Sejarah Makam Kyai Raden Santri Gunung Pring

Sejarah Makam Kyai Raden Santri Gunung Pring

Pecihitam.Org – Lokasi untuk tradisi ziarah Makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) berada di Dusun Gunungpring yang berjarak sekitar 0,5 km (nol koma lima kilometer) dari kantor Kepala Desa Gunungpring dan jalan raya jurusan Borobudur Muntilan melalui jalur Gunungpring.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Makam Kyai Raden berada di lingkungan pemakaman yang diberi nama makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) Desa Gunungpring. Semula makam tersebut dikelola oleh suatu yayasan Kyai Raden Santri yang beralamat di Jalan Kyai Raden Santri KM 1 Muntilan 56415.

Yayasan tersebut didirikan sekitar tahun 1992 oleh RM Anwar As dan R Cowaid AS. Meskipun sudah berbentuk yayasan, namun pihak Negara khususnya yang menangani pariwisata masih berusaha untuk mencampuri urusan dalam yayasan Kyai Raden Santri. Hal tersebut wajar karena banyaknya pengunjung yang berdatangan ke Makam Kyai baik yang berasal dari daerah sekitar Gunungpring.

Para peziarah antara lain yang datang ke makam tersebut berasal dari Wonosobo, Kebumen, Malang, bahkan ada juga yang berasal dari luar Jawa seperti Lampung, dan lain-lain. Melihat keadaan seperti itu, maka para ahli waris Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) menghadap ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk dapat mengukuhkan status makam tersebut.

Baca Juga:  Perbedaan Ulama dalam Pembagian Fase Periodeisasi Syarah Hadis

Akhirnya terhitung mulai sekitar tanggal 1 Mei 2000 makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) Gunungpring dikelola oleh pihak Kraton Yogyakarta Hadiningrat.

Di dalam kompleks Pangeran Singasari terdapat beberapa makam yang sering dikunjungi oleh para peziarah, antara lain adalah makam Mbah Dalhar yang merupakan pendiri pondok pesantren Darussalam Watu Congol.

Menurut pengakuan tokoh masyarakat setempat Mbah Dalhar bukan merupakan keturunan Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) serta tidak mempunyai hubungan kekeluargaan dengan pihak kraton Yogyakarta Hadiningrat, namun karena untuk menghormati jasa-jasa dari Mbah Dalhar maka jenazah Mbah Dalhar dimakamkan di tempat komplek makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari).

Meskipun makam Mbah Dalhar berada di komplek makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari), namun pengelolaan makam Mbah Dalhar dikelola oleh pihak Watu Congol. Dengan Demikian maka Kompleks makam tersebut merupakan koalisi dari misi puroloyo dan misi Watu Congol.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, di tempat tersebut dahulu merupakan suatu pegunungan yang ditumbuhi oleh berumpun-rumpun bambu dan kemudian dibuka oleh Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) untuk mengajarkan agama Islam, sampai kemudian menjadi sebuah pesanggrahan dan lama-lama menjadi sebuah Dusun yang kemudian terkenal dengan nama Dusun Gunungpring.

Baca Juga:  Kisah Al-Idrisi Pencipta Bola Bumi, Disaat Ada Yang Menganggap Bumi Ini Datar

Konon menurut cerita, jika pohon bambu tersebut digunakan oleh orang lain di luar Dusun Gunungpring, maka akan membawa keanehan, misalnya jika pohon bambu tersebut digunakan untuk membangun rumah, maka akan timbul suara aneh yang tidak beraturan pada bambu tersebut, sedangkan yang ada sampai sekarang dalam kompleks makam, selain makam Pangeran Singasari juga terdapat makam-makam dari keturunan Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari).

Tempat-tempat di luar kompleks makam yang mempunyai kaitan serta fungsi keberadaannya berkaitan dengan cerita rakyat makam Pangeran Singasari dan dipercaya mempunyai hubungan sejarah dengan cerita tersebut adalah: Dusun Santren, Mesjid Selo Boro, Blumbang Gedhe.

Dusun Santren, Asal mula nama Dusun Santren diperoleh karena dahulu merupakan murid yang sedang menuntut ilmu dalam bidang agama Islam. Dusun santren juga merupakan salah satu tempat yang digunakan oleh Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) untuk mengajarkan agama Islam.

Untuk mengenang jasa-jasanya, maka tempat tersebut diberi nama Dusun Santren. Kata Santren berasal dari kata “santri” yang oleh masyarakat secara umum dapat diartikan sebagai seorang tempat meninggalnya Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) yang kemudian dimakamkan di Gunungpring.

Baca Juga:  Pengaruh Cina dalam Proses Masuknya Islam di Nusantara

Mesjid Selo Boro, merupakan bangunan peninggalan dari Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) yang digunakan sebagai tempat peribadatan beliau dengan 30 para pengikutnya. Semula bangunan tersebut berupa langgar atau mushola, yang kemudian direnovasi hingga akhirnya sekarang menjadi sebuah masjid.

Masjid tersebut berada di Dusun Santren tepatnya di sebelah timur laut komplek makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari). Istilah Blumbang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari khususnya di masyarakat pedesaan.

Blumbang merupakan bagian permukaan tanah yang tergenang oleh air dalam ukurang yang luas. Blumbang Gedhe berada di Dusun Santren tepatnya di sebelah barat masjid dan pemakaman umum. Dahulu blumbang tersebut di gunakan sebagai tempat berwudhu Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) serta para santrinya.

Mochamad Ari Irawan