Surah Asy-Syu’ara Ayat 136-140; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syu'ara Ayat 136-140

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 136-140 ini, menerangkan bahwa kaum ‘ad tetap durhaka dan tidak mengindahkan seruan Nabi Hud. Dalam firman-Nya yang lain, Nabi Hud mengancam kaumnya dengan mengatakan bahwa jika mereka tetap ingkar, mereka akan dihancurkan oleh Allah dan menggantinya dengan kaum yang lain, yang akan berkuasa dan menjadi cikal-bakal bagi generasi-generasi mendatang.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’ara Ayat 136-140

Surah Asy-Syu’ara Ayat 136
قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُن مِّنَ الْوَاعِظِينَ

Terjemahan: Mereka menjawab: “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat,

Tafsir Jalalain: قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُن مِّنَ الْوَاعِظِينَ (Mereka menjawab, “Adalah sama saja bagi kami apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat) pada prinsipnya sama saja, yaitu kami tidak akan mengindahkan lagi nasihatmu.

Tafsir Ibnu Katsir: Mereka menjawab, “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab. Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Al lah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Allah Swt. berfirman, menceritakan jawaban kaum Hud terhadap Hud a.s. sesudah Hud menyeru mereka dengan anjuran dan peringatan dan mempertakuti mereka (dengan azab Allah), serta menjelaskan kepada mereka perkara yang hak dengan sejelas-jelasnya.

Mereka menjawab, “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat. (Asy-Syu’ara’: 136) Yakni kami tidak akan beranjak dari kebiasaan kami, seperti pengertian yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya: dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu,

dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. (Hud: 53) Dan memang demikianlah perkaranya, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (Al-Baqarah: 6)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa kaum ‘ad tetap tidak mengindahkan seruan Nabi Hud, bahkan mereka berkata, “Menurut pendapat kami sama saja engkau berikan peringatan atau tidak, kami tetap pada pendirian kami. Kami tidak mau lagi mendengar kata-katamu, dan tidak akan mundur sedikit pun dari pendirian kami.”.

Tafsir Quraish Shihab: Dengan sikap mencemooh, mereka berkata,
“Baik kamu sampaikan nasihat dan peringatan itu kepada kami ataupun tidak, sebenarnya sama saja bagi kami.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 137
إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ

Terjemahan: (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu.

Tafsir Jalalain: إِنْ (Tiada lain) هَذَا (hal ini) apa yang kamu takut-takuti kami dengannya إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (hanyalah adat kebiasaan dahulu,) kebiasaan dan kedustaan mereka. Menurut qiraat yang lain dibaca Khalqul Awwaliina; maksudnya: Tiada lain apa yang kami lakukan ini, yaitu ingkar kepada adanya hari berbangkit, melainkan kebiasaan dan tradisi orang-orang dahulu.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 64-67; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: (Al-Baqarah: 6) Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman. (Yunus: 96) Adapun firman Allah Swt.: (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu. (Asy-Syu’ara’: 137) Sebagian ulama ada yang membacanya khalqu, bukan khuluqu.

Tafsir Kemenag: Selanjutnya mereka mengatakan bahwa agama yang mereka anut adalah agama nenek moyang yang telah diwariskan kepada mereka. Mereka yakin tidak akan diazab karena mengikuti agama nenek moyang itu.

Pada ayat yang lain diterangkan bahwa Hud menantang kaumnya yang semakin ingkar itu dengan menyeru mereka agar melakukan usaha untuk membunuhnya dilakukan bersama-sama. Hud juga menyuruh mereka untuk mengikutkan dewa-dewa yang mereka sembah, seandainya mereka benar-benar percaya akan kemampuan dewa-dewa itu melakukan sesuatu yang mereka inginkan.

Seakan-akan Hud berkata kepada mereka, “Bersatulah kamu sekalian dengan dewa-dewa yang kamu sembah itu untuk membunuhku, dan laksanakanlah pembunuhan itu sekarang juga, jangan ditangguhkan lagi. Aku tidak takut sedikit pun dibunuh karena aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu yang sebenarnya. Makhluk apa pun yang ada di bumi ini selalu dijaga, dipelihara, dan dikuasai oleh Allah dan perkataan-Nya selalu benar dan lurus.”

Tantangan yang dikemukakan Hud kepada kaumnya adalah bukti bahwa dia seorang rasul yang diutus Allah. Andaikata ia bukan seorang rasul, dia tidak akan berani melakukan tantangan yang demikian terhadap kaumnya yang lebih kuat tubuhnya dan lebih kejam sifatnya.

Tafsir Quraish Shihab: Apa yang kamu sampaikan itu tidak lebih dari kebohongan dan kebatilan orang-orang sebelum kamu yang dikemas dalam bentuk lain. Oleh karenanya, kami tidak akan meninggalkan apa yang ada pada kami.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 138
وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ

Terjemahan: Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman.

Tafsir Jalalain: وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (Dan kami sekali-kali tidak akan diazab”).

Tafsir Ibnu katsir: (Dan kami sekali-kali tidak akan diazab”).

Tafsir kemenag: Selanjutnya mereka mengatakan bahwa agama yang mereka anut adalah agama nenek moyang yang telah diwariskan kepada mereka. Mereka yakin tidak akan diazab karena mengikuti agama nenek moyang itu.

Pada ayat yang lain diterangkan bahwa Hud menantang kaumnya yang semakin ingkar itu dengan menyeru mereka agar melakukan usaha untuk membunuhnya dilakukan bersama-sama. Hud juga menyuruh mereka untuk mengikutkan dewa-dewa yang mereka sembah, seandainya mereka benar-benar percaya akan kemampuan dewa-dewa itu melakukan sesuatu yang mereka inginkan.

Seakan-akan Hud berkata kepada mereka, “Bersatulah kamu sekalian dengan dewa-dewa yang kamu sembah itu untuk membunuhku, dan laksanakanlah pembunuhan itu sekarang juga, jangan ditangguhkan lagi. Aku tidak takut sedikit pun dibunuh karena aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu yang sebenarnya. Makhluk apa pun yang ada di bumi ini selalu dijaga, dipelihara, dan dikuasai oleh Allah dan perkataan-Nya selalu benar dan lurus.”

Baca Juga:  Surah An Nisa Ayat 31-32; Seri Tadabbur Al Qur'an

Tantangan yang dikemukakan Hud kepada kaumnya adalah bukti bahwa dia seorang rasul yang diutus Allah. Andaikata ia bukan seorang rasul, dia tidak akan berani melakukan tantangan yang demikian terhadap kaumnya yang lebih kuat tubuhnya dan lebih kejam sifatnya.

Tafsir Quraish Shihab: Dan kami tidak akan diazab karena telah melakukan semua itu.”

Surah Asy-Syu’ara Ayat 139
فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ

Terjemahan: Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

Tafsir Jalalain: فَكَذَّبُوهُ (Maka mereka mendustakannya) mendustakan adanya azab itu فَأَهْلَكْنَاهُمْ (lalu Kami binasakan mereka) di dunia dengan angin. إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda, kekuasaan Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman).

Tafsir Ibnu Katsir: Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan. (Nuh: 4) Karena itulah Allah Swt. menyebutkan dalam surat ini melalui firman-Nya: Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. (Asy-Syu’ara’: 139)”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa kaum ‘ad tetap durhaka dan tidak mengindahkan seruan Nabi Hud. Dalam firman-Nya yang lain, Nabi Hud mengancam kaumnya dengan mengatakan bahwa jika mereka tetap ingkar, mereka akan dihancurkan oleh Allah dan menggantinya dengan kaum yang lain, yang akan berkuasa dan menjadi cikal-bakal bagi generasi-generasi mendatang. Sedangkan mereka tidak akan dapat mendatangkan kemudaratan sedikit pun kepada Allah. Allah berfirman:

Maka jika kamu berpaling, maka sungguh, aku telah menyampaikan kepadamu apa yang menjadi tugasku sebagai rasul kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti kamu dengan kaum yang lain, sedang kamu tidak dapat mendatangkan mudarat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pemelihara segala sesuatu.” (Hud/11: 57).

