Kisah Pernikahan Nabi Muhammad dan Sayyidah Khadijah

pernikahan Rasulullah dan sayyidah Khadijah

Pecihitam.org – Sayyidah Khadijah ra adalah seorang yang memiliki akhlak yang terpuji, wajah yang cantik rupawan, dan harta yang bergelimang. Hal itulah yang membuat Sayyidah Khadijah ra begitu terhormat, terpandang, terkenal di kalangan bangsa Arab. Meski sudah pernah menikah dua kali yaitu suami pertama Abu Halah at-Tamimi dan suami kedua adalah Atiq bin Aidz bin Makhzum. Keduanya wafat dan melahirkan empat orang anak, namun banyak pria yang berminat untuk mempersuntingnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dikisahkan sebelum bertemu dengan Khadijah ra Muhammad muda pernah jatuh cinta kepada wanita lain walaupun ternyata cintanya kandas. Muhammad menyukai Fakhitah binti Abi Thalib yang kemudian lebih dikenal dengan panggilan Ummu Hani.

Muhammad meminta izin pamannya untuk menikahi Fakhitah. Namun Abi Thalib punya rencana lain. Fakhitah sudah lebih dulu dilamar Hubayrah, putra dari saudara ibu Abi Thalib. Muhammad mencoba meminta izin untuk kedua kali, namun hasilnya tetap nihil. Muhammad menerima keputusan Abi Thalib dengan lapang hati.

Di sisi lain, seorang pebisnis kaya di Mekkah mengetahui kredibilitas Muhammad sebagai Al-Amin, yaitu Khadijah putri Khuwailid. Satu ketika, Khadijah meminta Muhammad mendagangkan barang miliknya ke Suriah. Muhammad menerima tawaran Khadijah itu disertai tawaran ditemani seorang budak bernama Maysarah.

Di Suriah, Muhammad berhasil menjual barang titipan Khadijah dengan hasil dua kali lipat. Sampai di Mekkah, Muhammad melaporkan perniagaan itu. Khadijah sendiri lebih tertarik dengan penyampai laporan ketimbang isi laporannya.

Meski berusia 15 tahun di atas Muhammad, Khadijah sadar ia masih cantik. Khadijah lalu meminta bantuan temannya, Nufaysah (Nufaisah) binti Muniyah.

Nufaysah lalu datang kepada Muhammad dan menanyakan mengapa pemuda itu belum menikah. ”Aku tidak memiliki apa-apa untuk berumah tangga,” jawab Muhammad.

Baca Juga:  Rahasia Wali Besar Hadramaut Pengarang Qasidah Sa'duna Fiddunya

Nufaysah lalu mengatakan ada seorang wanita yang tertarik kepada Muhammad, Khadijah. Setelah ditanya apakah Muhammad bersedia menikahi Khadijah, Muhammad muda mengiyakan.

Setelah itu, Khadijah meminta Nufaysah untuk bertemu. Kepada Muhammad, Khadijah menyampaikan perasaannya. ”Putra pamanku, aku mencitaimu karena kebaikanmu padaku. Engkau selalu terlibat dalam urusan masyarakat tanpa menjadi partisan. Aku menyukaimu karena engkau bisa diandalkan, luhur budi, dan jujur bertutur kata.”

Kemudian kedua keluarga bertemu. Ayah Khadijah, Khuwailid, telah meninggal sehingga keluarga Khadijah diwakili pamannya, Amr putra Asad. Keluarga Muhammad diwakili Hamzah. Kesepakatan dicapai, Muhammad memberi mahar 20 ekor unta betina.

Dari pernikahan selama sekitar 25 tahun bersama sayyidah Khadijah, Rasulullah dikaruniai enam anak. Anak pertama, seorang laki-laki bernama Qasim. Lalu lahir empat putri yakni Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Anak ke enam mereka adalah anak laki-laki, Abdallah. Kedua anak laki-laki Muhammad wafat saat masih anak-anak.

Di hari pernikahannya, Muhammad membebaskan budak yang ia miliki sebagai warisan dari ayahnya, Barokoh atau yang dikenal dengan sebutan Ummu Aiman. Khadijah sendiri menghadiahi Muhammad seorang budak berumur 15 tahun, Zaid putra Haritsah dan Muhammad sangat menyayangi Zaid, begitu pula sebaliknya.

Haritsah berasal dari suku Kalb yang daerah kekuasaanya terbentang dari Suriah dan Irak. Ia telah lama mencari Zaid. Mengetahui itu, Zaid menitipkan pesan berupa sebuah syair untuk ayahnya melalui jamaah haji asal Kalb. Syair yang menyatakan Zaid berada di tangan terbaik dari kalangan terhormat.

Haritsah bersama seorang saudaranya, Ka’b, menyusul Zaid ke Mekkah dan menemui Muhammad. Dalam pertemuan itu, Muhammad mempersilakan Zaid memilih antara pulang ikut ayahnya atau ikut dengan Muhammad dan Zaid memilih Muhammad.

Baca Juga:  Sejarah Mulanya Gelar Raja Para Wali Untuk Syekh Abdul Qadir Jailani

”Keterlaluan kau, Zaid! Engkau lebih memilih perbudakan dibanding kebebasan, memilih Muhammad dibanding ayah dan pamanmu?,” kedua orang Kalb itu menghardik.

Muhammad memotong pembicaraan. Ia lalu mengajak Zaid, Haritsah, dan Ka’b ke Kabah. Berdiri di Hijr, Muhammad berseru. ”Wahai semua yang hadir! Saksikan bahwa Zaid adalah anakku dan ahli warisku.”

Sejak hari itu, Zaid dikenal dengan Zaib bin Muhammad sampai Allah SWT menurunkan wahyu yang menegaskan hubungan anak angkat dan tidak berhaknya mereka atas waris orang tua angkat.

Shafiyyah, bibi termuda Muhammad, sering datang ke rumah Muhammad dan Khadijah. Shafiyyah sering mengajak pelayannya yang setia, Salma, yang membantu semua persalinan Khadijah.

Ibu angkat Muhammad, Halimah, juga beberapa kali berkunjung dan Khadijah selalu bersikap baik kepadanya. Satu ketika saat musim paceklik, Khadijah memberi Halimah 40 ekor domba dan seekor unta.

Abi Thalib yang miskin sering kesulitan memberi makan keluarganya. Muhammad dan pamannya, Abbas, sepakat merawat ke dua anak Abu Thalib. Abbas merawat Ja’far dan Muhammad merawat si bungsu Ali. Ali tumbuh seperti saudara bagi keempat sepupu perempuannya. Ali kira-kira sebaya dengan Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

Seorang kerabat yang dekat dengan Khadijah, Halah, sempat berkonsultasi dan meminta sayyidah Khadijah mencarikan calon istri untuk putranya, Abu Al-Ash. Setelah bicara dengan suaminya, Khadijah mengajukan Zaynab untuk dinikahi Abu Al-Ash. Terlebih Zaynab sudah mendekati usia nikah. Dan akhirnya mereka berdua dinikahkan.

Ke dua putri Muhammad lainnya, Ruqayyah dan Ummu Kultsum juga dilamar dua putera Abu Lahab yakni Uthbah dan Utaybah. Muhammad setuju menjodohkan mereka karena menganggap kedua sepupunya ia laki-laki baik.

Baca Juga:  Sosok Sayyidah Khodijah Radiallahu 'Anha di Sisi Rasulullah SAW

Wanita istimewa

Meski telah wafat, bagi Rasulullah, Khadijah selalu istimewa. Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Khadijah adalah wanita terbaik di zamannya. Bahkan Aisyah mengaku cemburu bila Muhammad menyebut-nyebut nama Khadijah.

Rasulullah mencintai Khadijah lebih dari sekadar alasan fisik. Setelah Khadijah wafat pun, Rasulullah menyatakan tak ada yang bisa menggantikannya. ”Khadijah beriman ketika orang lain inkar, ia membenarkanku ketika orang lain mendustakanku, ia membelaku dengan hartanya saat orang lain menghalangi, dan aku dikarunia anak yang tidak aku peroleh dari istri yang lain.”

Khadijah adalah satu-satunya orang yang diberi salam oleh Allah SWT melalui Jibril, ketika Jibril menemui Rasulullah SAW. Rasulullah mendapat peneguhan hati, pelipur lara, dan peringan beban dari Khadijah.

Pada 619 M, tak lama setelah pencabutan pemboikotan atas kaum Muslim di Mekkah, Sayyidah Khadijah wafat pada usia sekitar 65 tahun. Khadijah bukan hanya ibu bagi empat putrinya, tapi juga ibu bagi Zaid dan Ali. Untuk meringankan duka keluarga itu, Jibril datang kepada Muhammad dan menyampaikan Allah SWT telah menyiapkan tempat tinggal bagi Khadijah di surga.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.