Agama Kemanusiaan; Solusi Mengatasi Kekerasan Atas Nama Agama

Agama Kemanusiaan, Solusi Mengatasi Kekerasan Atas Nama Agama

Pecihitam.org – Kekerasan komunal yang dipicu atas adanya perbedaan paham keagamaan kembali terjadi di Indonesia. Banyak media melaporkan bahwa sekelompok laskar di Solo telah melakukan penyerangan terhadap kediaman keluarga Habib Umar As-Segaf pada hari Sabtu (8/8) pada saat keluarga ini menggelar acara Midodareni atau doa sebelum acara pernikahan.

Kekerasan ini menyebabkan tiga orang menderita luka-luka dan beberapa kendaraan rusak berat. Disinyalir kuat, motif penyerangan ini disebabkan laskar menengarai keluarga ini melakukan ritual keagamaan yang dianggap sesat atau tepatnya bernuansa aliran sekte tertenu.

Penyerangan ini kembali menambah daftar panjang deretan kekerasan atas nama agama di Indonesia. Masih hangat diingatan kita, begitu ganasnya konflik antar agama yang pernah terjadi di  Ambon sekitar tahun 1999, kekerasan terhadap kelompok Ahmadiyah pada kisaran tahun 2008, kekerasan dan pengusiran warga Syiah di Sampang Madura pada tahun 2012 dan masih banyak lagi deretan kekerasan yang dipicu oleh adanya perbedaan pemahaman keagamaan yang terjadi di belahan dunia, khususnya di Indonesia.

Meskipun agama bukanlah faktor tunggal, tapi agama selalu menjadi isu seksi untuk dijadikan alasan pemicu terjadinya kekerasan. Huntington (1996) mengungkapkan bahwa konflik dan garis persinggungan perang yang terjadi memiliki akar sejarah masing-masing.

Berbagai kekerasan antar kelompok yang terjadi di masa lalu akan berkelindan, berlanjut pada masa sekarang, dan pada gilirannya dapat memicu timbulnya konflik baru.

Selain itu, aspek demografi dan politik juga kerap menjadi faktor pemicu konflik. Akan tetapi, lagi-lagi perbedaan agama sering dijadikan sebagai alat legitimasi terjadinya sebuah konflik.

Kemanusiaan Mendahului Keberagamaan

Dalam buku al-Insâniyyatu qabla at-Tadayyuni (2015: 207) Habib Ali al-Jufri  menegaskan bahwa kemanusiaan harus didahulukan dari sikap religiusitas (at-tadayyun).

Baca Juga:  Dinamika Politik Pesantren di Kancah Nasional

At-Tadayyun yang dimaksud di sini bukanlah agama (dîn), melainkan sikap keberagamaan (religiosty), atau pandangan dalam memahami ajaran-ajaran agama.

Teks Alquran dan hadis itu pasti benar dan suci, akan tetapi pandangan atau pemahaman kita terhadap teks-teks tersebut belum tentu benar dan suci. 

Lebih lanjut, Ali al-Jufri mengutip hadis nabi yang mengisahkan seorang wanita yang masuk neraka disebabkan menawan seekor kucing sampai mati, sementara seorang pelacur dapat masuk surga berkat memberikan minum seekor anjing yang kehausan.

Hal ini menjadi bukti kuat bahwa aspek kemanusiaan tidak dapat dilepaskan dari unsur keberagamaan. Sikap keberagamaan tanpa diisi dengan rasa kemanusiaan hanya akan melahirkan sikap egosentris, haus popularitas dan posisi yang tinggi di tengah masyarakat.

Perilaku ini tentu tidak akan mampu mengantarkan pemeluknya untuk mencapai entitas keberagamaan yang luhur, yaitu menciptakan kedamaian dan kebahagiaan di dunia, dan ketinggian derajat di akhirat.   

Ajaran Kemanusiaan dalam Agama-agama

Secara literal, agama sering disebut berasal dari bahasa Sansekereta; “a” berarti “tidak” dan “gama” yang bermakna “kacau”. Dengan demikian misi utama agama adalah menjadikan umat manusia tidak kacau balau, tidak kocar kacir, dapat hidup tertib dan teratur. Dalam bahasa Arab agama disebut dengan dîn.

Derivasi kata ini berasal dari kata kerja dâna yang memiliki arti; memiliki, mengurus, merawat, memaksa, mengevaluasi, tunduk, taat, dan berkarakter.

Artinya orang yang beragama hakekatnya harus memiliki karakter merawat, merasa saling memiliki, tunduk dan patuh terhadap ajaran agamanya serta berkarakter.

Baca Juga:  Tantangan Umat Islam di Era New Normal

Agama, selain berorientasi pada ketuhanan (teosentris), juga sarat dengan muatan nilai-nilai kemanusiaan (antroposentris), berpegang pada prinsip humanistik, dan mementingkan sisi-sisi humanitas.

Setiap agama memiliki ajaran-ajaran yang humanis. Tidak ada satu ajaran agama apapun yang mengajarkan kejahatan, konflik dan melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

Kristen dengan kasihnya menekankan kemanusiaan. Kristus datang agar umat kembali pada kemanusiaan, kembali pada citra awal, kedatangannya ke dunia bukan saja misi kemanusiaan, tapi juga misi keselamatan.

Hindu memiliki misi menciptakan surga di dunia nyata dengan merealisasi satu aksi: gumaweaken sukanikanang wong len, membuat sukacita dalam sejahtera dan kebahagiaan orang lain, sesama atau saudara.

Buddha dengan mengedepankan kesederhanaana, memiliki tiga ajaran utama, sila, samadhi, dan panna. Tiga ajaran ini diamalkan dengan menjaga dan mengembangkan perbuatan baik, membangun keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa, dan mengembangkan kebijaksanaan.

Sedangkan Konghucu dengan dua nilai; Yen dan Li, yaitu hubungan ideal sesama manusia. Setiap manusia harus memiliki suatu kebaikan, budi pekerti, cinta dan kemanusiaan, serta konsep terpenting “Wen” yang berarti “damai”.

Bagaimana dengan Islam?

Islam menempatkan manusia sebagai khalifatullah fi al-ardh (perpanjangan “tangan” Tuhan di muka bumi) yang harus mewarisi sifat rahman dan rahim, sifat kasih sayang.

Keimanan seorang muslim belum sempurna jika belum mampu mencintai saudaranya layaknya seperti mencintai dirinya sendiri. Bahkan menghilangkan satu nyawa dianggap seakan ia membunuh seluruh umat manusia.

Saya melihat, aspek kemanusiaan yang terdapat pada setiap ajaran agama ini merupakan kalimatun sawa` (meeting point) yang dapat dijadikan sebagai salah satu solusi meredam konflik-konflik bernuansa agama yang kerap terjadi selama ini.

Baca Juga:  Salah Fikir (salafi) Tentang Syirik, Wahabi Habiskan Situs Sejarah Islam

“Agama Kemanusiaan” Sebagai Solusi

Sebagai salah satu solusi yang ditawarkan dalam meredam konflik komunal bernuansa agama, “agama kemanusiaan” harus mampu memposisikan segala sesuatu yang dikerjakan manusia tidak hanya untuk kepentingan tuhan semata, tanpa menghiraukan nilai kemanusiaan, namun juga memperhatikan kemaslahatan umat manusia.

Bukan lantas menghilangkan keberadaan tuhan sebagai aspek sakral dalam agama, tapi lebih kepada aspek keagaamaan yang juga mementingkan kemaslahatan manusia itu sendiri. Keberagamaan yang memadukan aspek teosentris dan antroposentris.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyampaikan uneg-uneg saya;

“Jangan kau hormati orang itu karna harta dan kekayaannya, sebab jika begitu, kau akan merendahkan orang yang miskin dan yang tak memiliki apa-apa. Jangan pula karna jabatannya, sebab pada akhirnya engkau dapat menghina orang yang tak memiliki kedudukan. Bahkan, jangan kau hormati mereka dengan melihat ilmu dan pengetahuannya, sebab banyak orang bodoh yg akhirnya dapat kau pandang rendah. Jangan pula karena agamanya, sebab pemeluk agama lain, atau bahkan yang tak beragamapun layak meraih penghormatan. Tapi, hormatilah mereka karena ia manusia. Makhluk yang dicipta oleh Tuhan. Pencipta tak akan rela jika ciptaannya direndahkan”.

Penulis: Buhori (Dosen IAIN Pontianak dan Aktivis NU Kalbar)

Redaksi
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG