Perbedaan Wahdatul Wujud dan Wahdatul Syuhud dalam Tasawuf

Wahdatul Wujud dan Wahdatul Syuhud

Pecihitam.org – Tasawuf erat kaitannya dengan konsep wahdatul wujud dan wahdatul syuhud. Kedua istilah ini digunakan untuk mendefinisikan pemahaman pendekatan kepada Tuhan dengan metode yang berbeda.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Walaupun nama keduanya hampir sama, namun konsep yang diusung antara wahdatul wujud dan wahdatul syuhud jelas berbeda. Ada sudut pandang dalam mendefinisikan kedekatan yang menjadi ciri khas masing-masing pendekatan ini.

Wahdatul Wujud

Wahdatul Wujud, secara sederhana diartikan kesatuan wujud. Konsep wahdatul wujud telah dikenal lama masyarakat Indonesia melalui cerita walisongo. Salah satu tokoh terkenal yang menggunakan konsep ini adalah Syekh Siti Jenar. Pada sejarahnya, Syekh Siti Jenar dianggap sebagai seorang yang sesat karena menyebarkan paham aneh kepada masyarakat.

Keadaan masyarakat yang saat itu tergolong awam memahami Islam, dikhawatirkan mengalami kesesatan berpikir jika mengikuti konsep tersebut. Maka dengan segala pertimbangan Syeh Siti Jenar dijatuhi hukuman yang cukup berat karena telah menyebarkan ajaran yang belum perlu diajarkan kepada masyarakat.

Secara bahasa Wahdatul Wujud terdiri dari dua kata. Wahdah yang bermakna kesatuan, sedangkan wujud bermakna ada, keberadaan, dan eksistensi. Menurut paham ini, setelah makhluk melalui tahap syariat dan menjalani tahap tariqat, maka ia dapat menemukan hakikat sejati.

Baca Juga:  Rabi'ah Al-'Adawiyah, Kisah Waliyullah; Karomah dan Kalam Hikmahnya

Hakikat sejati ini ditandai dengan hilangnya sifat-sifat ciptaan, dan munculnya sifat-sifat ketuhanan. Pada tahap tertinggi, makhluk sudah bisa mengendalikan dirinya, sehingga terjadi persatuan antara Tuhan dan makhluk itu sendiri.

Namun pada masanya, paham ini banyak ditolak oleh para fuqaha. Para fuqaha memandang konsep ini dapat mengganggu jalannya peribadatan seseorang yang masih dalam tahap syariat. Selain itu, konsep seperti ini dikhawatirkan dapat menggoyahkan akidah umat Islam. Al Hallaj (pengusung konsep wahdatul wujud) sampai dihukum mati para fuqaha karena ketakutan tersebut.

Ibnu Arabi memberikan dua konsep tambahan terhadap konsep Wahdatul Wujud.

  • Pertama, konsep al-insan al kamil, yaitu konsep manusia yang mengerti tentang alam beserta isinya. Ada dua tipe manusia sempurna, manusia dalam kehidupan yang baru dan manusia dalam kehidupan yang abadi. Dengan begitu, Ibnu Arabi berpandangan bahwa manusia sempurna dalam kehidupan abadi lebih utama.
  • Kedua, konsep kesamaan agama. Menurut Ibnu Arabi, munculnya semua agama dari sumber yang sama. Bisa diartikan, bahwa semua agama itu tunggal dan semua milik Allah swt.
Baca Juga:  Kisah Mansur Al Hallaj Sufi Kontroversial yang Di Hukum Mati

Wahdatul Syuhud

Sedangkan Wahdat Asy Syuhud bisa diartikan sebagai konsep mengenai keesaan Allah swt dan keesaan dzat Allah dalam hati nurani. Konsep ini bisa diartikan sebagai kritik atas konsep Wahdatul Wujud. Paham ini menekankan bahwa tidak mungkin manusia menyatu dengan Allah swt secara ekstensial melainkan mempunyai kesatuan kesaksian.

Dalam berbagai ilmu kebatinan, Allah swt bisa membuka tabir yang tertutupi oleh nafsu. Tabir-tabir tersebut yang membuat manusia buta akan jalan ketuhanan. Maka Allah mempunyai kehendak untuk membuka tabir setiap orang yang dikehendakinya. Jika tabir seseorang sudah tersingkap, maka nampak terang jalan ketuhanan itu.

Manusia tidak akan peduli dengan dunia seisinya, karena ia hanya melihat keindahan yang ditampakkan oleh Tuhannya. Ia menikmati setiap laku ibadahnya, ia menikmati saat-saat kedekatannya dengan Tuhan. Dan yang menjadi tujuannya hanya dekat dan selalu dekat dengan Allah swt.

Baca Juga:  Mengenal Abu Yazid Al Busthami dan Perkataan Wahdatul Wujudnya

Terbukanya mata batin membuat keesaan seseorang dengan Allah menjadi meningkat ke jenjang yang lebih tinggi atau bisa diartikan ke maqam tariqat. Pengertiannya tentang agama bukan lagi mengenai pemahaman Al-Qur’an dan Hadits belaka.

Namun lebih dari itu, ia mengalami keindahan dalam menjalani apa yang diperintahkan atau dilarang Al-Qur’an dan Hadits. Kehadiran Tuhan telah benar-benar menghapuskan segala sesuatu yang fana. Pengalaman tersebut membuat ia merasakan kenikmatan akan kehadiran orang yang dicintainya.

Muhammad Nur Faizi