Sepak Terjang Khawarij dan Pergulatan Politik Berujung Kekerasan di Indonesia

Pecihitam.org – Khawarij adalah kelompok yang awalnya mengedepankan nilai-nilai keislaman yang ada di dalam al-qur’an, yang kemudian makin berkembang semenjak dipegang oleh seorang ahli fiqh dan ahli Qur’an bernama Ibnu Muljam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sumber pemikiran, sifat dan karakter Khawarij awalnya dari seseorang yang bernama Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim. Awalnya dia telah menuduh Rasulullah SAW tidak adil dalam pembagian harta rampasan perang, ucapannya membuat Umar bin Khattab atau Khalid bin Walid hendak memenggal lehernya, akan tetapi dicegah oleh Rasulullah SAW

Ciri khas Khawarij adalah mengkafirkan pemerintah kaum muslimin dan orang-orang yang bersama pemerintah tersebut (karena melakukan dosa-dosa besar), memberontak kepada pemerintah kaum muslimin, menghalalkan darah dan harta kaum muslimin.

Ibnu Muljam dalam kesehariannya rajin beribadah dan berpuasa. Kesalehan dari Ibnu Muljam tercoreng oleh perilakunya, sebab dia tega membunuh khalifah Ali Bin Abi Thalib dikarenakan kebijakan yang dikeluarkannya pada masa itu.

Hingga pada akhirnya suami dari Fatimah Az Zahra meninggal dunia di tangan saudara seimannya yakni Ibnu Muljam. Ibnu Muljam sempat berteriak pada Ali saat sedang akan mendirikan sholat shubuh di masjid Kufah“ hukum itu milik Allah wahai Ali bukan milikmu dan sahabatmu”.

Perbedaan Pandangan

Ibnu Muljam awalnya merupakan salah satu pendukung Ali bin Abi Thalib, bahkan keduanya pergi berperang dalam perang Jamal melawan Aisyah dan juga mengikuti perang Siffin antara kelompok Ali bin Abi Thalib dengan kelompok Muawiyah.

Baca Juga:  Kenapa Kaum Khawarij Membenci Ali bin Abi Tholib? Ini Alasannya

Seusai perang Siffin terjadi kesepakatan arbitrase antara Ali dan Muawiyah, namun Ibnu Muljam menyatakan ketidak setujuannya dengan beralasan bahwa keputusan tersebut tidak sesuai dengan qur’an dan Rasul SAW.

Ibnu Muljam kemudian berkhianat memisahkan diri dari Ali dan merapat ke barisan Khawarij dengan jargon “la hukma illa Allah” (tidak ada hukum yanh harus ditaati selain hukum Allah).

Motivasi Wanita

Ibnu Muljam kemudian menuju Kufah, disana dia bertemu dengan seorang wanita cantik bernama Qutham yang membuatnya jatuh cinta dan ingin menikahinya.

Qutham sebagai putri dari Syajnah bin Adi. Syajnah bin Adi bersama saudara laki-lakinya meninggal saat sedang dalam perang Nahrawan (Khawarij melawan Ali). Untuk membalas dendam, Qutham memberikan syarat pada Ibnu Muljam untuk membunuh Ali dan diterimanya syarat itu.

Ibnu Muljam dengan kedua temannya merencanakan pembunuhan terhadap tiga orang: Ibnu Muljam membunuh Ali, Barak bin Abdillah at-Tamimi membunuh Muawiyah, dan Amr bin Bukair membunuh Amr bin ‘Ash.

Ali akhirnya terbunuh saat sedang melangsungkan sholat shubuh di Kufah di tangan saudara muslimnya sendiri, dan Ibnu Muljam tidak berhasil menikahi Qutham karena harus dipenjara.

Baca Juga:  Intoleransi dan Ekstrimisme Cirikhas Kunci Dari Neo Wahabisme

Inkonsistensi Peran Pemerintah dan Radikalisme

Filsafat hermeneutika mengedepankan penafsiran yang menyesuaikan dengan konteks yang ada pada zamannya, contohnya saja persoalan poligami yang tidak bisa ditafsirkan sama di zaman Nabi dengan zaman sekarang.

Kemudian paham-paham terorisme atau radikalisme yang mengedepankan pemikiran konservatif terhadap pandangannya tentang ajaran-ajaran yang ada di dalam qur’an tanpa mengupayakan konteks kehidupan saat ini membuat banyak sekali konflik timbul di negara yang mayoritas Islam seperti halnya di Indonesia.

Kejadian yang baru-baru saja terjadi adanya penusukan yang terjadi pada Jendral Wiranto selaku pejabat pemerintah yang kini menjabat sebagai Menko Polhukam.

Kronologi penusukan terjadi di Alun-alun Menes, Pandeglang, Banten terjadi sekitar pukul 11.50 WIB setelah Wiranto selesi memberikan pembekalan kepada mahasiswa di Universitas Mathlaul Anwar.

Saat Wiranto akan kembali ke alun-alun Menes sambil menyalami masyarakat, dari arah belakang tiba-tiba da seorang pria yang menusuknya sehingga membuat Wiranto tersungkur.

Kejadian itu membuat Wiranto dan kedua orang lainnya ternasuk kapolsek luka-luka. Salah satu motif terkuat adalah adanya pengaruh dari paham radikal ISIS dibalik penyerangan yang terjadi pada Wiranto.

Radikalisme sebagai suatu paham yang memusatkan perhatian pada ideologi, di mana ideologi berhubungan erat dengan keyakinan dan pemikiran seorang radikalis akan cenderung menolak yang tidak sesuai dengan pemikiran dan keyakinannya.

Baca Juga:  Dzul Khuwaishirah sebagai Bibit Aliran Khawarij, Kenali Ciri-cirinya!

Paham radikalisme sangat membahayakan bagi banyak orang, karena mereka akan selalu bergerak untuk menyebarkan ajaran dan pemikirannya yang kemudian berusaha menyerang baik secara fisik maupun non-fisik.

Contoh radikalisme yang paling kentara sepanjang sejarah adalah yang dilakukan oleh Ibnu Muljam kepada Ali bin Abi Thalib, dengan keputusan untuk membunuh Ali karena perbedaan pandangan politik.

Hal ini menjadi rambu-rambu bagi warga negara Indonesia untuk lebih memperdalam makna ideologi Pancasila sebagai identitas dan jati diri bangsa, supaya banyaknya perselisihan pandangan tidak memecahkan satu jiwa yang sudah tertanam nilai-nilai dari ideologi Pancasila yang telah tertanam sejak para pendiri bangsa ini.

Alangkah bijaknya bila seseorang pandai mengaplikasikan kekecewaannya justru dalam bentuk tindakan yang positif bukan dalam bentuk tindakan negatif. Apalagi yang berujung pada tindak kekerasan.

Selain itu, pemerintah harus memeperhatikan hak dan kewajiban yang diberikan pada setiap warganya supaya tidak lagi terjadi tindak represif baik yang dilakukan oleh warga sipil maupun aparat pemerintah.

Indriani Pratami
Latest posts by Indriani Pratami (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.