Surah Asy-Syu’ara Ayat 213-220; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syu'ara Ayat 213-220

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 213-220 ini, melarang Nabi Muhammad dan umatnya menyembah tuhan-tuhan selain Allah. Allah juga memerintahkan Nabi Muhammad agar menyampaikan agama kepada para kerabatnya, dan menyampaikan janji dan ancaman Allah terhadap orang-orang yang mengingkari dan menyekutukan-Nya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar berlaku ramah dan rendah hati kepada orang-orang yang baru saja beriman dan menerima seruannya, jangan sekali-kali berlaku sombong, agar hati mereka tertarik, rasa kasih sayang sesama mukmin terjalin, dan mereka juga mencintainya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’ara Ayat 213-220

Surah Asy-Syu’ara Ayat 213
فَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ

Terjemahan: Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diazab.

Tafsir Jalalain: فَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ (Maka janganlah kamu menyeru tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kalian termasuk orang-orang yang diazab) jika kamu melakukan hal tersebut, sebagaimana yang dimintakan oleh orang-orang musyrik itu.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman memerintahkan agar manusia beribadah hanya menyembah kepada-Nya semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya serta mengabarkan bahwa barangsiapa yang menyekutukan-Nya, niscaya Dia akan mengadzabnya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini melarang Nabi Muhammad dan umatnya menyembah tuhan-tuhan selain Allah. Mereka diperintahkan untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa, ikhlas dalam ketaatan dan ketundukan kepada-Nya. Menyembah tuhan-tuhan yang lain di samping menyembah Allah menjadi penyebab seseorang ditimpa azab neraka.

Tafsir Quraish Shihab: Maka hadapkanlah dirimu, Muhammad, kepada Allah. Ikhlaslah selalu dalam beribadah kepada-Nya, dan jangan hirukan anggapan-anggapan orang-orang musyrik yang rancu dan salah itu. (Ajakan kepada rasul untuk mengikhlaskan diri, seperti termaktub dalam ayat ini, juga merupakan ajakan untuk seluruh umatnya).

Surah Asy-Syu’ara Ayat 214
وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Terjemahan: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,

Tafsir Jalalain: وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ (Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat) mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Mutalib, lalu Nabi saw. memberikan peringatan kepada mereka secara terang-terangan; demikianlah menurut keterangan hadis yang telah dikemukakan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman memerintahkan kepada Rasul-Nya, Muhammad saw. untuk memperingatkan keluarganya yang terdekat dimana tidak ada yang bisa menyelamatkan diri mereka kecuali keimanannya kepada Rabb swt.

Tafsir Kemenag: Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar menyampaikan agama kepada para kerabatnya, dan menyampaikan janji dan ancaman Allah terhadap orang-orang yang mengingkari dan menyekutukan-Nya.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, dan perawi lainnya dari Abu Hurairah bahwa ia berkata, “Tatkala ayat ini turun, Rasulullah lalu memanggil orang-orang Quraisy untuk berkumpul di Bukit safa. Di antara mereka ada yang datang sendiri, dan ada yang mengirimkan wakilnya. Setelah berkumpul, lalu Rasulullah berkhutbah, ‘Wahai kaum Quraisy, selamatkanlah dirimu dari api neraka.

Sesungguhnya aku tidak mempunyai kesanggupan memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat kepadamu. Wahai sekalian Bani Ka’ab bin Lu’ai, selamatkanlah dirimu dari api neraka, maka sesungguhnya aku tidak mempunyai kesanggupan memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat kepadamu. Hai Bani Qusai, selamatkanlah dirimu dari api neraka.

Sesungguhnya aku tidak mempunyai kesanggupan memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat kepadamu. Hai Bani Abdul Manaf, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak mempunyai kesanggupan untuk memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat kepadamu, ketahuilah aku hanya dapat menghubungi karibku di dunia ini saja.”

Ayat ini diturunkan pada awal kedatangan Islam, ketika Nabi Muhammad mulai melaksanakan dakwahnya. Beliau mula-mula diperintahkan Allah agar menyeru keluarganya yang terdekat. Setelah itu secara berangsur-angsur menyeru masyarakat sekitarnya, dan akhirnya kepada seluruh manusia.

Tafsir Quraish Shihab: Peringatkanlah keluarga dekatmu akan azab akibat kemusyrikan dan kemaksiatan. Kemudian peringatkanlah mereka yang hubungan keluarganya lebih jauh, dan begitu seterusnya.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 215
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Terjemahan: dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.

Tafsir Jalalain: وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ (Dan rendahkanlah dirimu) berlaku lemah lembutlah kamu لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman).

Tafsir Ibnu Katsir: Serta memerintahkan untuk bersikap lembut kepada para pengikutnya yang termasuk hamba-hamba Allah yang beriman. Barangsiapa di antara makhluk Allah yang bermaksiat kepada-Nya dalam keadaan bagaimanapun, maka hendaklah ia berlepas diri darinya.

Tafsir Kemenag: Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar berlaku ramah dan rendah hati kepada orang-orang yang baru saja beriman dan menerima seruannya, jangan sekali-kali berlaku sombong, agar hati mereka tertarik, rasa kasih sayang sesama mukmin terjalin, dan mereka juga mencintainya. Dengan demikian, dakwah hendaknya selalu dilakukan dengan rendah hati dan etika yang baik. Allah berfirman:

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 61; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka,

dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (ali ‘Imran/3: 159).

Tafsir Quraish Shihab: Dan berlemah lembutlah kepada mereka yang telah menerima seruanmu untuk beriman.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 216
فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تَعْمَلُونَ

Terjemahan: Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”;

Tafsir Jalalain: فَإِنْ عَصَوْكَ (Jika mereka mendurhakaimu) yakni kerabat-kerabat terdekatmu itu فَقُلْ (maka katakanlah) kepada mereka; إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تَعْمَلُونَ (“Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kalian kerjakan”) tentang penyembahan kalian kepada selain Allah itu.

Tafsir Ibnu Katsir: Untuk itu Allah berfirman: فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تَعْمَلُونَ (“Jika mereka mendurhakaimu, maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggungjawab terhadap apa yang kamu kerjakan.”) peringatan khusus ini berarti menghapuskan peringatan yang umum, bahkan hal tersebut merupakan salah satu bagian di antaranya. Sebagaimana firman Allah: “Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.” (Yaasiin: 6)

Firman Allah: لِأُنذِرَكُم بِهِ وَمَن بَلَغَ (“Supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Qur’an [kepadanya].”) (al-An’am: 19)

Di dalam hadits shahih Muslim disebutkan: “Demi Rabb Yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak ada seorang pun di antara umat ini yang mendengar dariku, baik Yahudi maupun Nasrani kemudian dia meninggal dan tidak beriman kepadaku, pasti ia termasuk penduduk neraka.”

Banyak sekali hadits-hadits yang berkenaan dengan sebab turunnya ayat yang mulia ini. Di antaranya:

  1. Imam Ahmad ra. meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: Ketika Allah menurunkan ayat: وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ (“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”) Nabi saw. mendatangi bukti Shafa, lalu naik ke atasnya dan memanggil: “Hai orang-orang yang ada di pagi hari.” Lalu berhimpunlah banyak orang menuju beliau, baik orang yang datang langsung atau mengutus seseorang. Maka Rasulullah saw. bersabda: “Ya Bani ‘Abdul Muththalib, ya Bani Fihr, ya Bani Lu-ay. Apa pendapat kalian seandainya aku kabarkan kepada kalian bahwa satu pasukan kuda yang ada di balik gunung ini hendak menyerang kalian, apakah kalian mempercayai aku?” mereka menjawab: “Ya.” Beliau pun bersabda: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan di hadapan Rabb yang memiliki adzab yang pedih.”

