Begini Urutan Pernikahan Nabi Muhammad SAW dan Alasannya Menurut Ahli Sejarah

Begini Urutan Pernikahan Nabi Muhammad SAW dan Alasannya Menurut Ahli Sejarah

PeciHitam.org Rasulullah SAW melakukan pernikahan sebelum masa kenabian dan setelah kenabian. Wanita-wanita yang beliau nikahi kemudian dikenal dengan Ummahatul Mukminin, Ibundanya Umat Islam dan dilarang/ diharamkan untuk dinikahi lagi setelah Rasulullah SAW wafat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa jumlah Ummahatul Mukminin berjumlah 12 orang, akan tetapi jika dilihat dari kuantitasnya melebihi jumlah tersebut.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menikah sebanyak 11 kali ada yang menyebutnya 13 kali. Akan tetapi yang paling banyak disebutkan sebanyak 12 kali.

Banyak alasan yang melatar belakangi Rasulullah SAW melakukan pernikahan. Sebagian dari Ummahatul Mukminini dinikahi Rasulullah SAW karena suami sebelumnya meninggal dalam perang  membela Islam. Istri yang ditinggalkan sudah Udzur dan menanggung banyak anak. Maka Rasul hadir sebagai penanggung janda yang sudah lemah.

Alasan-alasan inilah yang sering dikesampingkan oleh banyak orang yang melakukan poligami, dengan tidak memperhatikan dimensi sosial dan alasan pernikahan Rasulullah SAW.

Istri Rasulullah SAW

Sumber tentang urutan pernikahan Nabi Muhammad SAW memiliki perbedaan antar satu sumber dengan sumber riwayat lainnyya. Akan tetapi semua ahli tarikh akan sepakat bahwa urutan pernikahan Nabi Muhammad SAW yang pertama dengan Khadijah binti Khuwailid RA.

Ketika Rasulullah SAW menikahi Khadijah binti Khuwailid, beliau berumur 25 tahun dan Istrinya berumur 40 menurut Riwayat paling kuat. Khadijah RA dalam keadaan janda meninggal 1 kali dan ada yang menyebut 2 kali. Suami Khadijah sebelum Nabi Muhammad SAW adalah Abu Halah At-Tamimi dan Atiq bin Aidz al-Makhzumi.

Khadijah adalah tuan dari dagangan yang dibawa Rasulullah SAW, yang  berarti Khadijah adalah Juragan Muhammad SAW. Kisah cinta rumah tangga Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah berlangsung cukup lama sekitar 25 tahun. Pernikahan ini melahirkan 4 putri dan 2 putra, dan salah satu putri Khadijah, Fatimah Az-Zahra memberikan Nabi cucu, Hasan-Husein.

Kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada  Khadijah tidak terlepas dari peran, pengorbanan dan perjuangan untuk Islam dan Suaminya. Rekaman kecintaan Rasulullah SAW kepada Khadijah RA tidak hilang bahkan ketika beliau menikah lagi.

Jumlah Istri Rasulullah memang banyak akan tetapi beliau lakukan ketika Istri pertama dan paling dicinta, Khadijah RA wafat. Selama membangun rumah tangga dengan Khadijah RA, Muhammad SAW tidak pernah sekalipun melakukan poligami dengan wanita manapun.

Baca Juga:  Karl Von Smith, Seorang Insinyur Belanda yang jadi Murid Mbah Hasyim Asy'ari

Bahkan dalam sejarah Islam, tahun meninggalnya Khadijah RA dan Paman beliau, Abu Thalib dikenal sebagai ‘ammul Huzni, tahun kesedihan. Alasannya jelas, karena Rasulullah SAW kehilangan sosok pelindung dan pejuang  Islam yang selalu menyertai Nabi SAW, Abu Thalib dan Khadijah RA.

Khadijah rela menghabiskan harta untuk berjuang mendampingi Rasulullah SAW, dari sebelumnya sebagai saudagar kaya raya meninggal dalam keadaan miskin. Keridhaan dan derajat ketulusan Khadijah tidak akan tergantikan oleh Istri Rasul lainnya.

Setalah kewafatan Khadijah, urutan pernikahan Nabi banyak terjadi karena berbagai dimensi. Kebanyakan karena dimensi dakwah dan sosial untuk membantu Janda para sahabat yang gugur dimedan perang bersama Rasulullah SAW. Banyak wanita yang ditinggal perang, kemudian suaminya syahid dan meninggalkan istri yang sudah udzur dengan banyak tanggungan anak.

Urutan pernikahan Nabi dan Istri beliau setalah Khadijah antara lain, Saudah binti Zam’an, Asiyah binti Abu Bakar Ash-Shidiq, Zainab binti Khuzaimah, Hindun binti Abi Umayyah, Hafshah binti Umar bin Khattab, Zainab binti Jahsy, Juwairiyah binti Harits, Ramlah binti Abu Sufyan, Shafiyah binti Huyay, Mainunah binti Al-Harits dan Mariyah Al-Qibtiyah binti Syama’un.

Urutan pernikahan Nabi setidaknya secara umum sebagaimana disebutkan di atas mengolah dari berbagai sumber. Selain 12 Istri Nabi tersebut, beliau pernah menikah sebentar dengan Raihanah binti Zaid, Asma’ binti Al-Nu’man dan Amrah bin Yazid.

Urutan Pernikahan Nabi Muhammad SAW

Istri dan urutan pernikahan Nabi SAW mengandung banyak dimensi untuk dibahas. Kepastian Nabi SAW tidak pernah melakukan poligami selama menikah dengan Istri pertamanya, Khadijah RA sudah disepakati oleh ahli sejarah.

Setelah Khadijah RA wafat, barulah menikah kembali dengan urutan pernikahan Nabi sebagaimana disebutkan di atas. Dimensi/ pesan pernikahan Nabi SAW bukan sekedar pernikahan untuk memuaskan hawa nafsu karena sebagain Istri Nabi dinikahi atas dorongan sosial dan istri beliau lainnya.

Baca Juga:  Sejarah Singkat Terjadinya Perang Hunain

Peran Nabi SAW menjadi penjamin Janda yang sudah Udzur lebih kepada dimensi sosial. Sepeninggal Khadijah RA, beliau menikah dengan Saudah binti Zam’ah.

Disebutkan dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah, bahwa Nabi menikahi Saudah RA sebulan setelah kewafatan Khadijah. Umur Saudah binti Zam’ah ketika dinikahi sekitar 65 tahun dan dengan banyak tanggungan.

Jika dipikir menggunakan akal sehat, untuk apa Nabi menikahi janda berumur 65 tahun setelah kepulangan Khadijah RA. Tentunya dorongan sosial karena suami Saudah meninggal ketika membela Islam, dan ia tinggal sendiri tanpa pelindung. Oleh karenanya Nabi Muhammad menikahi beliau.

Urutan pernikahan Nabi selanjutnya adalah dengan Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq. Aisyah RA adalah satu-satunya Istri Rasulullah SAW yang dinikahi dalam keadaan perawan dan masih muda belia.

تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ ، وبنى بي وأنا بنت تسع سنين

Artinya; “Nabi SAW menikahiku ketika aku berusia 6 tahun. Dan beliau kumpul bersamaku ketika aku berusia 9 tahun” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pernikahan dengan Aisyah RA banyak memberikan sumbangsih kepada keilmuan Islam, karena beliau ummul mukminin yang sangat banyak meriwayatkan hadits.

Masalah rumah tangga dan bagaimana Rasul SAW memperlakukan Istri berasal dari riwayat beliau. Inilah sirr atau hikmah Nabi Muhammad SAW menikahi gadis remaja yang sangat cerdas dan kritis.

Urutan pernikahan Nabi Muhammad SAW selanjutnya adalah dengan Hafshah binti Umar bin Khattab. Hafshah adalah seorang janda dan anak Umar, maka kewajiban umar untuk mencarikan suami baru ketika suami lama telah meninggal. Beliau menawarkan kepada Abu Bakar dan Utsman, kemudian kepada Rasulullah SAW.

Akhirnya yang  meminang Hafshah adalah Rasulullah SAW, dan Abu Bakar bercerita kepada Umar bin Khattab RA;

فَإِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَرْجِعَ إِلَيْكَ فِيمَا عَرَضْتَ إِلا أَنِّي قَدْ عَلِمْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ ذَكَرَهَا ، فَلَمْ أَكُنْ لأُفْشِيَ سِرَّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَلَوْ تَرَكَهَا لَقَبِلْتُهَا

Artinya; “Tidak ada sebab yang membuatku tidak merespon tawaranmu, selain karena aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut-nyebut Hafshah. Dan Aku tidak layak membuka rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika beliau tidak berkeinginan menikahi Hafshah, niscaya akan aku terima” (HR. Bukhari)

Urutan pernikahan selanjutnya Nabi adalah dengan Zainab binti Khuzaimah RA, janda dari Abdullah bin Jahsy. Nabi menikahi Zainab atas dorongan sosial untuk membantu Zainab yang sudah udzur dan memiliki banyak anak.

Baca Juga:  Isfahan; Kota Peradaban Islam di Persia

Suami sebelumnya, Abdullah meninggal ketika meletusnya perang Uhud tahun 4 Hijriyah. Beliau menjadi Istri Nabi hanya sekitar 3 bulan dan kemudian wafat.

Urutan pernikahan Nabi selanjutnya adalah dengan Hindun binti Abu Umayyah atau nama Laqabnya adalah Ummu Salamah. Beliau dinikahi oleh Rasul SAW sesudah Abu Salamah meninggal dunia pada tahun 4 Hijriyah.

Ummu Salamah termasuk golongan Assabiqunal awwalun dan banyak menjumpai perjuangan Islam. Setalah meninggalnya Abu Salamah, Ia sering membaca amalan;

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي ، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

Artinya; “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, ya Allah, berikanlah pahala atas musibah yang menimpaku dan gantikanlah aku dengan yang lebih baik”

Faidah dari amalan ini dirasakan sendiri oleh Ummu Salamah, bahwa ia memperoleh pengganti suaminya dengan orang yang paling mulia, Muhammad SAW.

أُعَاضُ خَيْرًا مِنْ أَبِي سَلَمَةَ؟ ثُمَّ قُلْتُهَا، فَعَاضَنِي اللَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَآجَرَنِي فِي مُصِيبَتِي

Artinya; “(apakah) Saya diberi ganti yang lebih baik dari pada Abu Salamah? Akupun tetap membacanya. kemudian Allah gantikan suami untukku Muhammad SAW, dan Allah berikan memberikan Ganjaran dalam musibahku.” (HR. Muslim 918).

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan