Rahasia Dibalik Masa Kejayaan Islam

Rahasia Dibalik Masa Kejayaan Islam

PeciHitam.org – Peradaban umat Islam pernah mencapai puncak masa kejayaan Islam pada sekitar kurun ke-7 sampai dengan ke-13 Masehi, bahkan beberapa abad setelahnya pun pengaruh itu masih sangat terasa kuat di Eropa. Pada abad-abad yang disebut sebagai masa kejayaan Islam (the golden age of Islam) ini, peradaban muslim menjadi mercusuar peradaban dunia dan pelopor kecemerlangan di bidang ilmu, dengan jumlah perpustakaan beserta koleksinya yang sangat banyak.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pada masa kejayaan Islam itu, banyak dikenal dengan para ilmuwan Islam yang menguasai beragam displin keilmuan. Di bidang teologi terdapat nama al-Asy’ari (w. 935) dan al-Maturidi (w. 944). Di bidang sastra ada nama al-Jahiz (w. 780) dan Ibn Qutaybah (w. 828). Di bidang sejarah dan geografi muncul nama al-Baladhuri (w. 820) dan al-Ya’kubi (w. 897). Di bidang sufisme dikenal sosok al-Muhasibi (w. 857), Abu Yazid al-Bisthami (w. 875), dan al-Hallaj (w. 922).

Sementara di bidang kedokteran mengemuka nama-nama seperti al-Razi (w. 923-32) dan Ibn Sina (w. 1037). Di bidang matematika dan astronomi tampil al-Khawarizmi (w. setelah 846) dan Ibn Haitsam (w. 1039); dan di bidang filsafat ada al-Kindi, al-Farabi (870), dan Ibn Sina (980). Merekalah sebagian para ilmuwan yang menandai kecemerlangan dan supremasi ilmu peradaban muslim.

Baca Juga:  Pondok Pesantren; Sejarah Munculnya di Indonesia dan Kitab-Kitab yang di Pelajari

Salah satu bentuk pencapaian bidang ilmu dan status yang istimewa pada masa kejayaan peradaban Islam, pada kurun awal 750 M, Khalifah Bani Abbasiyah, Harun al-Rasyid, telah mendirikan observatorium di Damaskus, di mana kajian astronomi dan berbagai eksperimen dilakukan. Banyak ahli astronomi muslim seperti al-Farghani (850 M), al-Battani (858-929 M), dan Tsabit bin Qurra (826-901 M) berhasil melakukan eksperimen dan merumuskan teori sehingga pandangan kosmologi Islam lebih maju.

Ada juga observatorium seperti di Raqqa yang dibangun oleh al-Battani; di Syiraz yang dibangun oleh Abdurrahman al-Sufi; di Hamadan yang dipakai oleh Ibnu Sina; di Maragha yang dibangun oleh Hulagu Khan pada tahun 1261 M dan digunakan oleh Nasr al-Din al-Thusi. Selain itu, ada juga di Samarkhanda yang dibangun oleh Ulugh Beh di mana para ilmuwan seperti Qadizallah, Ali Qush, dan Ghiyats al-Din al-Khasyani menghasilkan banyak kajian astronomi dan eksperimen.

Baca Juga:  Nasab Sunan Gunung Jati, Betulkah Keturunan Rasulullah Saw?

Semangat umat yang sangat menghargai ilmu pada masa kejayaan Islam dapat diamati pada masa kekuasaan Bani ‘Abbasiyah, khususnya pada waktu Khalifah al-Ma’mun (berkuasa sejak 813-833 M). Penerjemahan buku-buku non-Arab ke dalam bahasa Arab terjadi secara besar-besaran dari awal abad kedua hingga akhir abad keempat hijriyah. Perpustakaan besar Bait al-Hikmah didirikan oleh Khalifah al-Ma’mun di Baghdad yang kemudian menjadi pusat penerjemahan dan intelektualitas.

Buku-buku yang diterjemahkan terdiri dari berbagai bahasa, mulai dari bahasa Yunani, Suryani, Persia, Ibrani, India, Qibti, Nibti, dan Latin. Di antara banyak pengetahuan dan kebudayaan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, karya-karya klasik Yunani adalah yang paling banyak menyita perhatian, khususnya karya-karya filsuf besar Yunani seperti Plato dan Aristoteles.

Proses penerjemahan yang berlangsung sekitar dua abad ini telah membawa pengaruh yang besar bagi umat Islam saat itu. Hal ini karena proses penerjemahan menjadi mediator dalam dialog antara kebudayaan pengetahuan pra-Islam dengan umat Islam yang sedang haus ilmu. Khazanah kebudayaan besar Yunani, Persia, dan India yang mulai ditinggalkan di negerinya sendiri, mendapatkan sambutan yang sangat luar biasa di dunia Islam.

Baca Juga:  Sunan Muria, Wali yang Rela Naik Turun Gunung Demi Berdakwah pada Rakyat Jelata

Bahkan hingga seorang khalifah bersedia membayar sebuah buku yang sudah diterjemahkan dengan nilai emas seberat buku tersebut. Selain itu, motivasi ini juga dilatarbelakangi oleh keyakinan umat Islam saat itu bahwa peradaban hanya dapat dibangun dengan ilmu yang kuat. Untuk melakukan proses tersebut, Islam yang baru saja berdiri tidak dapat melakukan tugas itu sendirian, melainkan harus dibantu dengan khazanah kebudayaan besar yang telah ada sebelumnya.

Mohammad Mufid Muwaffaq