Lalu Abu Lahab berkata: “Celaka engkau sepanjang hari, apakah engkau memanggil kami hanya untuk ini?” lalu Allah menurunkan: تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.”)(al-Lahab: 1) (HR Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i)

  1. Imam Ahmad berkata bahwa ‘Aisyah ra. berkata tatkala turun: wa andzir ‘asyiiratakal aqrabiin (“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”) Rasulullah saw. berdiri dan bersabda: “Ya Fathimah binti Muhammad, ya Shafiyyah putri ‘Abdul Muththalib, ya Bani ‘Abdul Muththalib. Aku tidak dapat membela kalian sedikitpun dari Allah swt. Mintalah kalian dari bagian hartaku yang kalian inginkan.” (HR Muslim)
  2. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abu Hurairah ra. berkata: Tatkala turun ayat ini: wa andzir ‘asyiiratakal aqrabiin (“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”), Rasulullah saw. memanggil orang-orang Quraisy, baik secara umum maupun secara khusus. Lalu beliau bersabda: “Hai orang-orang Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai Bani Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai bani ‘Abdul Muththalib, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Sesungguhnya aku – demi Allah- tidak dapat membela sedikitpun di hadapan Allah, kecuali kalian memiliki hubungan rahim yang akan memercikkan basahnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi dari hadits ‘Abdul Malik bin ‘Umair dan at-Tirmidzi berkata: “Gharib dari jalur ini.” Diriwayatkan pula oleh an-Nasa-i serta keduanya ditakhrij di dalam ash-Shahihain dari hadits az-Zuhri).
  3. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ‘Ali ra. berkata: tatkala turun ayat ini: وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ (“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”), Nabi menghimpun keluarganya hingga mencapai 30 orang, lalu mereka makan dan minum, kemudian Nabi saw. berkata kepada mereka: “Siapa yang dapat menanggung hutang dan perjanjianku dan ia akan bersamaku di surga serta menjadi penggantiku di dalam keluargaku?” maka berkata seorang laki-laki –yang tidak disebut namanya oleh Syuraik-: “Hai Rasulullah, engkau adalah lautan, siapakah yang mampu melaksanakan hal tersebut?” Kemudian beliau mengatakan hal itu –sebanyak tiga kali- kepada yang lainnya dan disodorkan kepada keluarganya. Maka ‘Ali berkata: “Aku.”
Baca Juga:  Surah Ibrahim Ayat 27; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Allah memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad dalam melakukan dakwahnya, yaitu jika keluarga dekat, karib kerabat tidak mengindahkan seruannya, hendaklah ia mengatakan kepada mereka bahwa ia berlepas diri dari kedurhakaan dan keingkaran mereka. Allah mengancam sikap dan tindakan mereka itu dengan azab yang sangat pedih sebagai balasan dari perbuatan mereka.

Tidak seorang pun yang dapat melepaskan diri dari azab Allah pada hari akhirat. Harta, anak, dan keluarga tidak lagi berguna sedikit pun untuk melepaskan diri dari azab Allah. Hanya orang yang menghadap Allah dengan iman dan amal salehlah yang dapat terhindar dari azab Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Jika mereka, ternyata, tetap mendurhakai dan tidak mematuhimu, maka bebaskanlah dirimu dari mereka dan dari perbuatan-perbuatan mereka seperti kemusyrikan dan kemaksiatan-kemaksiatan lainnya.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 217
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ

Terjemahan: Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,

Tafsir Jalalain: وَتَوَكَّلْ (Dan bertawakallah) dapat dibaca Watawakkal dan Fatawakkal, jika dibaca Fatawakkal artinya, maka bertawakallah عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang) maksudnya, serahkanlah semua perkaramu kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: firman Allah: وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (“Dan bertakwalah kepada [Allah] Yang Mahaperkasa lagi Mahapenyayang].”) dalam sebuah urusanmu. Karena Dia adalah pendukung, pemelihara, penolong, penghantar dan peninggi kalimatmu.

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad jika ia telah melaksanakan perintah Allah menyampaikan agama-Nya kepada orang-orang Mekah, tetapi mereka tidak mengindahkan seruan, maka hendaklah ia bertawakal dan menyerahkan semua urusan kepada-Nya.

Hanya Allah yang sanggup membela Nabi dari segala tipu daya musuh, dan menolongnya dari segala macam bencana yang akan menimpa. Hanya Allah yang melimpahkan rahmat, dan mengetahui segala perbuatan dan gerak-gerik hamba-Nya.

Allah melihat Nabi ketika melakukan salat Tahajud, rukuk, sujud, dan mengimami orang-orang yang sujud.” Kata “sujud” dalam ayat ini maksudnya ialah orang-orang yang salat. Allah menyebut orang-orang yang salat dengan orang-orang yang sujud adalah untuk menunjukkan bahwa pada waktu sujud itulah seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya.

Allah menerangkan kepada Nabi Muhammad bahwa Dia Maha Mendengar segala tutur dan percakapan beliau, dan Maha Mengetahui perbuatan Nabi, baik yang beliau nyatakan ataupun yang tidak, dan Dia mengetahui segala isi hati beliau. Allah Mahakuasa memberi pembalasan kepada beliau dengan seadil-adilnya.

Tafsir Quraish Shihab: Lalu serahkanlah segala urusanmu kepada Sang Mahaperkasa lagi Mahakuasa untuk menghancurkan–dengan ‘izzah-Nya–musuh-musuhmu. Dia akan memberikan pertolongan kepadamu, juga kepada orang-orang yang ikhlas dalam perbuatan dengan rahmat-Nya.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 218
الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ

Terjemahan: Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang),

Tafsir Jalalain: الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ (Yang melihat kamu ketika kamu berdiri) untuk melakukan salat.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ (“Yang melihatmu ketika kamu berdiri [untuk shalat].”) yaitu Dia memperhatikanmu. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا (“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.” (ath-Thuur: 48)

Ibnu ‘Abbas berakata: الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ (“Yang melihatmu ketika kamu berdiri [untuk shalat].”) yaitu hendak shalat. ‘Ikrimah berkata: “Dia memperhatikan berdiri, ruku’ dan duduknya.” Sedangkan al-Hasan berkata: الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ (“Yang melihatmu ketika kamu berdiri [untuk shalat].”) jika engkau shalat sendiri. Qatadah berkata: الَّذِي يَرَاكَ (“Yang memperhatikanmu”) dalam keadaan berdiri dan duduk serta dalam seluruh keadaanmu.

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad jika ia telah melaksanakan perintah Allah menyampaikan agama-Nya kepada orang-orang Mekah, tetapi mereka tidak mengindahkan seruan, maka hendaklah ia bertawakal dan menyerahkan semua urusan kepada-Nya.

Hanya Allah yang sanggup membela Nabi dari segala tipu daya musuh, dan menolongnya dari segala macam bencana yang akan menimpa. Hanya Allah yang melimpahkan rahmat, dan mengetahui segala perbuatan dan gerak-gerik hamba-Nya. Allah melihat Nabi ketika melakukan salat Tahajud, rukuk, sujud, dan mengimami orang-orang yang sujud.”

Baca Juga:  Surah Al-Munafiqun Ayat 1-4; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Kata “sujud” dalam ayat ini maksudnya ialah orang-orang yang salat. Allah menyebut orang-orang yang salat dengan orang-orang yang sujud adalah untuk menunjukkan bahwa pada waktu sujud itulah seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya.

