Tasawuf: Mengenal Syariat, Tarekat, dan Hakikat

syariat tarekat hakikat

Pecihitam.org – Syariat, tarekat, hakikat adalah tiga kata yang muncul pada generasi ke tiga setelah Rasulullah, yaitu tabi’in tabi’it. Sejak saat itulah generasi selanjutnya dihiasi oleh ahli tasawuf yang akrab disebut sufi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Seorang sufi selalu menghadirkan Allah dalam dirinya tanpa adanya hijab. Untuk itulah dikenal konsep wahdatul wujud, dimana diri mereka berada dalam kenyamanan bersama Tuhan. Namun sebelum menjadi seorang sufi, seseorang terlebih dahulu memahami dan mengamalkan ketiga konsep Syariat, tarekat dan Hakikat. Lantas apa maksud dan perbedaan dari ketiga istilah tersebut?

Syariat adalah suatu aturan yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat Islam. Dalam kitab Maraqil Ubudiyah, Imam Nawawi menjelaskan syariat adalah segala bentuk aturan yang diberlakukan kepada umat Islam dengan Rasulullah sebagai perantaranya. Hukum-hukum yang sring digunakan meliputi wajib, sunnah, mubah, makruh, haram. Kelima hukum tersebut biasa kita temukan dalam kitab-kitab fiqih.

Seorang sufi harus benar-benar memahami syariat Islam, karena dalam pengamalannya syariat merupakan hal dasar yang menjadi syarat berartinya kedekatan. Tanpa paham syariat, kedekatan akan berakhir sia-sia. Implementasi dari sebuah ibadah tidak akan ada artinya. Atau yang lebih parah, ibadahnya dapat merusak kebaikan yang ada dalam dirinya.

Baca Juga:  Mengenal Istilah Mursyid dan Murid dalam Tarekat

Oleh karena itu, syarat menjadi sufi harus mempunyai pandangan luas terhadap syariat. Dengan begitu, ia bisa mengatasi permasalahan yang ada dalam dirinya dan dalam masyarakatnya.

Adapun tarekat adalah menjalankan perkara-perkara yang wajib dan sunnah, meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan, berusaha menjauhi segala sesuatu yang makruh dan tidak berguna, dan berusaha bersikap zuhud. Secara sederhananya tarekat bisa diartikan sebagai semua amalan yang bersifat lahiriah maupun batiniah untuk meningkatkan ketaqwaan hamba kepada Allah swt.

Tarekat sendiri dibagi menjadi dua, yaitu tarekat wajib dan tarekat sunnah. Tarekat wajib meliputi segala jenis amalan yang harus dilaksanakan setiap muslim. Amalan-amalan ini sudah tertuang dalam Al-Qur’an dan hadits. Contoh tarekat wajib diantaranya, sholat, puasa, zakat, dan haji. Semua amalan itu wajib dilakukan umat Islam dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.

Sedangkan tarekat sunnah meliputi segala bentuk amalan yang boleh dilakukan namun boleh ditinggalkan. Fungsi tarekat sunnah sendiri sebagai penyempurna tarekat wajib yang sudah dikerjakan. Dengan kata lain, sebelum melaksanakan tarekat sunnah, seseorang terlebih dahulu menyempurnakan tarekat wajibnya.

Baca Juga:  Tujuan Utama Mengamalkan Ajaran Tasawuf dalam Islam

Sehingga apabila tarekat wajib dan sunnah disatukan dapat menjadi amalan yang mendekatkan diri dengan Tuhan. Contoh tarekat sunnah adalah dzikir, sholat sunnah, dan mandi jum’at.

Tarekat ini dipakai para sufi sebagai jalan menggapai maqam mahmudah. Disini para sufi akan dihadapkan dengan beberapa tantangan, diantaranya istiqomah, zuhud, sabar, ridlo, qonaah, dan lain sebagainya.

Jika mampu menghadapi tantangan ini dengan baik, seorang sufi akan mendapatkan hati yang tentram dan mampu mengendalikan hawa nafsunya. Dirinya tidak akan mudah marah, akan senantiasa sabar, dan cerdas dalam menghadapi permasalahan.

Hakikat sendiri berarti berkeyakinan penuh akan adanya Allah. Dalam hakikat sendiri akan dihadapkan pada dzat, sifat, dan asma-asma Allah. Semua itu mempunyai tujuan yang sama untuk memantapkan hati akan kehadiran Allah.

Hakikat sendiri termasuk masalah hati, sejauh mana keyakinan hatinya sedekat itulah dirinya dengan Allah swt. Tidak akan pernah keliru, ketika hati seseorang sudah mantap akan adanya Allah, maka seluruh raganya akan mengatakan hal yang sama, karena seluruh tubuh manusia tergantung pada hatinya.

Baca Juga:  Benarkah Kaum Sufi Tidak Perlu Bekerja?

Sebenarnya pembagian antara syariat, tarekat, dan hakikat bertujuan memberikan gambaran seorang hamba bahwa di setiap laku ibadah yang dilakukan terdapat tingkatan-tingkatan. Tingkatan tersebut harus urut dijalankan.

Umumnya, seseorang tidak akan bisa mendapatkan maqam hakikat tanpa melalui maqam tarekat. Begitupun, orang yang mampu mencapai maqam tarekat pasti sudah melewati maqam syariat.

Dengan begitu, orang yang masih sampai pada maqam syariat tidak akan menyombongkan dirinya lantaran ilmunya. Dan begitu pula orang yang sudah mencapai maqam hakikat tidak akan sombong karena ketertundukkan nafsunya.

Muhammad Nur Faizi