Sarung dan Santri; Dua Entitas yang Tak Terpisahkan

Sarung dan Santri; Dua Entitas yang Tak Terpisahkan

PeciHitam.org – Sudah menjadi ciri khas para santri mengenakan sarung kapan pun dan dimana pun ia berada. Penggunaan sarung ini bahkan telah mengakar jauh sebelum Indonesia merdeka.

Bagi mereka yang sudah terbiasa mengenakan sarung dalam kesehariannya, justru akan sangat risih ketika harus memakai celana panjang.

Meskipun dalam kesempatan tertentu yang mewajibkannya harus menggunakan celana panjang seperti dalam acara formal, bekerja di instansi pemerintahan, maupun dalam aktivitas tertentu yang dianggap lebih baik jika mengenakan celana panjang.

Sarung dan Santri merupakan dua entitas yang tidak dapat terpisahkan. Keduanya merupakan satu kesatuan. Hal ini dapat dibuktikan dan dikonfirmasi langsung kepada para santri pondok pesantren khususnya yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama.

Di Jawa Timur misalnya yang merupakan basis utama NU, seluruh santrinya memakai sarung. Seolah-olah akan belum paripurna rasanya jika ada seorang yang mengaku santri namun tidak senang mengenakan sarung.

Sarung bagi santri bersifat multifungsi, di antaranya seperti untuk shalat berjamaah, tempat penimpanan uang atau barang pada bagian gulungannya dan ada juga yang menggunakan untuk selimut kala tidur. Bukan hanya itu, sarung dianggap lebih praktis ketimbang celana.

Baca Juga:  Corak Aswaja dalam Bidang Politik, Santri Millenial Harus Paham!

Sebab dengan menggunakan sarung aktivitas gerak kita menjadi jauh lebih fleksibel biasa dikencangkan dan dikendurkan dengan mudah, bebas, tidak mencengkram serta yang paling utama yaitu bisa dibuka kapan saja.

Ketika memakai celana, biasanya seseorang akan lebih repot, terlebih ketika hendak buang air besar atau kecil. Ia harus membuka pengancing dan resletingnya terlebih dahulu. Namun ketika memakai sarung, ia cukup dengan mengangkatnya saja. Praktis bukan?

Satu rahasia santri yang perlu kami bocorkan di sini, bahwa biasanya para santri hanya memakai sarung sebagai bawahan, tanpa mengenakan celana dalam. Hal ini dinilai lebih plong dan semilir (isis) yang dapat memudahkan aktivitasnya.

Jika total penduduk Indonesia sekitar 255 juta, dan separuhnya adalah laki-laki, maka jumlah sarung yang diproruksi begitu fantastis. Apalagi, sarung sekarang tidak hanya dipakai orang Indonesia saja, Arab Saudi, Yaman, Afrika, juga suka memakai sarung tetapi tidak digunakan sholat, melainkan untuk santai-santi ketika dirumah.

Baca Juga:  UU Pesantren Sebagai Hadiah, Ada Makna Tersembunyi?

Karena sudah menjadi Busana Nusantara, maka setiap daerah memiliki carakter dan motif tersendiri. Tidak heran, jika ada sarung tenun dengan motif batik Kalimantan, Madura, Jawa Tengga, Jawa Timur, Sumatra, Sulawesi, Papua, NTT, Bali.

Bahkan, ada juga sarung yang motifnya doreng seperti seragamnya Militer. Sangat unik, menarik di sebuah masjid pesantren terdapat santri dari berbagai wilayah Nusantara mengenakan sarung yang beragam warna dengan motif yang beragama saat melaksanakan sholat berjamaah.

Pemandangan seperti ini tidak akan pernah ditemukan di dunia mana-pun, kecuali Indonesia. Semua bangsa Arab, memakai jubbah dengan beragama bentuk. Tetapi, sarung yang menjadi Busana Khas Santri Nusantara, benar-benar menjadi sangat simple, praktis dan isis dan gelis (cepet) nyopot dan memakainya.

Seorang Santri sangat bangga dengan Sarungnya. Jadi apapun mereka, seperti; Presiden, Menteri, Hakim, Tentara, polisi, dosen, dokter, tetap saja sarung menjadi busana yang meyenangkan dan tidak akan ditinggalkan.

Baca Juga:  Mengapa Pesantren Masih Diminati di Tengah Maraknya Sekolah Islam Modern?

Para pemakai sarung dari kalangan santri Nusantara itu tidak membenci pakaian khas Arab, seperti; gamis dan jubah. Justru, kaum santri kadang mengawiinkan Sarung dan Gamis.

Biasanya, santri-santri Nusantara yang sedang menuntut ilmu di Yaman, Makkah, Syiria, Libanon, selalu memakai jubbah, tetapi di dalamnya juga memakai Sarung.

Demikian beberapa hal yang perlu kami sampaikan seputar sarung dan santri. Keduanya merupakan entitas yang tidak dapat terpisahkan. Wallahu A’lam.

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG