Tiga Hal Ini yang Menyebabkan Orang Menjadi Radikal

Ini yang Menyebabkan Orang Menjadi Radikal

Pecihitam.org – Sebelum mengupas hal yang menyebabkan orang menjadi radikal, kita perlu sepakati dulu makna radikal itu. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebut makna radikal dengan amat keras melakukan perubahan. Maka dalam kehidupan sosial, orang atau kelompok yang keras dalam bersikap dan bertindak sering disebut sebagai seorang radikal.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Radikal sebagai sebuah paham atau yang sering disebut dengan Radikalisme mulanya hanya terjadi dalam politik. Namun dalam perkembangannya hampir semua aspek, termasuk dalam agama terpapar yang namanya Radikalisme.

Pengertian Radikalisme itu sendiri sebagaimana dimuat di laman Wikipedia merupakan suatu paham yang dibuat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan.

Karena keinginan mencapai tujuan yang drastis dan dengan cara kekerasan itulah, kelompok penganut Radikalisme ini biasanya menjadi kelompok yang merasa paling benar dan harus jadi pemenang. Tak heran jika dalam tindak-tanduknya, kelompok ini melakukan banyak cara termasuk mengatasnamakan agama untuk mencapai tujuan.

Hemat penulis, ada tiga hal yang menyebabkan orang menjadi radikal ataupun terpapar Radikalisme.

Pertama, kecewa

Program dan kebijakan politik pemerintah yang dianggap tidak memihak, menjadikan orang atau kelompok bertindak radikal. Hujatan di media bertubi-tubi menyerang pemerintah sebagai tindakan radikal buah dari kekecewaan. Kecewa memang hal biasa. Tapi ketika aspirasi kekecewaan berwujud dalam sumpah serapah, di sanalah seseorang telah mengambil jalan radikal.

Mahasiswa dan pelajar pun melampiaskan kekecewaan dengan melakukan aksi. Sebagai bagian dari kebebasan dalam demokrasi, demonstrasi memang sah secara hukum positif.

Baca Juga:  Rekruitment CPNS 2019, Pemerintah Pastikan Pendaftar yang Terpapar Radikalisme Tidak Bakal Lulus

Hanya saja ketika ban-ban dibakar, fasilitas umum dirusak dan ketertiban umum terganggu, tidak berlebihan kiranya disebut sebagai aksi anarki dan radikal.

Begitulah jika orang atau kelompok tidak siap menerima dan memahami dinamisnya kenyataan. 3 K. Awalnya Kagum, Menjadi Kecewa. Akhirnya Kutukan (bertindak radikal).

Kedua, kurang atau salah paham

“Masalahnya bisa saja sederhana. Tapi karena kurang atau salah paham akhirnya menjadi masalah yang kompleks.” Ungkapan ini cocok untuk menggambarkan sebagian besar penganut paham Radikalisme.

Dalam agama, orang atau kelompok bisa radikal karena kekurangpahaman atau kesalahpahamannya. Sejarah mencatat peristiwa kelam akibat radikalnya seseorang bernama Ibnu Muljam yang kurang atau salah paham dalam membaca langkah arbitrase antara Ali dan Muawiyah yang memutuskan perkara dengan jalan musyawarah.

Ia kemudian mengutuk Ali dan Muawiyah sebagai pelaku dosa besar dan kafir karena tidak berhukum pada hukum Allah. Ia kurang paham bahwa musyawarah merupakan bagian dari perintah Allah dalam memutuskan perkara.

Hingga puncaknya ia membunuh Ali dengan bangga karena merasa tindakan radikalnya itu benar, padahal salah besar.

Dalam politik ketika ulama terbelah menjadi dua kubu, seseorang kadang salah paham dengan berkata gara-gara politik ulama berubah. Padahal gara-gara tidak paham itulah, seseorang menjadi berubah sikapnya pada ulama. Yang awalnya ta’dzim berbalik menghina.

Andai saja mereka tahu dan paham bahwa dulu ketika ada suksesi kepemimpinan penerus tahta Kerajaan Demak yang kemudian berubah menjadi Kerajaan Pajang setelah dimenangkan oleh Jaka Tingkir atau Karebet yang bergelar Sultan Hadi Wijaya. Waktu itu Sunan Kudus menjagokan Arya Penangsang dan Sunan Kalijaga mendukung Jaka Tingkir. Tentunya ada alasan masing-masing dari kedua wali itu, salah satunya siapa pun yang menang akan ada ulama yang akan mengawal kebijakan pemerintah.

Baca Juga:  Cegah Paham Radikalisme di Kalangan WNI, GP Ansor Dirikan Cabang di Mesir

Andai kelompok radikal itu paham, mereka tidak akan menghujat Ustadz Yusuf Mansyur, TGB dan mayoritas ulama NU. Mereka pun tidak akan mengklaim UAS ataupun ustadz lain yang sejalan dengannya saja sebagai ulama sesungguhnya.

Ketiga, provokasi

Mahasiswa peraih beasiswa program pemerintah yang selama ini hidup tenang karena orang tuanya di kampung juga tersentuh oleh banyak program kerakyatan pemerintah, dan kampung halamannya pun terjamah pembangunan infrastruktur, tiba-tiba menjelma menjadi radikal setelah provokasi rekannya yang memang tidak suka pada pemerintah.

Memang begitulah dampak provokasi. Tak ayal, ia mengatai pemerintah sebagai diktator, rezim dzalim, Fir’aun.

Sangat keras, amat kasar; radikal. Apa yang ia hujatkan berbanding terbalik dengan kehidupan yang dirasakan. Ia lupa dengan kesempatan kuliah yang diberikan pemerintah. Amnesia dengan pelayanan negara yang dinikmati keluarganya. Pura-pura tidak tahu dengan nyamannya akses jalan pergi-pulang kuliah.

Harun Ar-Rasyid sebagai khalifah terbaik dari Dinasti Bani Abbasiyah pun hampir saja meghukum mati Imam Syafi’i karena terprovokasi. Saat menjadi mufti di Yaman, imam yang madzhabnya dianut oleh nyaris Muslim Asia Tenggara itu pernah dituduh sebagai bagian dari pemberontak Syiah.

Baca Juga:  Polemik Pembatalan Ceramah UAS di Masjid Kampus UGM

Seorang alumni pesantren yang sedari dulu ta’dzim pada kyai dan guru-gurunya kini telah terkontaminasi akibat provokasi. Ia pun menilai kyai yang terjun ke politik sebagai orang yang cinta dunia.

Tak cukup, ia pun berkomentar di media sosial sebagai buah keradikalannya. Diseranglah ulama dan kyai yang menurutnya tak peduli terhadap Islam gara-gara ulama itu tidak ikut-ikutan meghujat pemerintah seperti dia dan ustadz provokator idolanya.

Kini refrensinya pun berubah. Dulunya dawuh Kyai yang memang tiap malam dan setelah shalat selalu mendoakannya. Kini beralih ke ustadz-ustadz Youtube yang jangankan mendoakan, shalatnya saja ia tidak pasti apakah sesuai syariat atau tidak.

Itulah tiga hal yang menyebabkan orang menjadi radikal atau terpapar Radikalisme. Anehnya lagi, mereka menolak jika disebut radikal. Alih-alih terima disebut orang berpaham Radikalisme, kelompok-kelompok radikal itu justru merasa dirinya benar dan memperjuangkan kebenaran. Ya, memang begitulah. Sama dengan orang egois. Orang lainlah yang bisa merasakannya, bukan si egois itu sendiri.

Faisol Abdurrahman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *