Semua Ulama Pewaris Nabi, Tapi Tidak Semua Pewaris Nabi Adalah Ulama

ulama pewaris nabi

Pecihitam.org – Sebelumnya perlu ditegaskan bahwa setiap pewaris para nabi pasti ulama, namun tidak semua (mengaku atau diakui sebagai) “ulama” adalah pewaris nabi. Ini perlu diluruskan agar umat Islam tidak serta merta ikut kepada yang mengaku dirinya ulama atau diakui sebagai ulama (oleh segelintir orang).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Di zaman sekarang ini mencari ulama sebagai pewaris para nabi tidaklah sulit. Nampaknya sebagian orang cenderung ingin diakui sebagai ustadz atau ulama agar mereka diundang ceramah. Namun setelah di dengar, diamati isi ceramahnya sedikitpun tidak mencerminkan dirinya sebagai ulama pewaris para nabi, ceramahnya penuh dengan kedengkian, permusuhan antar mazhab maupun antar agama.  

Seorang habib berceramah dihadapan jamaahnya dengan begitu bangganya mengatakan, “kalau ketemu orang ini bukanya celananya jangan-jangan dia banci.” Seorang ustadz kondang berkata, di Salib itu ada Jin Kafir, seorang habib menyerukan untuk jihad melawan pemerintah.

Seorang ustadz berkata, si tua bangka kepada KH. Ma’ruf Amin, pelaku bid’ah terbesar di Indonesia katanya Habib Quraish Shihab dan KH. Said Aqil Siraj. Seorang ustadz ditanya tentang orang syiah shalat di Masjid Sunni, ia jawab, “Usir.”

Menurut saya, mereka yang dianggap habib, ulama, ustadz namun prilakunya, ucapanya seperti di atas bukanlah ulama yang mewarisi para nabi, mungkin ulama tetapi bukan pewaris nabi. Sebab pewaris nabi adalah yang mewarisi sifat, akhlak, tutur kata, prilaku para nabi khususnya Nabi Muhammad yang digelari uswatun hasanah, raufur rahim.

Habib Qurais Shihab, Nasaruddin Umar, Said Aqil Siraj, Gus Mus, Gus Baha, Gus Muwafiq, AGH. Sanusi Baco, adalah sederet ulama yang mencerminkan pribadi-pribadi ulama sebagai pewaris nabi khususnya dalam konteks Indonesia. 

Baca Juga:  Menyingkap Nalar Kelompok Pengaku Bela Agama

Jadi maksud hadis ulama adalah pewaris para nabi adalah mereka yang mampu memahami apa dibawa oleh para nabi, baik aspek pengetahuan maupun aspek akidah. Mereka yang miliki “hubungan” ruhani secara terus menerus dengan para nabi, mereka yang makrifah terhadap ajaran-ajaran dan sifat-sifat nabi. Jadi perlu dipahami bahwa istilah ‘pewaris’ disyaratkan adanya hubungan dengan ‘yang mewariskan’.

Perbedaan ilmu warisan dengan ilmu perolehan kata Nur Jabir. Ilmu perolehan adalah seorang mempersiapkan dirinya, berusaha sekuat tenaga agar ia memperoleh apa yang dia inginkan tanpa ada hubugan relasi dengan seseorang.

Namun, dengan ilmu warisan, untuk memperolehnya harus ada hubungan spiritual (rohani) dengan seseorang. Jadi untuk menjadi pewaris bukan dengan klaim tetapi dengan pengakuan dari yang mewariskan. Misalnya, Nabi saw dalam hadis bersabda:

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم أنا مدينة العلم و علي بابها فمن أراد المدينة فليأت الباب

Baca Juga:  Mengenang Gus Sholah; Keteladanan dan Kecintaanya Kepada NU

Artinya: “Saya adalah kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya, maka barang siapa yang menginginkan (ilmu Nabi saw) maka datangilah pintunya”. (HR. al-Hakim: al-Mustadrak al-Hakim; at-Thabrani: al-Mu’jam al-Kabir; al-Tabari: Tahdzib al-Atsar lil Thabari).

Dalam ilmu tarekat khalwatiyah, misalnya, Imam Ali menjadi khalifah tertinggi setelah Rasulullah saw. Para sahabat, generasi para sahabat tahu kedudukan Ali bin Abi Thalib di Mata Rasulullah. Dalam riwayat lain, Nabi saw bersabda, “engkau Ali, seperti Harun di sisi Musa.

Atau hadis yang lain, Nabi Muhammad saw bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِعَلِيٍّ أَنْتَ وَلِيُّ كُلِّ مُؤْمِنٍ بَعْدِي. 

Artinya: “Bahwa Rasulullah saw berkata kepada Ali, “engkau Wali (pelindung) setiap mukmin setelahku (wafatku).” (HR. Musnad Abi Daud al-Tayalisy).

Ulama pewaris para nabi tidak ditentukan oleh hubungan nasab atau kedekatan, tetapi para pertalian maqam spiritual dengan para nabi. Jika seseorang menginginkan dirinya menjadi pewaris nabi, maka harus terhubung dengan Rasulullah saw. Jalan satu-satunya melalui proses pembersihan diri atau menyucikan hati.

Semakin suci jiwa, hati kita semakin dekat pula kita dengan Rasulullah saw. Oleh karena itu, setiap pewaris para nabi adalah seorang ulama dan tidak semua ulama adalah pewaris para nabi. Begitulah makna lain atau hakikat makna,

Baca Juga:  Subhanallah! Ternyata Kriminalisasi Ulama Juga Banyak Terjadi di Masa Khilafah

إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi (HR. Sunan At-Turmidzi, HR. Sunan Abi Daud).[1]

Sebagai pewaris tentu ia terikat dengan yang mewariskan dan ulama sebagai pewaris para nabi tentu terikat dengan para nabi yang ia warisi. Yang ia warisi adalah akhlaknya, tutur katanya, ilmunya. Ulama adalah pelanjut risalah kenabian. Seorang nabi membawa kitab yang ia wariskan karena dengan kitab itu inti ajarannya akan terwariskan dan ulamalah yang berkewajiban untuk mewujudkan isi dari kitab tersebut.

Nai Muhammad adalah al-Qur’an yang wujud, al-Qur’an adalah muhammad yang terkonsep. Pewarisnyalah memiliki tugas untuk mewujudkan konsep yang ada di dalam al-Qur’an dalam bentuk prilaku.  Wallahu a’lam bis Shawab


[1] Hadis ini sedikit panjang, namun hanya mengambil bagian yang terkait dengan pokok pembahasan. Dalam hadis ini pula ditegaskan bahwa para nabi tidak mewariskan Dinar dan Dirham tetapi para nabi hanya mewariskan ilmu.

Muhammad Tahir A.