Di antara kaum ‘ad ini ada yang beriman kepada Nabi Hud, tetapi sebagian besar dari mereka tetap ingkar. Kaum ‘ad yang tidak beriman ini dimusnahkan Allah dengan mendatangkan angin yang sangat dingin, hingga mereka mati bergelimpangan, kota-kota dan negeri mereka roboh dan terpendam dalam tanah, sebagaimana firman Allah:

Sedangkan kaum ‘ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin, Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus, maka kamu melihat kaum ‘ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka adakah kamu melihat seorang pun yang masih tersisa di antara mereka? (Al-haqqah/69: 6-8).

Kaum ‘ yang tidak beriman dan dibinasakan Allah itu disebut ‘?d al-¸la (‘ad yang pertama). Adapun orang-orang yang beriman dan diselamatkan Allah bersama-sama dengan Nabi Hud disebut ‘ad ats-saniyah (‘ad yang kedua).

Di antara mereka yang beriman ini ada yang pindah bersama Nabi Hud ke sebelah selatan, yakni Hadramaut. Sampai sekarang di daerah itu masih ada kota yang bernama Madinah Qabri Hud, yang terletak sebelah timur kota Tariem, salah satu kota terbesar di Hadramaut.

Baca Juga:  Surah As-Saffat Ayat 133-138; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Di Madinah Qabri Hud ini terdapat sebuah kuburan yang bernama Qabri Hud, yang diabadikan sampai sekarang, untuk menjadi bukti atas kebenaran kisah Hud yang tersebut di dalam Al-Qur’an.

Sekalipun negeri kaum ‘ad terpendam di dalam tanah akibat azab Allah, namun masih ada tanda-tanda bahwa tempat itu pernah didiami manusia yang berkebudayaan tinggi. Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menyuruh orang mengadakan perjalanan di muka bumi untuk memperhatikan bekas-bekas pemukiman penduduk yang telah dibinasakan oleh Allah, di antaranya kaum Hud, untuk dijadikan sebagai pelajaran.

Pada abad ke-20 datang ke sana ekspedisi yang dipimpin oleh sarjana-sarjana Barat, di antaranya yang dipimpin oleh H. St. John Philby, yang dapat mengadakan ekspedisi ke ar-Rub’ al-Khali atas izin Raja Arab Saudi, Abdul Aziz Alu Su’ud. Dia menulis sebuah buku yang berjudul The Heart of Arabia. Seorang sarjana Belanda, Van der Mulen, juga pernah memimpin ekspedisi ke sekitar ar-Rab’ al-Khali, dan menulis sebuah buku berjudul Hadramaut.

Kisah Nabi Hud dan kaumnya hanya disebut dalam Al-Qur’an, tidak terdapat pada kitab-kitab Samawi yang lain. Pada kisah kaum Hud itu terdapat pelajaran bagi kaum Muslimin, karena mereka yang dibinasakan itu adalah mereka yang tidak beriman.

Tafsir Quraish Shihab: Demikianlah, mereka tetap bersikeras mempertahankan pendustaan yang ada. Maka Allah mempercepat kebinasaan mereka. Sesungguhnya apa yang Allah turunkan kepada kabilah ‘Ad sebagai balasan pendustaan mereka, merupakan bukti yang menunjukkan kemahakuasaan Allah. Tetapi kebanyakan mereka yang dibacakan berita ‘Ad ini tidak beriman.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 140
وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

Terjemahan: Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Tafsir Jalalain: وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (Dan sesungguhnya Rabbmu, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang).

Tafsir Ibnu Katsir: Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Tafsir Kemenag: Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa Tuhan Muhammad adalah Tuhan Yang Mahakuasa dalam mengambil pembalasan dari orang-orang yang durhaka, dan rahmat-Nya dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Tafsir Quraish Shihab: Dan sesungguhnya Tuhanmu Mahaperkasa untuk menghancurkan para pembangkang, Maha Pengasih terhadap orang-orang beriman.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 136-140 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S