Allah menerangkan kepada Nabi Muhammad bahwa Dia Maha Mendengar segala tutur dan percakapan beliau, dan Maha Mengetahui perbuatan Nabi, baik yang beliau nyatakan ataupun yang tidak, dan Dia mengetahui segala isi hati beliau. Allah Mahakuasa memberi pembalasan kepada beliau dengan seadil-adilnya.

Tafsir Quraish Shihab: Yang menyaksikanmu bangun untuk bertahajud dan saat kamu mengerjakan kebajikan.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 219
وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

Terjemahan: dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.

Tafsir Jalalain: وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ (Dan melihat pula perubahan gerakmu) ketika kamu menjalankan rukun-rukun salat; mulai dari berdiri, duduk, rukuk dan sujud (di antara orang-orang yang sujud).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ (“Dan [melihat pula] perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.”) Qatadah berkata: الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ (“Yang melihatmu ketika kamu berdiri [untuk shalat]. Dan [melihat pula] perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yangsujud.”) di waktu shalat sendiri dan berjamaah, dan Dia melihatmu. Inilah pendapat ‘Ikrimah, ‘Atha’ al-Khurasani dan al-Hasan al-Bahsri.

Mujahid berkata: “Rasulullah saw. dapat melihat orang yang berada dibelakangnya sebagaimana beliau dapat meliahat orang yang berada di depannya.” Ini dibenarkan oleh sebuah hadits: “Ratakanlah shaf-shaf kalian, karena aku melihat kalian dari belakangku.”

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad jika ia telah melaksanakan perintah Allah menyampaikan agama-Nya kepada orang-orang Mekah, tetapi mereka tidak mengindahkan seruan, maka hendaklah ia bertawakal dan menyerahkan semua urusan kepada-Nya.

Hanya Allah yang sanggup membela Nabi dari segala tipu daya musuh, dan menolongnya dari segala macam bencana yang akan menimpa. Hanya Allah yang melimpahkan rahmat, dan mengetahui segala perbuatan dan gerak-gerik hamba-Nya.

Allah melihat Nabi ketika melakukan salat Tahajud, rukuk, sujud, dan mengimami orang-orang yang sujud.” Kata “sujud” dalam ayat ini maksudnya ialah orang-orang yang salat. Allah menyebut orang-orang yang salat dengan orang-orang yang sujud adalah untuk menunjukkan bahwa pada waktu sujud itulah seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya.

Allah menerangkan kepada Nabi Muhammad bahwa Dia Maha Mendengar segala tutur dan percakapan beliau, dan Maha Mengetahui perbuatan Nabi, baik yang beliau nyatakan ataupun yang tidak, dan Dia mengetahui segala isi hati beliau. Allah Mahakuasa memberi pembalasan kepada beliau dengan seadil-adilnya.

Tafsir Quraish Shihab: Dan Yang memperhatikan tingkah lakumu di tengah-tengah mereka yang sedang salat, ketika kamu sedang bediri, rukuk, sujud dan ketika engkau sedang memimpin mereka bersembahyang.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 220
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Terjemahan: Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Tafsir Jalalain: إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (“Sesungguhnya Dia adalah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui.”) yaitu Maha mendengar seluruh perkataan hamba-hamba-Nya lagi Maha mengetahui seluruh gerakan dan diamnya mereka.

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan kepada Nabi Muhammad bahwa Dia Maha Mendengar segala tutur dan percakapan beliau, dan Maha Mengetahui perbuatan Nabi, baik yang beliau nyatakan ataupun yang tidak, dan Dia mengetahui segala isi hati beliau. Allah Mahakuasa memberi pembalasan kepada beliau dengan seadil-adilnya.

Tafsir Quraish Shihab: Allah subhanahu wa ta’ala sungguh Maha Mendengar doa dan zikirmu, Maha Mengetahui niat dan perbuatanmu. Seolah-olah Allah berkata kepada Nabi, “Jangan kamu memaksakan dirimu menahan keberatan-keberatan beribadah, karena kamu berada dalam penglihatan dan pengawasan Kami.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 213-220 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S