Adakah Hikmah Dibalik Kisah Qabil dan Habil? Ini Penjelasannya

Adakah Hikmah Dibalik Kisah Qabil dan Habil? Ini Penjelasannya

PeciHitam.org – Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Katsir, dikatakan bahwa ketika itu Nabi Adam hendak menikahkan satu anak laki-laki dari satu kelahiran dengan anak perempuan dari kelahiran yang lain (sebab, Hawa selalu melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan setiap kali persalinan).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Jadi, Nabi Adam menjodoh-nikahkan putra-putrinya secara silang. Ketika itu, Qabil hendak dijodohkan dengan adik Habil yaitu Labuda. Sedangkan Habil dijodohkan dengan adik Qabil yang bernama Iqlima.

Tetapi Qabil menolak dan hanya mau menikah dengan Iqlima (adiknya sendiri yang lebih cantik). Maka, Nabi Adam memutuskan untuk menyuruh mereka mempersembahkan korban. Siapa yang diterima korbannya maka dialah yang berhak menikah dengan Iqlima.

Secara fisik, Qabil, meskipun sebagai saudara tertua, ia digambarkan memiliki badan yang lebih kecil dan lemah, namun tabiatnya kasar. Sedangkan Habil yang lebih muda, badannya besar dan kuat, tabiatnya sangat baik dan halus perasaannya. Maka, Nabi Adam membagi pekerjaan kepada kedua putranya itu sesuai dengan tabiatnya.

Qabil diberi tugas bertani, mengolah tanah, mencangkul dan menebas hutan belukar. Sebab, tanah dan hutan belukar adalah benda mati yang tak membutuhkan perasaan halus dan cinta kasih secara langsung. Berbeda dengan Qabil, Habil yang berperangai baik dan halus budi diberi tugas untuk memelihara dan menggembala binatang ternak. Sebab, pekerjaan itu memang memerlukan kesabaran, ketelatenan, dan kehalusan rasa.

Maka, Qabil yang merupakan seorang petani, ia mempersembahkan hasil kebunnya (tetapi ia justru memberikan tanaman yang buruk ). Sementara itu, Habil sebagai penggembala (peternak), ia mempersembahkan seekor kambing yang paling bagus dan besar.

Baca Juga:  Ngabuburit, Menunuggu Berbuka Puasa yang Diisi dengan Santai, Mencari Takjil hingga Tausiyah

Kemudian persembahan yang diterima adalah yang berasal dari Habil. Melihat hal itu, Qabil pun berkata, “‚Wahai Habil, aku akan membunuhmu.” Lalu Habil menjawab, “Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertaqwa.”

Ada beragam cerita mengenai bagaimana Qabil melakukan pembunuhan terhadap adiknya. Dalam suatu riwayat, Qabil memukul kepala Habil dengan batu besar ketika Habil sedang tertidur.

Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa Qabil memukul adiknya dengan sebuah besi. Adapun tempatnya ada yang mengatakan di gunung Qasiun (utara Damaskus), ada pula yang mengatakan di sebuah padang rumput, juga di hutan.

Kemudian ketika Habil telah terbunuh, dikisahkan bahwa Qabil merasa menyesal atas perbuatannya yang sangat kejam. Ia juga tidak tahu bagaimana menyikapi jenazah adiknya tersebut. Kemudian, ia kemana-mana memikul jenazah adiknya.

Sampai suatu ketika ia melihat dua burung gagak berkelahi dan salah satunya mati. Selanjutnya, seekor gagak yang masih hidup itu menggali tanah dan menguburkan mayat gagak yang mati. Melihat hal itu, Qabil takjub sekaligus merasa sangat bodoh dibanding burung gagak yang bisa lebih dapat mengatasi persoalan mengubur jenazah dibanding dirinya.

Kisah tersebut mengandung pesan-pesan untuk menyelesaikan konflik yang ada, terutama konflik antar individu. Pertama, manusia harus menghadapi konflik dengan kepala dingin, tidak mudah tersulut isu, panik, apalagi emosi. Setiap menghadapi masalah, perlu diklarifikasi atau memberi ruang berpikir terlebih dahulu agar tidak menjadi semakin berkepanjangan.

Baca Juga:  Perjalanan Makrifat Sunan Kalijaga Mendapat Maqam Wali

Kedua, ketika sedang menghadapi masalah namun belum mempunyai jalan keluar atau penyelesaiannya, maka hendaknya bertawakkal pada Allah. Ketiga, tanpa membalas perlawanan sebagai upaya memutus siklus kekerasan.

Artinya, kekerasan tidak dibalas dengan kekerasan. Itulah mengapa Habil tidak mau melawan Qabil. Tetapi ini bukan berarti bahwa Habil tidak berusaha melindungi diri. Manusia tidak mungkin bertahan hidup tanpa mampu melindungi diri. Habil melakukannya dengan kehalusan budi, yaitu menasehati Qabil agar menemukan jalan kebenaran. Ini sesuai dengan QS. Al-Ma’idah [5]: 28-29.

لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.”

إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ

“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.

Keempat, sikap kesewenang-wenangan, membenarkan diri sendiri, tidak mau membuka hati dan pikiran akan menjerumuskan manusia dalam puncak konflik. Sikap inilah yang ditunjukkan Qabil dalam QS. Al-Ma’idah [5]: 30.

فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi.”

Kelima, ketika konflik memuncak dan pecah, maka pada akhirnya mereka yang sewenang-wenang tersebut akan mengalami kerugian. Kenyataannya, terbunuhnya Habil bukanlah solusi bagi Qabil, justru dengan kejadian itu Qabil memperoleh persoalan baru dalam hidupnya. Seperti yang tertuang dalam QS. Al-Ma’idah [5]: 31.

Baca Juga:  Bisakah Kita Lolos dari 4 Watak Pemikiran Hukum Ini?

فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءَةَ أَخِيهِ ۚ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَٰذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْءَةَ أَخِي ۖ فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.

Jadi, ayat ini menekankan bahwa berpikir sebelum bertindak itu sangat penting. Untuk mengatasi konflik, manusia harus membuat jarak dengan konflik tersebut supaya dapat berpikir jernih.

Mohammad Mufid Muwaffaq