Perdebatan Terkait Sejarah Penciptaan Manusia Pertama Kali dalam al-Quran

Perdebatan Terkait Sejarah Penciptaan Manusia Pertama Kali dalam al-Quran

Pecihitam.org- Sejarah penciptaan manusia pertama kali dalam al-Qur’an tidak hanya terdapat dalam surat an-Nisa’ ayat 1 tetapi juga terdapat dalam tiga puluh ayat lainnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. al-Nisa’ [4]: 1).

Menurut Riffat Hasan, dari 30 ayat tentang penciptaan, ada 3 istilah yang digunakan untuk kemanusiaan (al-nas, basyar, dan al-insan). Dari ketiga istilah tersebut, tidak satu pun yang merujuk pada diri laki-laki (male person). Jadi, di sini tidak memiliki alasan yang tepat untuk menafsirkan bahwa ciptaan pertama adalah Adam sebagai manusia laki-laki, tetapi lebih tepat adalah diri manusia.

Dari sisi kriteria etis, penafsiran mufassir (al-Thabari dan al-Razi) memang kurang menunjukkan itu, karena tidak disandarkan pada keadilan dan kesetaraan.

Dalam tradisi Islam, al-Qur’an adalah “kalam Tuhan” yang dipercayai harus merefleksikan keadilan. Penafsiran nafs wahidah sebagai Adam, pada akhirnya mengimplikasikan ketidakadilan gender. Yang mengkhawatirkan, ayat tersebut dijadikan sebagai tulang punggung atau tolak ukur setiap penafsiran terhadap ayat-ayat lain yang berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan.

Baca Juga:  Benih-Benih Pendidikan Islam Nusantara Era Kesultanan Demak dan Kesultanan Mataram

Oleh karena perempuan diciptakan dari laki-laki, maka perempuan subordinat dari laki-laki. Dengan demikian, penafsiran yang menyatakan bahwa hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam telah keluar dari standar etis,karena Tuhan tidak mungkin berlaku tidak adil.

Dari kedua pendapat di atas, argumen yang pertama yakni dari Riffat Hasan. Yang perlu digarisbawahi dari pendapatnya adalah Rifat Hasan beranggapan bahwa Hawa tidak diciptakan dari Adam tetapi Hawa dan Adam sama-sama diciptakan dari diri yang sama yaitu diri manusia karena merujuk istilah yang dipakai dalam al-Qur’an yang tidak merujuk pada salah satu jenis laki-laki ataupun perempuan.

Pendapat ini jelas menolak subordinasi terhadap perempuan dalam proses penciptaan manusia. Sedangkan pendapat yang kedua dari al-Thabari, penafsirannya terkait ayat penciptaan manusia dan Hadits Nabi yang menyebutkan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam. Banyak pihak menganggap telah menyebabkan timbulnya ketidakadilan gender. Pendapat ini bertolak belakang dengan pendapat Riffat Hasan.

Perlu kiranya dalam memahami sejarah penciptaan dipahami tidak hanya dari satu atau dua sisi pendapat saja. Dalam hal ini penulis menemukan argumen yang mematahkan pendapat Riffat Hasan dan lebih condong kepada pendapatnya al-Thabari tentang penciptaan perempuan pertama kali (ibu Hawa) dari tulang rusuk Adam tetapi tidak bermaksud menjadikan subordinasi perempuan.

Baca Juga:  Bagaimana Etika Tawasul Yang Benar Agar Doa Kita Segera di Kabulkan Allah SWT?

Penulis beranggapan bahwa pendapat ketiga ini lebih kuat karena didasarkan pada penelitian ilmiah. Penelitian biologi mutakhir yang mengakui bahwa tidak seluruh gender betina (perempuan) tidak memilki kromosom Y. Ada sebagian sangat kecil dari mereka yang memilikinya. Jadi jangan coba-coba mendirikan Jurassic Park, potensi untuk sintas akan selalu ada. Fakta mutakhir itu juga menjelaskan fenomena transeksual (banci).

Nabi Adam memiliki kromosom X dan Y, sehingga darinya dapat dikloningkan sosok berkromosom XY (lelaki) maupun XX (perempuan). Namun “cloning” di langit itu lebih maju, karena tidak memerlukan masa tunggu yang lama sampai buah kloning (ibunda Hawa) menjadi dewasa dan layak menjadi pasangan hidup Nabi Adam. Bahan dasar untuk melakukan cloning dinamai sel tunas (stem cell).

Sel tunas dapat duperoleh dari janin (embrio) atau sum-sum tulang. Sum-sum tulang yang paling baik adalah yang berusia muda. Sumsum muda ini bisa saja didapatkan dari bagian rawan tulang rusuk. Jelaslah kini makna mereka (kaum perempuan) diciptakan dari tulang rusuk dalam hadis Nabi. Kloning pula barangkali yang dimaksud dengan belahan saat Nabi bersabda, “kaum perempuan adalah belahan (saudara/mitra) kaum laki-laki”.

Baca Juga:  Sunnah Rasul di Malam Jumat, Keutamaan Dan Hikmahnya

Dari penjelasan tersebut, memberikan gambaran bagi kita semua bahwa yang disebutkan dalam hadis bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam merupakan hal yang logis. Ketika diterjemahkan ke dalam bahasa biologi adalah proses cloning. Tetapi cloning yang sudah sangat canggih karena dilakukan oleh Tuhan.

Lebih lanjut lagi penulis buku tersebut menyebutkan bahwa hasil cloning tersebut merupakan mitra. Sebagai mitra tidak ada yang unggul satu sama lain tetapi keduanya setara dan harus saling menghargai. Terdapat banyak perbedaan pendapat dalam menafsirkan dalil tentang penciptaan manusia.

Perbedaan penafsiran di kalangan mufassir terkait sejarah penciptaan manusia pertama kali diantaranya karena berbeda latar belakang pemikiran, kondisi sosial keagamaan, dan metode yang mereka gunakan.

Mochamad Ari Irawan