereka kalah?” begitu tambah mereka.

Baca Juga:  Khawarij Baru Zaman Now: Mereka yang Mudah Mencela dan Menebar Teror

Namun, apa hendak dikata, peperangan sudah berhenti. Kemudian kaum yang tidak menyetujui kesepakatan damai antara Ali dengan Muawiyah ini membenci Ali bin Abi Thalib, karena dianggap lemah di dalam menegakkan kebenaran, sebagaimana mereka juga membenci Muawiyah karena melawan khalifah yang sah.

Kaum inilah yang kemudian dikenal sebagai kaum dengan paham khawarij. Kaum yang keluar, yakni keluar dari barisan pendukung Ali yang mana sebelumnya mereka adalah pendukung yang sangat fanatik. Mereka mempunyai semboyan la hukma illa lillah (Tidak ada hukum kecuali hukum Allah).

Dengan semboyan inilah, kemudian penganut paham khawarij ini menuduh Ali Bin Abi Thalib setelah kafir karena telah melakukan perdamaian dengan Muawiyah.

Menuntut supaya Ali Bin Abi Thalib mengakui kesalahannya sebab menerima tahkim atau mendesak Ali mengakui bahwa ia telah kafir. Mereka mengancam jika Ali bin Abu Thalib tidak mau bertaubat maka mereka akan keluar dan berbalik memusuhi dan memerangi.

Itulah asal mula munculnya paham khawarij. Kemudian dalam perkembangannya mereka menjadi kelompok yang suka membuat onar. Ketika mereka mendapati Ali atau pengikutnya berpidato, maka orang-orang khawarij ini akan berteriak la hukma illa lillah.

Begitu juga kalau mereka mendapati golongan Muawiyah yang berorasi, maka kaum khawarij ini juga akan membuat onar dan berteriak la hukma illa lillah.

Ketika mereka mendapati Ali tetap teguh pada pendiriannya dan tidak mau mengakui kesalahannya, maka kaum khawarij ini pergi meninggalkan Ali. Mereka pergi keluar menuju suatu daerah bernama Harura’. Dan jumlah mereka pada saat itu adalah 12.000 orang.

Baca Juga:  Sepak Terjang Khawarij dan Pergulatan Politik Berujung Kekerasan di Indonesia

Lalu diangkaylahbsalah satu dari mereka untuk menjadi ketua, yaitu Abdullah bin Wahab Ar -Rasyidi. Dari sinilah, kemudian mereka menamakan kelompoknya dengan khawarij. Tetapi dalam anggapan mereka, khawarij ini adalah bermakna orang-orang yang keluar pergi berperang untuk menegakkan kebenaran.

Pemahaman mereka ini didasarkan pada firman Allah di dalam Surah An-Nisa’

وَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ

Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. (QS. An-Nisa’ ayat 100)

Kemudian paham khawarij ini semakin berkembang dan dianggap benar oleh sebagian kalangan ketika Ali bin Abi Thalib gagal karena kelicikan pihak Muawiyah dalam proses tahkim. Dari sinilah, paham khawarij dianggap benar oleh sebagian kalangan umum.

Kaum khawarij terkenal sebagai kaum yang keras, fanatik dan merasa paling benar dan paling Islam. Mereka berjuang mati-matian untuk menegakkan fahamnya dan l melakukan pengorbanan apa saja sampai pada jiwa dan raganya.

Baca Juga:  Menghina Pemimpin Merupakan Ciri Khas Kaum Khawarij

Saking marah dan bencinya kepada Ali bin Abu Tholib, Muawiyah dan Amr bin Ash, kaum khawarij membuat kesepakatan keji untuk membunuh ketiga tokoh dan sahabat utama nabi itu.

Waktu itu Ali bin Abi Thalib sedang berada di Baghdad, Muawiyah di Damaskus dan Amr bin Ash di Mesir. Tiga algojo khusus dikirimkan untuk membunuh tiga tokoh tersebut. Hingga akhirnya Ali bin Abi Thalib mati ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam, tetapi Muawiyah dan Amr bin Ash selamat dari rencana pembunuhan itu.

Begitulah sekilas paham kaum khawarij yang lalu memahami agama dan brutal dalam bersikap. Berawal dari kekecewaan atas proses tahkim hingga perbuatan keji membunuh salah seorang sahabat, menantu Nabi bahkan orang yang dijamin masuk surga, Ali bin Abu Thalib.

Faisol Abdurrahman