Sejarah Singkat Terjadinya Perang Salib 2 (1145 M – 1149 M)

Perang Salib 2

Pecihitam.org – Setelah terjadinya Perang Salib I yang berakhir dan di menangkan oleh para tentara salib, lalu mereka membentuk negara yang di dirikan pada sebelah timur yaitu Kerajaan Yarussalem, Kepangeranan Antiokhia, Country Edessa pada tahun 1101 M dan Country Tripoli pada tahun 1109 M.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Secara geografis, Edessa merupakan negara yang terletak di sebelah ujung utara dari keempat negara ini, dan menjadi negara Pasukan salib yang sangat lemah karena memiliki penduduk yang sangat sedikit pula. Oleh sebab itu, negara Edesssia selalu menjadi sasaran bagi kaum Muslimin untuk melakukan penyerangan seperti yang di lakukan oleh Ortoqid, Danishmend dan Seljuk.

Kemudian pada tahun 1104 M terjadi pertempuran Harran yang mengakibatkan kekalahan dari Baldwin II dan Joscellin dari Courtenay sehingga mereka berdua di tangkap oleh lawan namun dilepaskan kembali.

Sedangkan pada tahun 1122 M, Baldwin dan Joscelin kembali di tangkap untuk yang kedua kalinya. Meskipun begitu, pada Pertempuran Azaz tahun 1125 M berhasil mengembalikan keadaan negara Edessa namun Joscelin gugur saat terjadi pertempuran pada tahun 1131 M.

Negara Edessa pada akhirnya berhasil jatuh di tangan Zengi pada tanggal 24 Desember 1144 M setelah sebulan berhasil di kepung olehnya. Zengi terkenal sebagai “pelindung kepercayaan” dan al-Malik al-Mansur (raja yang berjaya) karena ia sama sekali tidak menyerang sisa wilayah dari Edessa.

Baca Juga:  Ini Riwayat Singkat Ibnu Taimiyah, Ulama Rujukan Salafi Wahabi

Setelah Zengi meninggal karena di bunuh oleh seorang budak pada tahun 1146 M, kemudian kekuasaan di gantikan oleh putranya yaitu Nuruddin. Meskipun berulang kali Joscelin berusaha untuk merebut Edessa kembali namun usahanya gagal dan di menangkan oleh Nuruddin pada November 1146 M.

Mengetahui bahwa Edessa jatuh ke tangan para peziarah, Paus Eugenius III mengeluarkan Bula Kepausan Quantum Praedecessores pada tanggal 1 Desember 1145 M dan mendeklarasikan perintah untuk di laksanakannya Perang Salib ke 2.

Setelah berita Perang Salib 2 di umumkan, banyak sekali penduduk Jerman yang menawarkan diri sebagai sukarelawan perang. Namun partisipasi dari Jerman dalam Perang Salib di anggap mengecewakan sehingga Obotrit melakukan penyerangan terhadap Wagria pada tahun 1147 M.

Menurut Bernandus, Clairvaux mengungkapkan bahwa tujuan dari adanya Perang Salib 2 ini adalah untuk melawan Slavia pagan. Sementara itu, tentara salib lebih memilih untuk menyerang Damaskus dari Barat, karena di sana terdapat kebun buah sehingga mereka dapat memperoleh persediaan makanan.

Mereka tiba di Damaskus pada tanggal 23 Juli dan saat itu pasukan Muslim telah siap untuk menghadapi serangan dari pasukan salib. Mengetahui bahwa tentara salib bergerak dari arah barat maka pasukan muslim pun segera melakukan penyerangan melalui perkebunan di luar Damaskus.

Baca Juga:  Pengaruh Yunan-Champa dalam Sejarah Masuknya Islam di Nusantara

Pasukan muslim dari Damaskus tidak sendirian karena mereka meminta bantuan kepada Saifuddin Ghazi I dari Aleppo dan Nuruddin Zengi dari Mousul. Saat itu, pertahanan pasukan Muslim cukup kuat sehingga mereka pun berhasil menghalau tentara salib dan memukul mundur mereka dari tembok ke perkebunan teh.

Setelah gagal menyerang Damaskus dari arah barat, pasukan salib pun memilih untuk bergerak dari arah timur yang pertahanannya cukup lemah, namun tidak terdapat persediaan makanan di sana. Kedatangan Nuruddin dan Saifuddin membuat para tentara salib menjadi sulit untuk mempertahankan posisi mereka.

Dan akhirnya pemimpin tentara salib pun mengurungkan niatnya untuk meneruskan pengepungan. Mereka meninggalkan kota Damaskus dan sisa pasukan tentara salib mundur kembali ke Yarussalem pada 28 Juli. Kemunduran mereka ini mendapat serangan dari Turki yang tidak henti-hentinya memanah pasukan salib.

Serangan terhadap Damaskus ternyata mendatangkan akibat yang buruk bagi Yarussalem, karena akhirnya Damaskus tidak lagi mendapat kepercayaan oleh negara-negara tentara salib. Lalu kota tersebut di berikan kepada Nuruddin pada tahun 1154 M.

Selain itu serangan juga datang dari Raja Amalric I dari Yarussalem yang bersekutu dengan Romawi Timur dengan melakukan invasi gabungan ke Mesir pada tahun 1169 M, namun usahanya tersebut gagal.

Baca Juga:  Sejarah dan Proses Penerjemahan Al-Qur’an di Indonesia

Pada tahun 1171 M, Salahuddin al-Ayyubi menjadi Sultan Mesir. Ia berhasil mempersatukan antara Mesir dan Suriah lalu melancarkan aksinya untuk mengepung seluruh kerajaaan tentara salib. Sementara itu aliansi dengan Bizantium berakhir setelah Kaisar Manuel I meninggal dunia pada tahun 1180 M. Kesempatan ini di gunakan oleh Salahuddin al-Ayyubi untuk menyerang dan merebut Yarussalem pada tahun 1187 M.

Sedangkan pada akhir Perang Salib 2, Mecklenburg dan Pomerania mengalami penjarahan serta depopulasi akibat masifnya pertumpahan darah yang di sebabkan oleh keganasan tentara Henry si Singa. Peristiwa tersebut mengakibatkan penduduk Slavia menjadi banyak kehilangan cara untuk produksi sehingga perlawanan mereka pada masa depan menjadi terbatas.

*Diolah dari berbagai sumber

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik