Ada Restu dan Doa Mbah Moen untuk Kyai Said dalam Menahkodai NU

Doa Mbah Moen untuk Kyai Said Aqil

Pecihitam.org – Umat Islam Indonesia patut bersyukur ketika berhaji bisa menziarahi makam mulia baginda Rasulullah Muhammad SAW. Semua muslim pasti sangat ingin berziarah ke makam Nabi al-Karim. Satu dari berberapa tempat paling mustajabah di tanah Haram ialah makbarah Rasulullah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Keberadaan makam penghulu para Nabi dan Rasul ini merupakan magnet spiritual tersendiri bagi umat Islam untuk berangkat haji atau umrah.

Namun, tahukah bahwa makam mulia itu dulu pernah akan dibongkar. Sejak Ibnu Saud, Raja Najed beraliran Wahabi menaklukkan Hijaz (Makkah dan Madinah) pada 1924-1925, aliran Wahabi sangat dominan di tanah Haram. Kelompok Islam lain dilarang mengajarkan mazhabnya, bahkan tidak sedikit para ulama yang dibunuh.

Selain menetapkan asas tunggal mazhab Wahabi, Ibnu Saud juga hendak membongkar berbagai tempat bersejarah, baik rumah Nabi SAW dan sahabat termasuk makam Nabi. Alasannya adalah pemurnian agama dari kemusyrikan dan bid’ah.

Melihat kondisi demikian, kalangan muslim Hindia Belanda (Indonesia saat itu) yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah merasa sangat prihatin. Terutama kalangan pesantren. Dibentuklah satu komite yang bernama Komite Hijaz untuk memperjuangkan aspirasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di tanah Haram.

Baca Juga:  Mengenang Mbah Moen, Dari Kisah Klasik Hingga Menjadi Ulama Karismatik

Satu dari permohonan sangat genting itu adalah agar tidak dibongkarnya makam Sayyidina Rasulillah Muhammad SAW.

Namun, sebab syarat mengirim utusan Komite Hijaz ini diperlukan adanya organisasi formal, maka didirikanlah Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 1926. Dengan payung organisasi formal NU inilah Komite Hijaz bisa menemui Raja Ibnu Saud. Memperjuangkan aspirasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah di tanah Haram.

Alhamdulillah hingga kini makam mulia Nabiyyul Karim masih ada. Masih dimuliakan oleh umatnya.

Di sinilah pentingnya kehadiran Nahdlatul Ulama sebagai organisasi masyarakat Islam. Senada dengan adagium al-haqqu bilaa nidhaam yaghlibuhu al-bathil bin nidham. Jika paham keislaman Aswaja tidak dipayungi oleh satu organisasi yang legal dan tersistem, kemungkinan besar paham Islam Aswaja sukar berdiri kokoh hingga sekarang, khususnya di Indonesia.

Dalam konteks Indonesia, manifestasi keislaman Aswaja Annahdliyyah tercermin dari kegigihannya mendakwahkan Islam yang moderat. Islam yang ramah dan rahmah. Berbeda dengan sekte Wahabi yang menolak sufisme dalam Islam, NU dengan integrasi tasawuf dalam urat nadi keislamannya membuktikan bahwa hakikat Islam adalah menebar cinta-kasih.

Baca Juga:  Mencium Tangan Sri Paus Fransiskus, Memang Kenapa? Ini Penjelasan Ulama

Sehingga wajah Islam yang ditampilkan adalah bukan letupan emosi marah-marah, mudah mengkafirkan. Tapi laku teladan yang di-ruh-i dengan sari pati kesufian.

Maka tak heran jika ulama-ulama NU, apalagi yang sepuhnya memiliki kharisma dan berwajah teduh. Pada poin ini, saya teringat al-maghfurlah KH. Maimoen Zubair, rahimahullah.

Mengingat Mbah Moen dengan segala teladan dan kecintaan beliau kepada NU dan NKRI, saya sangat heran dengan mereka yang membenci NU. Saat kepulangan Mbah Moen, mereka menunjukkan rasa duka mendalam tapi bersamaan dengan itu selalu menuduh NU yang bukan-bukan. Ini absurd, bagi saya. Tidak logis.

Mereka seolah bermuka dua. Muka yang satu menampakkan cinta Mbah Moen, yang satunya lagi penuh kebencian pada NU. Apa mereka tak paham bahwa di dalam NU, di situ ada Mbah Moen. Di dalam segala aktivisme kegamaan dan sosial-budaya NU ada suara Mbah Moen.

Baca Juga:  Fenomena Celana Cingkrang dan Kesombongan Beragama

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH. Said Aqil Siraj adalah diamanati memimpin NU sebab di situ ada ikhtiar hati, munajat, dan do’a Mbah Moen.

Kyai Said terpilih atas restu sembilan kyai sepuh yang tergabung dalam Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) pada Muktamar NU ke-33 2015. Di antara sembilan kyai sepuh itu adalah al-Maghfurlah KH. Maimoen Zubair.

Mbah Moen bukan ulama sembarangan, kita tahu itu. Maka jika ada orang menuduh Kiai Said sebagai kiai liberal, syi’ah, mencacinya, itu sama saja dengan meragukan kezuhudan hati Mbah Moen ketika memilih Kiai Said.

Wallahul muwaffiq.

Mutho AW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *