Zuhud Tidak Harus Hidup Miskin, Karena Ini Urusan Hati

Zuhud Tidak Harus Hidup Miskin, Karena Ini Urusan Hati

Pecihitam.org – Dalam kajian-kajian tasawuf, kita kerap mendengar istilah zuhud dan wara’. Kedua sifat ini memang sering disandingkan, walau hakikat keduanya berbeda. Wara’ adalah mencukupkan dengan yang halal atau menghindari yang diharamkan dan yang syubhat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sedangkan zuhud adalah lebih tinggi dari sekedar wara’. Zuhud adalah mengambil atau menggunakan sesuatu tidak melebihi kadar kebutuhan.

Secara umum, zuhud sering dipahami sebagai hidup dalam kemiskinan dan kekurangan, jauh dari hidup berkecukupan. Padahal hakikatnya, zuhud adalah urusan hati. Zuhud tidak berarti harus miskin. Tidak bisa pula serta merta diapahami bahwa orang yang kaya adalah orang yang cinta dunia atau tidak zuhud.

Ada sebuah kisah menarik tentang hakikat dari zuhud. Pada zaman dahulu seorang laki-laki bertamu kepada ulama besar yang terkesan hidup dalam kekayaan dan kemewahan. Sebelum laki-laki tadi pulang, sang ulama berpesan agar menyampaikan salam dan pesan kepada temannya agar zuhud dan tidak cinta dunia.

Laki-laki itu pun pulang dengan membawa pesan sang ulama. Sesampainya pada orang yang yang dituju, laki-laki tadi menjadi heran. Ternyata orang yang dimaksud sang ulama adalah orang yang hidup dalam kekurangan. Heran dalam hatinya.

Baca Juga:  Imam Ja’far Ash Shadiq: Zuhud Bukan Berarti Anti Dunia

“Bukankah sang ulama yang sepertinya hidup dalam kemewahan, kok malah orang yang hidup dalam kekurangan ini yang disuruh zuhud. Tidakkah ini terbalik?,” gumamnya dalam hati.

Walaupun dengan perasaan bertanya-tanya, laki-laki itu pun menyampaikan salam kepada teman sang ulama. Seketika teman tersebut menangis sambil berkata,

“Astaghfirullah, tiap hari aku sibuk memikirkan dan mencari dunia, tapi aku malah dijauhi dunia. Temanku yang sibuk dengan ilmu justeru ia yang dikejar dunia, telah mengingatkanku”

Dari cerita di atas, sekali lagi kita bisa memahami bahwa zuhud tidak harus miskin. Karena zuhud adalah urusan hati. Tidak bisa kita kemudian men-just serta-merta seorang yang yang dari luar terkesan hidup dalam kemewahan sebagai orang yang cinta dunia.

Sebaliknya tidak bisa pula kita berkesimpulan bahwa orang yang hidup dalam kemiskinan dan kekurangan adalah orang yang zuhud terhadap dunia.

Dalam Islam, kita mengenal Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Keduanya adalah seorang yang kaya raya, tapi demikian mereka adalah orang-orang pilihan yang hidup zuhud di dunia.

Berangkat dari sini, kemudian para ulama menetapkan hakikat zuhud adalah ketika kita tidak merasa sedih dengan apa yang tidak dimiliki dan juga tidak merasa sombong dengan apa yang dimiliki, itulah hakikat zuhud.

Baca Juga:  Daud ath-Tha'i, Waliyullah yang Hanya Punya Harta 20 Dinar dalam 20 Tahun

Definisi ini diambil dari Surat Al-Hadid

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan bersedih terhadap apa yang tidak kamu dapatkan, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Al-Hadid ayat 23)

Dalam kenyataannya, manifestasi zuhud bisa tampak pada seseorang yang tetap bekerja melakukan ikhtiar. Namun ketika mendapatkan yang diusahakan, ia menggunakan hanya berdasarkan kadar kebutuhannya saja.

Dikisahkan, suatu hari ada seorang santri yang ingin belajar tentang zuhud kepada seorang ulama. Ketika bertemu sang ulama, calon santri ini kemudian mengutarakan keinginannya untuk belajar tentang zuhud. Alih-alih membacakan kitab atau menyampaikan teori tentang zuhud, sang ulama malah memerintahkan muridnya untuk menimba air hingga penuh.

Singkat cerita. Setelah wadah terisi penuh dengan susah payah ia bolak-balik sumur. Maka sang kyai menyuruh santrinya itu untuk mandi. Selesai mandi dan setelah istirahat sejenak, Sang Kiai memanggil santrinya itu kemudian bertanya, “Sudah penuh?”. Santri menjawab, “Ya”.

Baca Juga:  Bagaimana Korelasi Tasawuf dengan Keilmuan? Berikut Penjelasannya

Kyai lanjut bertanya, “Kamu gunakan semua air dalam bak itu?”. Tentu santri menjawab, “Tidak”. Kyai lalu menjelaskan, “Begitulah zuhud. Kamu berusa mengisi jeding hingga penuh. Tapi kamu hanya menggunakan air itu seperlunya saja”.

“Zuhud terhadap dunia tidak berarti kamu meninggalkan berusaha dan bekerja. Bekerja dan berusahalah. Tapi hasil dari kerjamu, kamu ambil saja sesuai kebutuhan untuk bertahan hidup dan menghindarkan diri dari meminta-meminta. Selebihnya bisa kamu sedekahkan untuk yang membutuhkan,” begitulah pesan sang Kyai kira-kira.

Faisol Abdurrahman