Istilah “Ustadz Sunnah” yang Ternyata Adalah Bid’ah

ustadz sunnah

Pecihitam.org – Beberapa waktu ini ramai beredar di berbagai media mengenai istilah yang serba sunnah. Dari pakaian sunnah, masjid sunnah, kajian-kajian sunnah hingga ustadz sunnah. Ini menarik karena semua ternyata harus dilabeli dengan sunnah.

Mengenai siapa-siapa saja yang termasuk ustadz sunnah, sepertinya tidak perlu disebutkan disini, karena bagi pembaca sekalian sepertinya sudah paham maksudnya.

Ustadz sunnah katanya adalah ulama yang mengikuti manhaj salaf. Sayangnya manhaj salaf yang dimaksud hanyalah klaim sepihak dari kelompok salafi Wahabi. Lebih jelasnya silahkan bisa cek disini.

Kembali pada masalah ustadz sunnah. Sekarang kita bahas dulu sebenarnya maksud sunnah menurut mereka ini dan dinukil dari diskursus ilmu apa?

Karena jika kita telaah lagi lafadz sunnah itu setidaknya muncul di tiga disiplin ilmu. Ada di ilmu hadis dan ushul fiqh, ilmu fiqh dan ada juga di ilmu kalam atau tauhid. Ketiganya menggunakan lafadz yang sama namun punya pengertian berbeda.

Pertama, Pengertian sunnah menurut ilmu hadis dan ushul fiqh adalah segala hal yang dilakukan nabi baik ucapan, perbuatan atau persetujuan nabi.

Jika istilah ustadz sunnah mengacu pada pengertian ini, sepertinya istilah ustadz sunnah hanya istilah dusta. Karena, hari ini siapa sih yang mampu mengikuti semua perbuatan Nabi?

Baca Juga:  Relasi Tafsir Al-Qur’an dalam Politik di Era Orde Baru

Ya bayangkan, kalau mau jadi ustadz sunnah yang kafah (sempurna) jangan naik mobil, naiklah onta ataau keledai karena zaman nabi tak ada mobil. Makanlah roti dan kurma jangan makan nasi. Jangan cuma numbuhin jenggot, jidat hitam sama celana cingkrang doang, kalau itu sih ustadz sunnah nanggung!

Dan perlu digarisbawahi, tak semua yang sunnah Nabi itu boleh diamalkan karena sunnah dalam ushul fiqh ada dua macam. Yaitu sunnah tasyri’iyah dan ghairu tasyri’iyah. Pengertian singkatnya adalah ada sunah yang dijadikan hukum syariat dan ada yang tidak boleh.

Misalnya seperti sunnag nabi yang punya 11 istri, nabi yang bisa menikah tanpa wali, karena walinya Allah sendiri, dan kekhususan-kekhususan lainya. Itu contoh sunnah ghairu tasyri’iyah atau sunnah yang jika diamalkan justru haram dan melanggar aturan syariat.

Jika ada yang mengaku ustaz sunnah, sekarang pertanyaannya apakah berani mengamalkan sunnah ghoiru tasyri’iyah? Kalau nggak berani, ya berarti tidak perlu-lah mengaku-ngaku ustad yang paling sunnah.

Kedua, sunnah menurut diskursus ilmu fiqh adalah segala perkara yang jika diamalkan mendapat pahala dan jika tidak diamalkan maka tak berdosa.

Jika istilah merujuk pada pengertian menurut ilmu fiqih ini maka ustadz sunnah artinya adalah ustadz yang jika diikuti kajianya mendapat pahala, dan jika ditinggal tak masalah.

Baca Juga:  Krisis Teologi ( Keimanan ) di Tengah Wabah Covid-19

Tetapi sepertinya pengertian ini juga tidak cocok. Soalnya nanti jadinya akan ada label ustadz sunnah, ustad wajib, haram, makruh dan mubah.

Belum lagi hukum yang bercabang seperti ada ustadz sunnah muakadah, ustad makruh tanzih atau tahrim, fardhu ain atau kifayah dan lain-lain. Lho malah tambah ribet kan?

Ketiga, pengertian sunnah menurut ilmu kalam (akidah). Dalam ilmu ini ada istilah Ahlussunnah waljamaah. Sunnah di sini merupakan kebalikan dari ahlul bid’ah yang sesat karena mengada-ada atau menambah-nambahi hal baru dalam keyakinan agama islam tidak sesuai dengan keyakinan salafushalih.

Ahlul bidah adalah julukan bagi kelompok-kelompok menyimpang seperti Khawarij, Syiah, Murjiah, Qadariyah, Jabariyah dan lain-lain.

Jika merujuk pada pengertian ini, istilah ustadz sunnah maka artinya adalah ustad dari kalangan ahlussunnah. Dan yang lainya dianggap ustadz bidah.

Nah, sepertinya ustadz sunnah menurut mereka merujuk dari pengertian yang terakhir ini. Namun celakanya mereka mengartikan bidah sangat serampangan. Bahkan menuduh yang orang yang tidak sepemahaman adalah bidah sampai sesat.

Mereka mengartikan bidah adalah segala hal yang tidak sesuai dengan al quran dan hadis atau semua yang tidak dilakukan Nabi dan salafusshalih. Pengertian ini memang benar, namun ada yang mereka potong.

Baca Juga:  Kritik Imam Al Ghazali Terhadap Filsafat Islam

Karena arti bidah adalah segala perkara yang tidak berlandaskan dalil syar’i. Bukan cuma Al quran dan Hadis, masih ada ijma’ dan qiyas. Belum lagi dalil yang ulama tak sepakat seperti istishab, qaulus shahabah, istihsan, urf ahli madinah, syar’u man qablana dan lain-lain. Pengertian bidah secara lengkap bisa lihat disini.

Sayangnya ada satu hal yang mereka lupa bahwa membuat istilah “ustadz sunnah” juga merupakan bid’ah besar yang tidak ada dalam Alquran, Hadis dan tak pula dilakukan Nabi, sahabat maupun salafusshalaih. Jadi siapa yang ahlul bid’ah?

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG