Sejarah Singkat Terjadinya Perang Salib 8 (1270 M)

perang salib 8

Pecihitam.org – Perang Salib 8 berlangsung pada tahun 1270 M yang di pimpin oleh Louis XI dari Prancis terhadap kota Tunis. Perang salib kedelapan juga sering disebut sebagai perang salib yang ketujuh, karena pada perang yang ke-5 dan ke-6 biasanya di anggap sebagai suatu perang salib tunggal.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Raja Louis selalu menyesali kegagalan saat Perang salib ke-7 yang mengakibatkan dirinya di tahan oleh kaum Mamluk. Sehingga Louis memutuskan untuk kembali menyusun rencana sebagai suatu upaya terakhir memaksakan status Eropa di Tanah Suci.

Selain itu, beberapa peristiwa lainnya yang membuat Louis merasa terusik dengan peristiwa-peristiwa di Suriah yaitu pada saat Sultan Mamluk Baibars menyerang sisa-sia dari negara-negara tentara salib.

Keadaan tersebut di gunakan oleh Baibars setelah Perang Santo Sabas yang mengakibatkan kota Venesia dan Genova saling berperang satu sama lain pada tahun 1256 M- 1270 M. Perang tersebut cukup menghabiskan tenaga serta sumber daya di pelabuhan –pelabuhan Suriah yang berada di bawah kendali dua kota tersebut.

Baca Juga:  Kisah Gus Dur Menyelamatkan Rumah Besar Indonesia

Pada tahun 1265 M, Baibars telah berhasil merebut Nazaret, Haifa, Toron dan Arsuf. Sementara itu, Hugues III dari Spirus, rasa nominal atas Kerajaan Yarussalem tiba di Akko dan berupaya untuk dapat mempertahankan kota tersebut. Sedangkan Baibars memilih untuk bergerak ke arah utara sampai ke Armenia yang pada saat itu berada di bawah kendali bangsa Mongol.

Setelah itu pada tahun 1267 M Louis melangsungkan suatu perang baru dengan pendukung yang sedikit yaitu hanya dukungan dari Jean den Joinville seorang penulis sejarah yang bersedia ikut serta mengiringi Louis saat Perang salib 8.

Sebelumnya Louis mendapat saran dari saudaranya yaitu Charles I dari Anjou untuk menyerang Tunis terlebih dahulu agar dapat memberikan landasan yang kuat untuk melakukan penyerangan terhadap Mesir. Charles sebagai Raja Sisilia juga memiliki kepentingan pribadi di daerah Mediterania tersebut.

Saat itu Tunis sedang berada di bawah pimpinan Khalifah Muhammad I al-Mustansir yang juga memiliki hubungan dengan kaum Kristen dan di anggap sebagai kandidat yang baik untuk konversi. Kepentingan Charles saat itu murni mengenai ekonomis dan bukan tentang religius.

Baca Juga:  Menilik Kemajuan Peradaban Islam Era Dinasti Abbasiyah

Pada misinya kali ini, Charles berhasil mengalahkan Konradin dalam pertempuran Tagliacozzo dan juga mampu mengamankan warisan Sisilia miliknya dari serangan Dinasti Hohenstaufen. Dan di lanjutkan pada tahun 1268 M, Baibars juga berhasil menaklukkan Antiokhia dan jatuh ke tangannya lalu ia membantai seluruh penduduk wilayah kota tersebut.

Kemudian Louis memutuskan untuk bertolak dari Prancis Selatan dan mendarat di pesisir Afrika pada bulan Juli tahun 1270 M dengan menggunakan armada yang besar. Namun kedatangannya tersebut tidak di dukung oleh musim pada waktu itu, sehingga tidak menguntungkan untuk melakukan pendaratan.

Oleh karena musim yang sedang tidak bersahabat maka banyak sekali para tentara salib yang menjadi sakit karena kondisi air minum yang buruk. Selain itu, Jean Tristan (putra Louis) yang lahir di Damietta akhirnya meninggal dunia karena terserang penyakit disentri pada tanggal 3 Agustus.

Baca Juga:  Sejarah Perang Salib dan Pentingnya Peranan Panglima Salahudin Al-Ayyubi

Dan di susul oleh kematian Louis pada tanggal 25 Agustus karena mengalami fluks di dalam perut pada tahun 1270 M, sehari setelah Charles tiba dengan mengucapkan kata terakhirnya yaitu “Yerussalem”. Setelah itu Charles mengumumkan putra Louis yaitu Phillipe III di nobatkan sebagai raja baru saat usianya yang masih sangat muda.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik