Toleransi dalam Islam; dari Piagam Madinah Hingga Sikap Umar di Jerussalem

Toleransi dalam Islam; dari Piagam Madinah Hingga Sikap Umar di Jerussalem

PeciHitam.org – Berkaca dari namanya saja, Islam berarti damai, selamat, tunduk, dan bersih. Dalam ajaran agama Islam, para penganutnya dituntut untuk senantiasa menjunjung toleransi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Jika akhir-akhir ini banyak orang yang menampilkan wajah Islam yang anti-toleran, sungguh itu merupakan penyesatan dan tidak mencerminkan ajaran agama Islam itu sendiri.

Pembakaran gereja, penggrebekan kebaktian, penutupan paksa warung makan saat Ramadhan, merupakan sederet kabar yang akhir-akhir ini sering terdengar.

Tentu bukan berita yang menampilkan kebringasan seperti ini yang ingin kita dengar. Melainkan wajah Islam yang lebih baik dan lebih toleran.

Dalil Toleransi dalam Islam

Nabi Muhammad SAW, para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in telah memberikan contoh teladan paling konkrit dalam hal toleransi. Dalam sebuah hadis riwayat Jabir bin Abdullah RA berkata,

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ فَضَالَةَ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مِقْسَمٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ مَرَّ بِنَا جَنَازَةٌ فَقَامَ لَهَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَقُمْنَا بِهِ‏.‏ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهَا جَنَازَةُ يَهُودِيٍّ‏ قَالَ إِذَا رَأَيْتُمُ الْجَنَازَةَ فَقُومُوا

Artinya: “Suatu jenazah melewati kami, lalu Nabi berdiri kerananya, dan kami pun berdiri. Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, jenazah itu adalah jenazah orang Yahudi.’ Beliau bersabda, ‘Jika kamu melihat jenazah, maka berdirilah!’ (HR Bukhari)

Hadis di atas merupakan gambaran kecil bagaimana Rasulullah bahkan menghormati jenazah orang Yahudi yang lewat dan menyuruh para sahabatnya untuk berdiri. Sebab pada dasarnya, semua manusia adalah ciptaan Allah SWT.

Peradaban Islam yang dibangun oleh Rasulullah juga merupakan cerminan ajaran Islam yang menjunjung nilai-nilai toleransi dan melindungi segenap masyarakatnya. Beliau bahkan tidak membeda-bedakan agama orang tersebut.

Dalam hadis tersebut mengisahkan peristiwa lewatnya jenazah orang Yahudi. Ya, orang yang sudah meninggal pun, Rasulullah memerintahkan para sahabat agar tetap menghormatinya. Apalagi jika masih hidup? Tentu hal ini menjadi tamparan keras bagi kita atas insiden yang kerap terjadi akhir-akhir ini.

Baca Juga:  Ini Hukum Belajar Bahasa Arab Jika Tujuannya Agar Bisa Memahami Al-Quran

Toleransi dalam Islam merupakan hal yang dijunjung tinggi. Terlebih ketika Nabi di Madinah, beliau sangat menekankan umat Islam untuk boleh menghormati dan menghargai kepada umat Yahudi atau Nasrani. Islam bahkan melarang umatnya mencaci, menghina dan mengolok-olok agama lain. Sebagaimana yang tertuang dalam firman Allah berikut:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS Al-An’am: 108)

Piagam Madinah, Cerminan Toleransi dalam Islam

Toleransi dalam Islam, khususnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tercermin pula dalam Piagam Madinah (Shahifah al-Madinah) yang mencantumkan tentang Yahudi sebanyak 24 pasal dari jumlah 47 pasal.

Salah satu isinya mengatur tentang kesepakatan bahwa apabila ada musuh yang menyerang Madinah, maka semua wajib saling membantu mempertahankan negeri Madinah, tanpa melihat apapun agamanya.

Jika dikontekstualisasikan ke dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia saat ini, ketika bencana datang melanda, seperti korona ini, maka semua wajib bahu-membahu meringankan beban atau dampaknya, membantunya tanpa memandang apapun agamanya.

Membangun dan menjalin hubungan baik antar sesama manusia merupakan kewajiban setiap orang. Islam pun mengajarkan yang demikian. Tidak ada suatu agamapun yang merestui perpecahan sesama manusia. Hidup damai berdampingan merupakan dambaan setiap insan.

Kisah Toleransi Umar bin Khattab

Ketika Umar bin Khattab ra memegang amanah sebagai khalifah, ada sebuah kisah yang menggambarkan keteladanan beliau dalam hal toleransi.

Peristiwa tersebut terjadi saat Islam berhasil membebaskan Jerusalem dari penguasa Byzantium, tepatnya pada bulan Februari tahun 638 M. Dalam penaklukannya tanpa kekerasan yang terjadi.  Singkat cerita, Patriarch Sophorinus, penguasa Jerusalem saat itu menyerahkan kunci kota dengan begitu saja.

Baca Juga:  Keyakinan Tidak Bisa Dihilangkan oleh Keraguan, Apa Maksudnya?

Pada suatu hari, Umar dan Sophorinus menginspeksi gereja tua bernama Holy Sepulchre. Saat tiba waktu shalat, beliau ditawar menjadi Sophronius shalat di dalam gereja itu.

Umar menolak seraya berkata, “Jika saya shalat di dalam, orang Islam sesudah saya akan menganggap ini milik mereka hanya kerana saya pernah shalat di situ.”

Beliau kemudian mengambil batu dan melemparkannya keluar gereja. Di tempat batu itu jatuhlah beliau kemudian shalat. Umar kemudian menjamin bahwa gereja tersebut tidak akan diambil atau dirusak dan tetap terbuka sebagai tempat peribadatan umat Kristen.

Sikap toleransi yang dilakukan oleh Umar tersebut, kemudian diabadikan dalam sebuah piagam perdamaian yang disebut al-‘Uhda al-Umariyyah yang sama dengan Piagam Madinah. Di bawah kepemimpinan Umar hak dan kewajiban mereka dijamin serta dilindungi.

Tidak heran jika kemudian sebagai balas budinya, Sophorinus menyatakan jaminannya, “Kami tidak akan mendirikan monastery, gereja, atau tempat pertapaan baru di kota dan pinggiran kota kami. Kami juga akan menerima musafir Muslim ke rumah kami dan memberi mereka makan dan tempat tinggal untuk tiga malam. Kami tidak akan mengucapkan ucapan selamat yang digunakan Muslim; Kami tidak akan memasang salib baik itu di jalan-jalan atau pasar-pasar milik umat Islam.” (lihat al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk; juga History of al-Tabari: The Caliphate of Umar ibn al-Khathab Trans Yohanan Fiedmann, Albay, 1992, p 191).

Wajah toleransi dalam Islam tergambar nyata pada peristiwa tersebut, bagaimana kebijaksanaan seorang khalifah, yang sejatinya dengan kekuasaannya pun ia bisa saja untuk mengambil alih tempat peribadatan tersebut sebagai tempat shalat, namun tidak ia lakukan demi menghormatinya.

Selain itu, Umar bin Khattab juga memikirkan umat Islam di masa mendatang, bahwa jangan sampai mengira bahwa tempat tersebut sebagai miliknya.

Para sahabat yang lainnya juga banyak yang mengimplikasikannya dalam berbagai sisi kehidupan terutama bermasyarakat (muamalah) seperti jual beli dan transaksi lainnya yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Baca Juga:  Menggapai Hakikat Haji, Meraih Predikat Mahabbatullah

Sebut saja Abdurrahman bin ‘Auf, seorang sahabat terkemuka, memulai usaha di hari-hari pertamanya saat tiba di Madinah dengan berdagang di pasar Bani Qainuqa’, milik Yahudi (Shahih Bukhari, no. 3780).

Ali bin Abu Thalib, menantu Nabi SAW, sebagian persiapan walimahnya ditangani oleh seorang dari Bani Qainuqa’ (Shahih Muslim, no. 5242).

Bahkan ternyata Rasulullah SAW pernah menggadaikan baju perangnya dengan 30 sha’ gandum kepada seorang Yahudi Bani Zhafar bernama Abu Syahm (Ibnu Hajar, Fathul Bari, Jilid tujuh hal. 461).

Sebenarnya masih banyak kisah lain yang mengisahkan toleransi dalam Islam. Bukan hanya hadis dan kisah Umar di atas saja. Sebagai umat yang baik, meneruskan sikap toleransi yang diajarkan dalam Islam merupakan kewajiban. Selain itu, sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk senantiasa menebarkan wajah Islam yang tasamuh (toleran).

Sebagaimana perkataan KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, hingga saat ini masih begitu melekat, “Kita Butuh Islam Ramah, Bukan Islam Marah!”

Akhir kata, toleransi dalam Islam merupakan ajaran yang harus dijunjung tinggi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai, wajah Islam tercoreng hanya karena perilaku bodoh salah satu penganut agama. Jangan sampai ada lagi kesan bahwa Islam itu intoleran.

Jangan pula menjual nama Islam demi membubarkan ataupun membakar tempat peribadatan agama lain. Agama mana yang mengajarkan? Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan dalam Islam berjuang sekuat tenaga demi tercapainya rahmatan lil ‘alamin tanpa mencederai makna toleransi yang sebenarnya. Ash-Shawabu Minallah.

Mohammad Mufid Muwaffaq