Inilah 6 Tanda Orang yang Beriman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Inilah 6 Tanda Orang yang Beriman dalam Kehidupan Sehari-Hari

PeciHitam.org Ibarat siang dan malam, seorang yang beriman kepada Allah itu dapat dibedakan dengan jelas, baik dalam hal karakter pribadi, motivasi perbuatan, niat beramal, ucapan, tujuan melakukan sesuatu, maupun perilaku sehari-harinya dari orang yang tidak beriman.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam hal ini Dr Abd Rachman Assegaf memiliki temuan yang menarik dan patut diketahui oleh semua muslim. Berikut 6 Tanda orang yang beriman kepada Allah menurut Dr Abd Rachman Assegaf :

1.Selalu beribadah kepada Allah semata, bukan kepada selain Allah, dan dalam beribadah itu ia tidak mengharapkan apapun kecuali ridla dan maghfirahNya.

Perbuatannya tersebut kasat mata, yakni dapat disaksikan oleh orang banyak dan masyarakat luas, karena wujud ibadah itu tidak hanya salat, puasa, zakat dan haji, yang bersifat mahdhah (ibadah mumi), yakni hablun min Allah atau hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Tuhannya, melainkan amal ibadah ghair al-mahdhah yang terkait dengan hablun min an-nas atau hubungan horizontal dan interaksi (mu’amalah) antarsesama manusia.

Bagi orang yang beriman, kuliah adalah ibadah, jual-beli juga ibadah, bahkan berpolitik juga ibadah, bila dalam proses kuliah, bisnis dan berpolitik tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan Allah, dan untuk menjalankan syariat Allah, maka semuanya menjadi ibadah.

Ibadah tidak hanya di masjid atau mushola, tetapi di mana saja seorang muslim itu berada, ia bisa beribadah, apakah di kampus, di pasar, di terminal, di mal atau supermarket, di kantor.

Baca Juga:  5 Sumber Literatur Perkembangan Islam di Nusantara yang Harus Umat Tahu

2. Selalu beramal saleh dan memakmurkan bumi, karena ia sadar bahwa kehadirannya di muka bumi ini adalah sebagai hamba Allah dan khalifah.

Sebagai hamba Allah, dia sadar bahwa manusia yang lain, bahkan hewan, tumbuhan, mineral, benda mati maupun makhluk gaib adalah sesama makhluk Allah yang harus diperlakukan secara santun, damai dan penuh kasih sayang, tidak merusak, menguras kekayaan alam secara semena-mena, menebarkan permusuhan dan konflik serta lainnya.

Sebagai khalifah berarti manusia muslim kaffah berperan sebagai pengelola alam yang arif dan bijaksana, bukan sebaliknya, mengeksploitasi kekayaan alam untuk kepentingan sendiri dan sesaat, tanpa mempedulikan akibat yang ditimbul kannya bagi generasi berikutnya.

Amal saleh tidaklah identik dengan sekadar memberi sedekah pada fakir miskin, atau mengeluarkan amal jariah untuk kepentingan pembangunan masjid. Amal saleh berdimensi luas, tidak hanya terbatas pada tempat ibadah dan ritual, melainkan semua perbuatan baik bagi alam semesta.

3. Berakhlak karimah dan menjaga martabat dirinya agar tidak terjerumus ke dalam lembah kenistaan.

Dengan akhlak al-karimah ini dia akan menjadi manusia yang beradab, berbudaya dan berperikemanusiaan. Dia juga selalu menjaga dirinya dari kemaksiatan dan dengan kewaspaan ini dia juga meminimalisir kemaksiatan orang lain.

4. Batinnya selalu tenang karena kualitas spiritualnya telah penuh terisi dengan keyakinan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga:  Inilah 4 Fungsi Masjid Dilihat dari Perspektif Al-Quran dan Sunnah

Karenanya ia tidak mudah putus asa, frustasi, stress, depresi, atau menghadapi kenyataan hidup di dunia ini secara pesimistik. Sebaliknya justru dengan imannya kepada Allah tersebut menjadikan dirinya optimis, tidak mudah putus asa, tabah, sabar, ulet dan kreatif dalam menghadapi musibah yang terjadi pada dirinya di dunia ini.

5. Orang yang beriman adalah cerdas secara emosional dan spiritual, sebab baginya hidup ini penuh makna, bukan kosong atau hambar belaka.

Daniel Goleman, seorang penulis Emosional Intelligence (1995), membuktikan bahwa faktor intelek hanya berpengaruh sekitar 20% bagi kesuksesan hidup seorang manusia, selebihnya adalah dipengaruhi oleh daya-daya yang termasuk dalam emosi seseorang (EQ).

Begitu pula hasil penelitian Danah Zohar & lan Marshall, penulis buku Spiritual Inteligence: The Ultimate Intelligence (2000), menyatakan bahwa kecerdasan spiritual dipakai untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya sehingga jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain.

Spiritual Intelligence (SQ) adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan 10 dan EQ secara efektif. Bahkan, SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita.

Walaupun Danah Zohar & lan Marshall menyatakan bahwa kecerdasan spiritual itu bisa tumbuh tanpa dasar agama, namun perlu diingat bahwa agama Islam memberikan porsi yang amat luas bagi pengembangan mental-spiritual pemeluknya, sehingga pengembangan makna dan nilai dalam hidup seorang muslim kaffah tak dapat dilepaskan dari identitasnya sebagai seorang yang beragama (Islam).

Baca Juga:  Piagam Madinah; Sejarah, Isi dan Upaya Nabi Untuk Menyetarakan Hak-Kewajiban Masyakat

6. Seorang yang beriman selalu bersikap humanis, tetapi seorang humanis belum tentu beriman.

Mengapa demikian? Bagi seorang muslim, ia akan bersikap mawas diri terhadap hak dan kewajibannya terhadap sesama manusia (hablun min an-nas), sama seperti ia menjalankan hak dan kewajibannya kepada Tuhan (hablun min Allah).

Oleh karena itu, termasuk di antara tanda orang yang beriman adalah tidak melanggar HAM, bukan sekadar Hak Asasi Manusia saja, melain kan Hak Asasi Makhluk, yang berarti meliputi manusia, binatang, tumbuhan, mineral, benda mati, alam semesta, bahkan makhluk gaib.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan