Tahnik Bagi Bayi. Maksud, Cara Dan Keutamaannya

Tahnik Bagi Bayi. Maksud, Cara Dan Keutamaannya

PeciHitam.org – Sebagian orang tua mungkin belum tahu tentang tahnik bagi bayi, jadi Tahnik ialah melumurkan kurma ke langit-langit mulut bayi setelah kurma tersebut dilumat. (Lihat: Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2:3716, Multaqo Ahlil Hadits)

An-Nawawi mengatakan bahwa para pakar bahasa menyatakan tahnik ialah mengunyah kurma atau semacamnya kemudian mengoleskan atau menggosokkannya ke langit-langit mulut bayi. (Lihat: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An-Nawawi, 3:194, Dar Ihya’ At Turots, cet.2, 1392)

Tujuan dari tahnik bagi bayi adalah agar bayi terlatih mengunyah makanan serta menguatkan bayi tersebut untuk makan. (Lihat: Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 9:588, Darul Ma’rifah, 1379)

Dari Abu Musa bahwa beliau berkata:

وُلِدَ لِى غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ.

Artinya: “Suatu saat aku memiliki anak yang baru lahir, kemudian aku mendatangi Nabi SAW kemudian Beliau memberi nama padanya dan beliau mentahnik dengan sebutir kurma.” (HR. Muslim)

Baca Juga:  Fakta Tentang Hadits Tidur Setelah Ashar, Benarkah Ada Larangannya?

Dari ‘Aisyah bahwa beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ.

Atinya: “Rasulullah SAW didatangkan anak kecil, lalu Beliau mendoakan mereka dan mentahnik mereka.” (HR. Muslim)

An-Nawawi menyebutkan dua hadits tersebut dalam Shahih Muslim yaitu ialah:

استحباب تحنيك المولود عند ولا دته وحمله إلى صالح يحنكه وجواز تسميته يوم ولا دته واستحباب التسمية بعبدالله وإبراهيم وسائر أسماء الأنبياء عليهم السلام

Artinya: “Dianjurkan mentahnik bayi yang baru lahir, bayi tersebut dibawa ke orang sholih untuk ditahnik. Juga dibolehkan memberi nama pada hari kelahiran. Dianjurkan memberi nama bayi dengan Abdullah, Ibrahim dan nama-nama nabi lainnya.”

Jadi pelajaran penting tentang tahnik bagi bayi yaitu diantaranya ialah:

  • Para ulama sepakat tentang disunnahkannya dan dianjurkannya mentahnik bayi yang baru lahir dengan kurma sehingga tahnik dilakukan di hari pertama.
  • Jika tidak bisa mendapati kurma untuk mentahnik maka bisa digantikan dengan yang lainnya yang manis-manis.
  • Orang yang mentahnik mengunyah kurma hingga agak lumer dan mudah ditelan kemudian membuka mulut bayi yang selanjutnya mengoleskan atau menempelkan kunyahan kurma tersebut di langit-langit mulut bayi sehingga si bayi akan mencernanya ke dalam kerongkongannya.
  • Hendaknya yang melakukan tahnik ialah orang saleh sehingga bisa sekaligus diminta mendoakan keberkahan bayi, adapun dibebaskan yang mentahnik tersebut laki-laki ataupun perempuan serta jika orang yang mentahnik tidak dapat hadir maka hendaklah bayi tersebut yang didatangkan ke orang sholih tersebut. (lihat: Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14:122-123, An-Nawawi)
Baca Juga:  Dzulqa'dah: Bulan yang Agung dan Mengandung Banyak Kemuliaan Bagi Umat Islam

Perihal mengenai orang yang mentahnik boleh dilakukan oleh seorang wanita sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim bahwa Imam Ahmad bin Hambal ketika lahir salah satu bayinya menyuruh seorang wanita untuk mentahnik bayinya tersebut. (Lihat: Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2:3716)

Adapun ulama memberi penjelasan tentang urutan makanan yang dijadikan bahan untuk mentahnik yaitu diantaranya ialah, tamr atau kurma kering kalau tidak ada maka barulah rothb atau kurma basah dan kalau tidak ada juga barulah makanan manis yaitu yang bisa jadi pilihan ialah madu dan setelah itu kemuadian baru makanan yang tidak disentuh api. (Lihat: Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-Asqolani, 9:588)

Berdasarkan keterangan di atas maka dapat diketahui bahwa cara mentahnik bayi dengan kurma yaitu mengunyah kurma sampai halus kemudian menempelkan dan mengoleskan sedikit kunyahan kurma yang lembut tersebut ke langit-langit mulut bayi dan bukan memberikan kurma utuh kepada bayi.

Baca Juga:  Perbedaan Pendapat Ulama Terkait Membaca Shalawat

Jadi secara ringkasnya salah satu petunjuk Rasulullah SAW ketika bayi baru dilahirkan ialah mentahniknya dengan kurma dan mendoakan keberkahan bagi bayi karena segala sesuatu yang perah dilakukan Rasulullah SAW pasti ada hikmah dan manfaatnya.

Mochamad Ari Irawan

Author at Pecihitam.org
Alumni Pondok Pesantren Qomaruddin | Sarjana Hukum Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prodi Perbandingan Madzhab.
Mochamad Ari Irawan
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG