3 Tingkatan Kenikmatan Alam Kubur yang Wajib Kita Ketahui

kenikmatan alam kubur

Pecihitam.org Berbicara tentang alam kubur, tentulah yang akan muncul dalam benak kita adalah kegelapan, sepi, penuh dengan serangga dan binatang yang bergigi tajam dan siap menyobek daging kita, hingga pada akhirnya kita berkesimpulan  bahwa alam kubur adalah tempat yang sangat menyeramkan.

Namun siapa sangka? Rupanya dalam Islam dikenal dengan tingkatan kenikmatan di alam kubur yang tentu patut kita ketahui sebagai umat muslim agar kiranya berpandangan bahwa alam kubur tak semenyeramkan yang kita bayangkan.

Untuk itu, berikut tingkatan kenikmatan alam kubur yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

1. Tingkatan para Nabi

Hal ini berangkat dari hadits Rasulullah saw., sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al Baihaqi dari Abu Ya’la bahwasanya

“Para Nabi hidup di dalam kuburan, (di sana) mereka shalat’.”

Sehingga darinya, Kata “kubur” yang ada di dalam hadits bukan berarti liang kubur tempat mayat dikebumikan, namun berarti alam barzakh yang sangat luas dan hanya diketahui Allah.

Cara shalat mereka pun tidak diketahui. Karena, setelah mati, kewajiban manusia untuk beribadah telah selesai. Akan tetapi, segala sesuatu jika termasuk dalam ilmu dan kekuasaan Allah, maka akal tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan demikian, ia ada di atas batasan-batasannya.

Sebagaimana dalam firman-Nya dikatakan:

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (Al-Isra’/17: 85).

Selain itu, Para nabi memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Mereka ialah orang orang paling sempurna di dunia, alam barzakh, akhirat, dan surga. Pemimpin mereka yang paling sempurna ialah Nabi Muhammad. Sebagaimana diterangkan dalam hadits, jasad para nabi tidak akan dimakan oleh tanah, seperti yang terjadi kepada jasad manusia lainnya. Rasulullah swt., bersabda:

Baca Juga:  Fadhilah Kalimat Tauhid Laa Ilaaha Illallah yang Jarang Diketahui

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepada tanah untuk memakan jasad para Nabi.”

Disebutkan pula di dalam hadits mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj, beliau mendapatkan para nabi berada di langit yang tujuh dalam keadaan hidup. Beliau mengucapkan salam kepada mereka, mereka pun mengucapkan salam kepada beliau. Hal ini menunjukkan bahwa para nabi berada dalam kedudukan paling tinggi, penuh nikmat, dan keridhaan Allah.

2. Derajat Para Syuhada’

Setelah derajat para nabi, tidak ada lagi manusia yang derajatnya melebihi para syuhada’. Bagaimana tidak? Mereka telah menjual nyawa dan jiwa di jalan Allah. Allah memberikan kepada mereka kehidupan yang istimewa di alam barzakh. Hal itu belum termasuk kedudukan serta ganjaran yang sangat besar dan akan mereka raih pada hari kiamat.

 Allah swt., berfirman dalam QS. al Imran/3: 169-171

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di ialan Allah itu mati, mereka itu hidup di sisi Rabb-nya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan kepada mereka.

Dan mereka memberi kabar gembira kepada orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka. Bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka gembira dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.”

Sehingga dari sini kita mendapatkan gambaran bahwa para Syuhada’ adalah mereka yang masih hidup (Mereka akan mendapatkan rezeki).

Baca Juga:  Perilaku Suami-Istri yang Tidak Pantas Tapi Dibolehkan Syariat

Lantas, bagaimana mereka hidup dan mendapatkan rezeki? Mereka akan hidup dan mendapatkan rezeki menurut ilmu Allah. Yang Maha Pencipta lebih mengetahui dengan ciptaan-Nya dan ruh yang tidak diketahui oleh manusia.

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (Al-Isra’/17: 85).

Dengan demikian, yang dimaksud dengan kenikmatan ialah kenikmatan ruh. Adapun jasad, setelah mati ia akan hancur. Buktinya, mata bisa melihat mayat tersebut berubah menjadi tulang dan tanah. Sementara pada hari kiamat, Allah akan menciptakan mayat tersebut dalam bentuk yang lain.

3. Tingkat orang beriman

Sebagaimana dalam hadits Qudsi, Allah mengatakan

“Aku tetah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh (tempat) yang tak dilihat oleh mata, tidak bisa didengar oleh telinga, dan tidak bisa dibayangkan oleh hati manusia.”

Sehingga darinya, Allah telah memberitahukan kepada kita bahwa ada kenikmatan yang besar, surga, sungai, istana, dan perhiasan. Namun perasaan kita tidak bisa mengetahuinya. Hal ini pula yang terjadi di alam barzakh. Kita telah diberitakan tentang hal yang akan terjadi, tetapi berita tidak sama dengan menyaksikan, dan pendengaran tidak sama.

Adapun sabda Rasulullah saw., sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bahwasanya:

Baca Juga:  Ini Dia Perbuatan Nabi yang Tidak Wajib Diikuti

“Jika salah seorang di antara kita meninggal, tempatnya akan diperlihatkan kepadanya pada pagi hari dan malam hari. Jika ia termasuk ahli surga, ia akan menjadi ahli surga. Dan jika ia termasuk ahli neraka, ia akan menjadi ahli neraka. Akan dikatakan kepadanya, lni adalah tempatmu hingga Allah membangkitkanmu pada hari kiamat

Sedangkan Abu Qatadah meriwayatkan bahwa suatu hari pernah ada jenazah yang melewati Nabi, beliau bersabda, “Orang yang sedang istirahat atau diistirahatkan.” Para shahabat bertanya “Wahai Rasulullah, apa maksud orang yang sedang istirahat dan diistirahatkan?”

Beliau menjawab, “Hamba beriman akan beristirahat dari kelelahan dan kejahatan dunia menuju rahmat Allah, sedangkan hamba yang bermaksiat maka orang-orang, tanaman, dan hewan bisa istirahat dari kejahatannya.” (HR. Buhkari dan Muslim)

Bahkan lebih jelasnya diutarakan dalam QS. al Waqi’ah/56: 88-89 yang berbunyi

“Adapun jika ia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan kepada Allah, maka ia memperoleh rezeki serta surga kenikmatan.”

Wallahua’lam bisshaawab.

Rosmawati
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG