Sejarah Singkat Terjadinya Perang Hunain

perang hunain

Pecihitam.org – Perang Hunain terjadi sekitar tahun 8 H, yaitu setelah peristiwa Fathu Makkah yang akhirnya membuka jalan bagi kaum muslimin untuk menaklukkan seluruh wilayah jazirah Arab serta kaum muslimin menjadi penjaga ka’bah. Kemuliaan akhlaq islam pun menyebar ke berbagai tempat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pada masa, itu sebagian jazirah Arab telah berada di bawah pengaruh Islam. Meskipun demikian, masih ada beberapa suku yang menentang. Mereka adalah Bani Saqif, Bani Hawazin, Bani Nasr, dan Bani Jusyam. Mereka adalah penduduk daerah antara Makkah dan Thaif. Suku-suku tersebut bersekutu untuk memerangi kaum muslimin. Mereka ingin menuntut balas terhadap kaum muslimin yang telah menghancurkan berhala-berhala mereka.

Pasukan mereka di pimpin oleh Malik bin Auf dari Bani Nasr dengan berkekuatan 20.000 tentara. Mereka juga membawa serta anak dan istri mereka untuk membangkitkan semangta perang. Mereka telah mempertaruhkan segala yang mereka miliki dalam pertempuran itu. Mereka berangkat menuju Makkah dan membangun perkemahan di balik sebuah bukit di lembah Hunain.

Sedangkan untuk menghadapi kaum kafir itu, Nabi Muhammad Saw menyiapkan 12.000 tentara. Pasukan terdiri atas 10.000 penduduk Madinah dan 2000 penduduk Makkah yang telah masuk Islam, di antaranya Abu Sofyan.

Baca Juga:  Kiprah Nahdlatul Ulama di Kancah Nasional dan Internasional

Sebelum perang berkecamuk pada, sore harinya pasukan kaum muslimin telah tiba di sebuah celah yang merupakan jalan masuk di lembah Hunain. Di sini mereka beristirahat. Kesesokkan harinya, yaitu pada tanggal 10 Safar 8 H atau sekitar dua minggu setelah peristiwa Fathul Makkah, kaum muslimin mulai bergerak.

Mereka menyusuri tebing-tebing terjal di Wasi Tihamah. Pasukan paling depan adalah dari bani Sulaim yang di pimpin oleh Khalid bin Walid. Adapun Nabi Muhammad Saw berada di barisan paling belakang dengan menunggang seekor Bagal putih. Karena jumlahnya yang banyak ini kaum muslimin terlena dan beranggapan bahwa mereka tidak akan terkalahkan karena jumlah mereka yang sangat banyak.

Ketika kaum muslimin sedang menuruni lembah itu, tiba-tiba terjadilah serangan mendadak. Pasukan kaum kafir menghujani kaum muslimin dengan panah dan kacau balau. Mereka lari pontang-panting menyelamatkan diri masing-masing. Pasukan Malik bin Auf kemudian turun dari berbukitan. Mereka bergerak mengepung kaum muslimin yang makin kocar-kacir.

Baca Juga:  Perkembangan Paham Syiah di Indonesia, Dari Runtuhnya Reza Pahlavi Hingga Era Masa Kini

Melihat semua itu, Abu Sofyan yang masih memiliki dendam terhadap kaum muslimin kemudian mengatakan bahwa serangan tersebut tidak akan berhenti sebelum sampai ke laut. Syaibah bin Usman bin Talha, yaitu seorang bekas pemimpin musyrikin Makkah mengatakan “Kini saatnya aku membalas Muhammad atas kematian bapakku di Uhud hulu”.

Dalam keadaan yang panik tersebut, Nabi Muhammad Saw memanggil pamannya, Abbas bin Abdul Muttalib. Beliau meminta pamannya untuk menenangkan kaum muslimin yang sedang panik. Kemudian beliau berseru,

“Wahai saudara-saudaraku kaum Anshar dan kaum Muhajirin. Wahai orang-orang yang telah berbaiat di bawah pohon!, mari kita terus berjuang! Muhammad masih hidup”. Mendengar seruan dari Abbas bin Abdul Muttali, kaum muslimin pun saling menyahut “ Ya, aku datang aku siap.”

Setelah hari mulai siang, kaum muslimin pun sudah dapat melihat mana yang teman dan mana yang lawan. Akhirnya pasukan muslimin pun mulai teratur dan terkonsolidasi. Pada diri mereka timbul semangat baru. Pasukan kafir pun mulai terdesak. Mereka kalang kabut, sebagian dari kaum kafir melarikan diri dan sebagian tertawaan.

Baca Juga:  Perang Hunain; Sebuah Pelajaran Ketika Umat Islam Menyombongkan Diri

Sementara harta benda mereka menjadi harta rampasan kaum muslimin yang terdiri dari 22.000 ekor unta, 40.000 ekor kambing, 4.000 auqiyah perak, dan 6.000 tawanan. Sebagian kaum kafir melarikan diri ke Thaif, termasuk pemimpinnya yaitu Malik bin Auf. Mereka kemudian di kepung oleh kaum muslimin. Akhirnya perang Hunain dimenangkan pihak kaum Muslimin, para musuh pun menyerah dan bersedia untuk memeluk Islam.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik