Pentingnya Mengingat Kematian, Bahwa Hidup tak Selamanya di Dunia

mengingat kematian

Pecihitam.org – Kematian adalah salah satu takdir dan ketetapan Allah Swt yang misterius, tidak tahu kapan akan terjadinya, yang jelas setiap manusia kelak pasti akan mati pada waktu yang telah di tentukan oleh Allah Swt. Itulah mengapa Rasulullah Saw selalu memerintahkan agar kita memperbanyak mengingat kematian.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Karena kematian adalah suatu keadaan yang dapat memutuskan seluruh kenikmatan yang ada di dunia. Apabila telah datang kematian maka antara ruh dan jasad tidak lagi menyatu, kita tidak lagi berdaya tidak mampu berbicara, melihat, dan seluruh tubuh yang sudah tidak dapat berfungsi lagi.

Perintah untuk mengingat kematian ini telah di jelaskan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah hadist berikut,

اكثرواذكر هاذم اللذات الموت

“Perbanyaklah mengingat hal yang dapat memutus kelezatan-kelezatan yaitu kematian,” (HR. Ibnu Hibban, Al-Nasai dan lainnya)

Sering mengingat akan kematian tentu saja akan membuat seseorang menjadi semakin beriman kepada Allah Swt, bahkan jika seseorang mengetahui kapan ia akan meninggal maka ia tidak akan berhenti beribadah dan beramal kepada Allah Swt.

Baca Juga:  8 Sifat Shalat Nabi Yang Bisa Kita Amalkan

Rasulullah Saw memberikan motivasi kepada umatnya agar beribadah dengan khusyuk dan bersungguh-sungguh seakan ia akan mati esok, sebagaimana yang di sebutkan dalam hadist berikut,

“Bekerjalah seakan-akan engkau hidup seribu tahun lagi, dan beribadahlah seakan-akan besok engaku akan mati.” (Al-Hadist)

Dalam pandangan fiqh, hukum mengingat kematian adalah sunnah, sedangkan sering mengingat tentang kematian termasuk dalam sunnah muakkadah.

Hal ini juga di sebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam karyanya yaitu Tuhfah al-Muhtaj sebagai berikut,

“Hendaknya setiap mukallaf (yaitu orang yang sudah baligh juga berakal) agar memperbanyak mengingat akan kematian, sebagai salah satu bentuk dari Sunnah yang di kukuhkan, bahkan jika hanya sekedar mengingat kematian saja (tidak sering melakukannya) maka hukumnya sudah Sunnah, karena dengan mengingat kematian termasuk dalam hal yang dapat mendorong seseorang untuk mengerjakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan, hal ini berdasarkan pada hadist shahih, ‘perbanyak mengingat hal yang dapat memutus kenikmatan’. Redaksi kata ‘hadim’ di sini tidak di sertai tanda titik berarti perkara yang menghilangkan kelezatan-kelezzatan dari pangkalnya, atau bisa juga dengan memakai titik ‘hadzim’ yang artinya dapat memutus kelezatan-kelezatan. Namun al-Suhaili berkata, rowaat yang benarr adalah yang memakai titik,” ( Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, jus 4, hal,4, Darul Kutub al-Ilmiyah).

Adapun menurut pandangan tasawuf, orang-orang yang sudah sampai pada tingkatan makrifat sudah pasti akan selalu mengingat kematian. Karena kematian adalah sebagai jembatan dapat bertemu dengan Allah Swt, bahkan orang yang sudah makrifat akan selalu menunggu datangnya kematian karena ingin segera melepaskan segala kerinduannya tehadap Allah Swt dan bahagia karena akan meninggalkan dunia yang fana.

Baca Juga:  Manfaat Menahan Amarah, Selain Dosanya Diampuni, Juga Baik untuk Kesehatan

Seperti yang di kemukakan oleh Hujjatul Islam Muhammad bin Muhammad al-Ghazai (pakar tasawuf) sebagai berikut,

“sedangkan Al-Arif (orang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang sifat-sifat kebesaran Allah) akan selalu mengingat kematian karena kematian adalah waktu yang di janjikan untuk pertemuan dengan kekasihnya. Sang pencipta tak akan lupaa waktu yang telah di janjikan untuk bertemu kekasihnya. Seorang yang demikian ini umumnya meganggap kedatangan mati yang begitu lamban dan menyukai kedatangannya, agar ia bisa terlepas dari tempatnya para pelaku maksiat dan berpulang menuju kehhadirat Tuhan sang penguasa alam”, (Hujjatul Islam Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin)

Semoga Allah SWT selalu mengampuni dosa-dosa kita dan menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang diambil nyawanya dalam keadaan khusnul khotimah. Amiin yarabbal’alamin.

Baca Juga:  Mengapa Shalat Tak Mampu Cegah Perbuatan Keji dan Munkar?
Arif Rahman Hakim
Sarung Batik