Kesalahan Umat Islam dalam Memahami Hadits 73 Golongan Islam

73 golongan

Pecihitam.org – Nabi Muhammad saw pernah bersabda bahwa umatnya akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semua akan masuk ke dalam neraka kecuali satu. Mereka yang selamat adalah “Yang berpegang kepada sunnahku dan sahabatku”(ma ana ‘alaih wa ash-habi).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kegagalan umat islam memahami hadits ini, membuat mereka saling bermusuhan antara satu kelompok umat islam dengan kelompok umat islam yang lain. Mereka saling mengklaim kelompoknya yang paling benar dan menganggap yang lain adalah kelompok yang akan masuk neraka.

Demi klaim tersebut mereka tega menghina saudara muslimnya, bahkan mereka sampai mengkafirkan muslim yang lainnya. Mereka tidak sadar bahwa keselamatan yang sebenarnya berasal dari keihlasan dalam beragama. Demi menjunjung tinggi hadits itu, mereka melupakan sebuah hadits yang lainnya.

Nabi Muhammad saw pernah bersabda “Siapapun yang berani mengkafirkan saudaranya tanpa adanya bukti yang nyata, dia sendiri adalah yang kafir”. Ketika hadits ini diresapi dengan kejernihan hati, maka seorang muslim akan benar-benar menjadi muslim yang sejati, tidak berani mengkafirkan saudaranya sendiri.

Baca Juga:  Pendiri Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab Mengkafirkan Para Ulama

Sebenarnya klaim-klaim teologis yang dilakukan oleh sejumlah kelompok menunjukkan sikap ketidakdewasaan dalam beragama. Mereka tidak yakin terhadap ajaran yang mereka bawa. Klaim yang mereka tuduhkan kepada kelompok lainnya merupakan suatu strategi supaya kelompoknya terlihat yang paling benar.

Padahal, akan terlihat indah jika mereka saling menghormati dan berbagi pandangan antara satu dengan yang lainnya. Karena saling menyalahkan bukanlah sifat yang diajarkan oleh nabi. Bukankah Al-Qur’an telah mengatakan bahwa perbedaan adalah suatu cobaan, dan tidak perlu adanya penyeragaman.

Bagi agama islam sendiri, formalisasi akan menyebabkan pergantian fungsi agama dengan fungsi ideologi belaka. Aturan-aturan agama akan disesuaikan dengan kebutuhan kelompok mereka sendiri. Aturan akan berubah tak layaknya seperti undang-undang yang memperkuat setiap pernyataan mereka.

Agama islam akan menjadi intoleran terhadap permasalahan umatnya sendiri maupun umat yang lain. Fungsi agama islam sebagai rahmatan lil alamin akan bergeser sedikit demi sedikit.

Andai saja masing-masing dari mereka terus belajar dan mau mendengarkan pemahaman orang lain. Tentu akan semakin lengkap islam yang mereka bawa. Namun, kenyataannya mereka lebih bersifat sombong dan bangga akan keyakinanya.

Baca Juga:  Benarkah Imam Asy-Syafi'i Mencela Sufi Sebagaimana Tuduhan Para Salafi Wahabi?

Satu hal yang harus diingat bahwa kebenaran yang mereka bawa bisa jadi salah, dan sebaliknya kesalahan orang lain bisa jadi sebuah kebenaran. Mereka melupakan satu hadits yang menyatakan bahwa “manusia adalah tempatnya salah dan lupa”. Maka sesungguhnya esensi kebenaran akan terasa sulit ditemukan dalam diri manusia.    

Maka solusi yang paling tepat mengatasi masalah ini yaitu dengan menggunakan orang-orang yang bersifat ikhlas dan berani. Dalam sejarah islam di Indonesia kita mengenal namanya Walisongo. Mereka menerapkan berbagai nilai toleransi untuk mengajak masyarakat Indonesia menyembah Allah swt.

Keteladanan inilah yang harus dicontoh oleh masyarakat umum. Di zaman sekarang masih banyak orang yang memiliki sifat kesatria. Namun sayangnya perjuangan mereka tidak terorganisir, sehingga  keyakinan yang kaku masih mengendapi negeri ini.

Dalam hal ini kita perlu melakukan hal-hal yang mampu mengilhami dan mendukung kesatria pemberani agar dapat menyebarkan ajarannya ke pelosok negeri. Selain itu kita harus turut serta mengajak dan menyelesaikan setiap permasalahan di masyarakat dengan cara yang lembut.

Baca Juga:  Semua Hadits Tawassul Didhaifkan Wahabi, Kecuali Ini

Dengan cara itulah paham-paham toleransi akan melunakkan paham-paham yang intoleran. Akhirnya bangsa Indonesia yang moderat dan toleran terhadap agama lain akan kembali.

Sebagai Negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, Negara Indonesia mempunyai tanggung jawab yang besar sebagai panutan bagi Negara muslim di dunia.

Indonesia harus menunjukkan Islam rahmatan lil alamin yang sebenarnya. Tidak hanya soal hukum halal dan haram saja, namun harus mampu menunjukkan arti sebuah persaudaraan.                 

Muhammad Nur Faizi