Surah An-Naml Ayat 61; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Naml Ayat 61

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Naml Ayat 61 ini, menjelaskan bahwa Allah mengemukakan pertanyaan yang kedua dalam rangka mengungkapkan kesesatan penyembah-penyembah berhala.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml Ayat 61

أَمَّن جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Terjemahan: Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.

Tafsir Jalalain: أَمَّن جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا (Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam) sehingga ia tidak menggoncangkan penduduknya وَجَعَلَ خِلَالَهَا (dan yang menjadikan di cekah-celahnya) yakni di antara celah-celahnya أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ (sungai-sungai dan yang menjadikan gunung-gunung untuk mengokohkannya) sebagai pengokoh Bumi,

وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا (dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut) antara air tawar dan air asin, satu sama lainnya tidak bercampur baur. أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (Apakah di samping Allah ada tuhan yang lain? Bahkan sebenarnya kebanyakan dari mereka tidak mengetahui) keesaaan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman: أَمَّن جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا (“Atau siapakah yang telah menjadikan bumi qaraaran”) yaitu sebagai tempat tinggal yang tetap. Dia tidak menggoyang dan menggerakkan penghuninya serta tidak menggoncangkan mereka. seandainya itu terjadi, niscaya kehidupan tidak berlangsung baik. Akan tetapi Allah menjadikan bumi dengan keutamaan dan rahmat-Nya sebagai hamparan yang tetap, yang tidak goncang dan tidak bergerak.

وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا (“dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya”) yaitu Dia menjadikan sungai-sungai tawar dan baik untuk digunakan mengalirkan sungai itu di celah-celah-Nya. lalu Dia alirkan sungai-sungai besar dan kecil ke arah mana sesuai kemaslahatan hamba-hamba-Nya di wilayah dan di daerah mereka. Dimana Dia mengembangbiakkan mereka di permukaan bumi dan menumbuhkan rizky mereka sesuai kebutuhan mereka.

Baca Juga:  Surah Al Qadr; Tafsir, Asbabun Nuzul, Keutamaan dan Artinya

وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِ (“dan yang menjadikan gunung-gunung untuk mengokohkannya.”) yaitu gunung-gunung yang menjulang kokoh dan menancap ke bumi agar tidak menggoncangkan kalian. وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا (“dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut”) yaitu Dia menjadikan pemisah di antara air tawar dan air asin yang dapat mencegahnya untuk bercampur agar bagian satu tidak merusak bagian yang lainnya.

Sesungguhnya hikmah Ilahiyyah mengharuskan ketetapan masing-masing keduanya menurut sifatnya yang asli. Karena laut yang segar itu merupakan sumber dari sungai-sungai yang mengalir di lingkungan manusia. Tujuannya agar menjadi tawar dan nikmat, dimana hewan, manusia dan tumbuhan dapat mengambil manfaat darinya. Sedangkan lautan yang asin adalah hanya melingkari daratan dan benua di berbagai pelosok. Tujuannya agar air itu menjadi asin yang tidak merusak udara dengan baunya.

Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir [berdampingan]; yang ini tawar dan segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (al-Furqaan: 53).

Untuk itu Allah berfirman: أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ (“apakah ada ilah-ilah lain bersama Allah?”) yaitu yang dapat melakukan semua itu atau menurut pendapat yang lain, ilah-ilah lain yang diibadahi. Kedua pendapat tersebut saling terkait dan benar. بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (“Bahkan, kebanyakan mereka tidak mengetahui.”) tentang penyembahan mereka kepada selain-Nya.

Baca Juga:  Surah As-Saff Ayat 7-9; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini, Allah mengemukakan pertanyaan yang kedua dalam rangka mengungkapkan kesesatan penyembah-penyembah berhala. Ditanyakan bahwa apakah yang layak disembah itu berhala-berhala yang tidak memberi manfaat dan mudarat, ataukah Tuhan yang telah menjadikan bumi sebagai tempat kediaman bagi manusia dan hewan-hewan, Tuhan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya untuk menjadi sumber minuman manusia dan hewan peliharaan, serta untuk menyiram tanaman, Tuhan yang menjadikan gunung-gunung untuk mengokohkan bumi yang banyak mengandung manfaat dengan adanya hutan-hutan di atasnya dan berbagai logam dan mineral di dalamnya, dan Tuhan yang menjadikan pemisah antara air laut yang asin dengan sungai yang membawa air tawar ke muaranya.

Air sungai yang tawar itu setelah sampai di laut tidak langsung menjadi asin. Dalam merenungkan semua kejadian alam itu apakah masih ada terbesit pikiran adanya tuhan selain Allah? Sebenarnya mereka itu tidak mengetahui nilai keagungan Allah Maha Pencipta, sehingga menyamakan-Nya dengan berhala-berhala yang sama sekali tidak memberi manfaat dan mudarat itu.

Menurut kajian ilmiah, bumi pada Ayat ini dapat dipahami sebagai daratan. Secara umum, daratan merupakan tempat berdiam manusia. Sungai-sungai yang ada di daratan selalu terletak pada bagian terendah permukaan bumi, yang merupakan celah antara gunung-gunung dan dataran-dataran yang lebih tinggi. Kemudian, laut-laut terpisah antara satu dengan yang lain karena adanya daratan pemisah seperti semenanjung, pulau-pulau, atau karena sebaran geografis benua-benua.

Penyebaran dan bentuk daratan serta pulau-pulau di muka bumi ini umumnya dianggap terjadi dengan sendirinya yang merupakan bagian atau akibat dari proses alam, pada hakikatnya adalah atas kehendak Allah.

Baca Juga:  Surah An Nisa Ayat 31-32; Seri Tadabbur Al Qur'an

Ayat ini menjelaskan mengenai keadaan bumi yang layak untuk dihuni oleh makhluk manusia. Tentunya ini berhubungan erat dengan penciptaan langit dan bumi yang begitu sempurna. Seandainya sedikit saja terjadi perubahan pada “lintasan” matahari dan bulan terhadap bumi, atau berubah bentuknya, atau berubah salah satu unsurnya, atau berubah kecepatan berputar pada porosnya, atau berubah perputarannya mengelilingi matahari, atau berubahnya perputaran bulan di sekelilingnya, maka bumi ini pasti tidak akan kokoh dan tidak akan layak dihuni untuk suatu kehidupan.

Tafsir Quraish Shihab: Tanyakan kepada mereka, “Siapa yang membuat bumi menjadi datar dan cocok sebagai tempat tinggal? Siapa pula yang mengalirkan sungai-sungai di tengah-tengahnya, yang menciptakan gunung-gunung yang membuat bumi menjadi kokoh dan tidak condong?
Siapa pula yang membuat pemisah antara air laut yang asin dan air tawar agar masing-masing tidak bercampur aduk?

Tiada tuhan yang menyertai Allah.Hanya Dialah sang Pencipta.
Akan tetapi sebagian besar manusia tidak mau mengambil manfaat ilmu pengetahuan dengan sebenarnya seolah-olah mereka tidak berpengetahuan.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama
kandungan Surah An-Naml Ayat 61 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S