Sumur Usman Amal Jariyah dari Zaman Khalifah Usman Hingga 14 Abad Kemudian

Sumur Usman Amal Jariyah dari Zaman Khalifah Usman Hingga 14 Abad Kemudian

PeciHitam.org Khalifah ketiga dalam pemerintahan Khulafaur adalah Usman bin Affan, seorang saudagar kaya raya yang mendermakan hartanya untuk Izzatil Islam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Beliau berasal dari suku Bani Umayyah dari jalur ayahnya dan jalur ibunya dari suku Abdus Shams, masing-masing suku tersebut sangat terpandang di kalangan Quraish Makkah.

Kebaikan Usman bin Affan tergambar dalam berbagai perjuangan perang yang beliau dukung. Sumbangsih Usman dalam perang tidak terkira besarnya untuk ukuran sumbangan pribadi, mencapai puluhan Miliar jika dikurs sekarang.

Jiwa penderma Usman bin Affan berasal dari ajaran Islam dan kemauan keras beliau untuk menjadikan Islam agama yang  disegani dan umatnya tidak diremehkan oleh kaum kafir. Bukti lainnya adalah beliau membeli sumber air berupa sumur yang sampai sekarang masih aktif.

Pembelian sumur yang  kemudian dinamakan sumur Usman adalah langkah investasi jariyah yang terus mengalir bahkan 14 Abad kemudian. Era modern sekarang ini, kita masih bisa menyaksikan sumur Usman yang masih memberi peran nyata dalam bidang ekonomi.

Usman, Dermawan Sejati

Usman bin Affan 4 tahun setelah kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu tahun 574 M. Ayah beliau bernama Affan bin Abi ‘As dari suku Bani Umayyah dan Ibunda beliau bernama Arwa binti Kurayz dari Bani Abdus Shams. Usman adalah seorang terpelajar dibuktikan kemampuan membaca dan menulis yang sangat langka pada masa itu.

Ia seorang saudagar, ekonom yang kaya raya dan memiliki sifat kedermawanan yang tidak tertandingi. Usman bin Affan dijuluki sebagai dzu Nuraini atau pemiliki dua cahaya, karena beliau adalah menantu rasulullah atas 2 putri Rasulullah SAW.

Gelar Dzu Nuraini berasal dari Istri beliau dari 2 putri Rasulullah SAW yaitu Ruqayyah dan Ummi Kultsum RA. Beliau juga masuk dalam golongan assabiqunal Awwalun dan mendapat garansi masuk surga sebagaimana hadits Rasulullah SAW.

عَنْ عَبْد الرَّحْمَنِ بْن عَوْفٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِي الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ . رواه الترمذي

Baca Juga:  5 Alasan Penting Perlunya Membaca Sirah Nabawiyah

Artinya; “Dari Abdurrahman bin Auf, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Usman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’ad di surga, Sa’id di surga, Abu Ubaidah bin Jarrah di surga.” (HR. At-Tirmidzi)

Saat perang tabuk dimulai, orang Islam kekurangan sumber pendanaan untuk biaya perang. Dengan sadar Usman bin Affan menyumbangkan logistik dalam bentuk 950 unta, 70 ekor Kuda 1000 dirham. Jika digunakan Kurs sekarang, bisa mencapai 75,6 Miliar Rupiah, sebuah angka yang sangat besar untuk ukuran sumbangan pribadi.

Kebaikan Usman bin Affan juga telihat ketika beliau membeli sebuah telaga berbentuk sumur yang terkenal dengan Sumur Usman sekarang. Bi’ru Usman atau Sumur Usman adalah sebuah sumur yang sebelumnya dimiliki oleh orang Yahudi. Beliau mewakafkan sumur tersebut kepada kaum Muslimin dan diperbolehkan mengambil air secara gratis.

Keterbatasan air yang menjadi sumber penghidupan ditengah gurun pasir khas timur tengah memang tidsak bisa dielakan. Memiliki sumber mata air berarti memiliki aset luar biasa yang dapat menjadikan orang kaya.

Akan tetapi Usman RA memilih untuk mendermakan kepada kaum Muslimin. Tidak heran atas kebaikan dan kedermawanan Usman bin Affan beliau terjamin masuk surga.

Sumur dan Investasi Jariyah

Bi’ru Usman atau Sumur Usman bernama Asli sumur Raumah, yang dimiliki oleh seorang Yahudi yang ‘Mata Duitan’. Ketika Madinah mengalami musim panas yang berkepanjangan, maka banyak sumber air yang mengering, menyisakan beberapa saja.

Sumur sumber air yang masih tersisa adalah Sumur Zamzam dan Sumur Raumah milik seorang Yahudi. Dua sumur tersebut menjadi sumber kehidupan sebuah kota besar seperti Madinah menjadikan orang rela membayar berapapun untuk mendapatkan air.

Baca Juga:  Sejarah Berdiri hingga Runtuhnya Dinasti Turki Utsmani

Tidak seperti Sumur Zamzam yang tidak dipatok tarif untuk mengambil manfaat air darinya, sumur Raumah milik Yahudi dikomersilkan. Seorang yang  menimba air disana harus mengeluarkan uang, atau membeli kepada Yahudi. Selain harus membayar, mereka juga harus mengantre panjang guna mendapatkan air tersebut.

Melihat fenomena demikian, Rasulullah SAW bersabda dihadapan para sahabatnya untuk membeli sumur tersebut. Sabda Nabi SAW ;

“Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat maka akan mendapat surga-Nya Allah Ta’ala.” (HR Muslim).

Sayembara tersebut akhirnya dijawab oleh Usman bin Affan dengan mendatangi Yahudi pemilik sumur Raumah. Beliau menegosiasikan harga sumur Raumah dengan Yahudi, dan dipatok harga yang sangat mahal.

Yahudi tersebut menolak untuk menjual sumur Raumah karena khawatir akan kehilangan keuntungan ditengah Musim Panas Ekstrim. Usman akhirnya membuat siasat untuk membeli setengah hak sumur tersebut, sehari milik hak Usman yang diwakafkan kepada kaum Muslim dan sehari miliki Sang Yahudi.

Perjanjian pembagian hak tersebut disetujui Sang Yahudi dan akhirnya sumur pada hari pertama ramai oleh pengunjung karena Gratis.

Hari kedua yang berbayar menjadi sepi karena banyak orang memiliki stok air dirumah masing-masing. Melihat hal tersebut, akhirnya Sang Yahudi protes ke Usman untuk membayar penuh sumur Raumah. Dan akhirnya Usman bin Affan membayar penuh sumur Raumah dengan harga keseluruhan sebesar 35.000 Dirham.

Nilai 1 dirham masa Rasulullah SAW adalah sepersepuluh Dinar, yang mana 1 Dinar setara dengan emas murni 4,25 Gram. Harga emas sekarang berkisar 890 ribu rupiah, maka 1 dinar bernilai 3,78 Juta dan 1 Dirham bernilai sekitar 378.000 ribu.

Maka harga sumur Raumah yang kemudian terkenal Bi’ru Usman (Sumur Usman) berharga, 378.000 x 35.000 setara dengan nilai 13.230.000.000 (13,23 Miliar). Sebuah harga yang sangat tidak masuk akal untuk ukuran sebuah sumur tradisional.

Baca Juga:  Ini Sejarah Maulid Nabi Hingga Bisa Dirayakan di Seluruh Dunia

Kedermawanan Usman bin Affan tersebut tidak lain atas motivasi shadaqah Jariyah yang akan terus mengalir bahkan ketika Usman sudah wafat. Bukti bahwa kebaikan akan terus mengalir terlihat bahwa sumur tersebut terkenal dengan Sumur Usman dan orang akan selalu mengenang jasa beliau.

Sumur Usman di Masa Modern

Harga yang dibayarkan Usman bin Affan kepada Sang Yahudi untuk membeli sumur sebesar 35.000 dirham adalah harga yang sangat mahal. Akan tetapi sebanding dengan pahala Jariyah yang selalu mengalir kepada Usman bin Affan.

Beliau selalu dikenang sebagai khalifah, sahabat, jaminan masuk surga dan berbagai gelar yang sangat banyak merujuk pada kebaikan beliau. Yang Pasti sumur Usman tersebut memberikan sumbangsih yang sangat panjang, 1400 tahun atau 14 Abad lamanya.

Koran berita di Arab Saudi memberitakan bahwa sumur Usman tidak berhenti mengalir walaupun sudah berumur 14 abad. Manfaatnya masih bis dirasakan oleh orang disekitarnya, karena Pemerintah Arab Saudi melalui Kementerian Pertanian membuuat sebuah charity atau yayasan untuk mengurus wakaf sumur Usman tersebut.

Setidaknya Sumur Usman menjadi sumber air bagi sedikitnya 1.550 Pohon Kurma aktif, dan hasilnya dijual oleh Yayasan tersebut. Hasil dari penjualan ini bisa menghidupi orang-orang yang bekerja dibawah Yayasan tersebut. Dan hasil dana Sumur Usman juga digunakan untuk membangun masjid dan lain sebagainya.

Peran Usman bin Affan setelah 14 abad masih bisa dirasakan hingga sekarang tidak lain karena sifat dermawan dan keikhlasan beliau dalam membela Islam serta Umatnya.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan