Perbedaan Karakteristik Ahlussunnah Wal Jamaah dan Firqah Lainnya

karakteristik ahlussunnah wal jamaah

Pecihitam.org – Ahlussunnah merupakan paham yang konsisten dengan prinsip-prinsipnya namun juga moderat serta dinamis dalam menghadapi perkembangan zaman.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ahlussunnah wal Jamaah, yang di punggawai Abu Al Hasan Al Asy’ari dengan pemikiran islam tradisionalnya dan Abu Mansur al Maturidi dengan islam semi modern mempunyai karakteristik yang berbeda dengan firqah-firqah lainnya.

Berikut adalah karakteristik dari firqah Ahlussunnah wal Jamaah.

1. Al-Tawasuth dan al-Iqtishad

Tawasuth adalah suatu pola mengambil jalan tengah bagi dua kutub pemikiran yang ekstrem (tatharruf): misalnya jalan tengah antara Qadariyah (free-will) di satu sisi dengan Jabariyah (fatalism). Di sisi yang lain; skriptualisme ortodokos salaf dan rasionalisme Mu’tazilah; dan antara Sufisme Salafi dan Sufisme Falsafi.

Pengambilan jalan tengah bagi kedua ekstrimitas ini juga disertai sikap al-iqtishad (moderat) yang tetap memberikan ruang dialog bagi pemikiran yang berbeda-beda. Pentingnya moderasi dituangkan dalam al-Qur’an sebagaimana firman Allah;

وكذلك جعلناكم امة وسطا لتكونوا شهداء علي الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا (البقرة 2 :143)

“Dan demikian Kami telah jadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”.

2. Al-Tasamuh

Tasamuh adalah toleran terhadap pluralitas pemikiran. Dalam hukum Islam, karakteristik Ahlussunnah wal Jamaah responsif terhadap produk pemikiran madzhab-madzhab fikih.

Dalam konteks sosial-budaya, toleran dengan tradisi-tradisi yang telah berkembang di masyarakat, tanpa melibatkan diri dalam substansinya, bahkan berusaha untuk mengarahkannya. Sikap toleran ini memberikan nuansa khusus dalam hubungannya dengan dimensi kemanusiaan dalam lingkup yang lebih universal.

Baca Juga:  Tragedi Karbala Versi Sunni Lebih Bisa Dipertangung Jawabkan Sanadnya, Benarkah??

3. Al-Tawazun

Tawazun adalah keseimbangan, terutama dalam dimensi sosial-politik. Prinsip ini dalam kerangka mewujudkan integritas dan solidaritas sosial umat Islam. Bukti dari pengembangan corak al-tawazun ini dapat disaksikan dari dinamika historis pemikiran-pemikiran Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam al-Ghazali.

Abu Hasan al Asy’ari lahir di tengah dominasi ekstrimitas rasionalisme Mu’tazilah dan skriptualisme Salafiyah, sedangkan al-Ghazali menghadapi gelombang besar ekstemitas kaum filosof Syi’ah dan Batiniyyah.

Menurut al-Ghazali, rasionalisme bisa mengantarkan kemajuan, namun bisa menjauhkan manusia dari Tuhan. Sebaliknya, aspek batin mendapatkan atensitas berlebihan, dapat melumpuhkan intelektualitas, kreativitas dan etos kerja. Maka dibutuhkan keseimbangan antara tuntutan-tuntutan kemanusiaan dan ketuhanan.

Di tangan al-Ghazali muncul konsep penyatuan antara tatanan duniawi dan tatanan agama dan juga ideologi integrasi agama dan negara. Jika di era Mu’tazilah, hanya mengukuhkan nilai berdasarkan akal, maka ditangan al-Ghazali, nilai dibentuk oleh proses integrasi antara agama, dunia, dan Negara.

4. Al-Taqaddum (Progresif)

Tiga prinsip di atas harus ditambah dengan al-taqaddum (progresivitas). Prinsip ini mendorong warga Ahlussunnah wal Jamaah untuk berpikir maju dalam mengembangkan semua sektor, khususnya pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kualitas pendidikan.

Dunia ini adalah media kompetisi, siapa yang terbaik dialah yang memenangkan persaingan. Maka, tidak cukup berpikir moderat, toleran, dan mengedepankan keseimbangan. Bergerak maju dengan cepat adalah modal menggapai kesuksesan. Al-Qur’an mendorong umat Islam untuk aktif dan progresif menyongsong masa depan.

كنتم خير امة اخرجت للناس تاْمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر و توْمنون بالله (ال عمران 3 : 110)

Baca Juga:  Imam Bukhari: Sang Pembela Ahlussunnah wal Jamaah

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”

Menurut Imam Muhammad ibn Shumadih al-Tujaibi, pengertian khaira ummah ada dua pendapat. Pertama, adalah para sahabat Nabi Muhammad SAW. Kedua, adalah umat Nabi Muhammad SAW. sebagai umat terbaik.

Menurut Wahbah al-Zuhaili, predikat umat terbaik selama konsisten memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah secara benar, jujur, dan sempurna. Pendapat ulama ini menjadi tantangan serius umat Islam untuk membuktikannya dalam realitas.

Ayat ini mendorong umat Islam untuk aktif melakukan reformasi sosial menuju tegaknya kebenaran, keadilan, kesetaraan, kemajuan, dan kesejahteraan umat.

Islam pada masa Nabi Muhammad SAW. dan khulafa’ al-rasyidin mampu membangun masa kejayaan dalam bidang ekonomi, keilmuan, militer, sosial dan politik dengan modal al-Qur’an-hadis.

Maka umat Islam sekarang harus mengobarkan semangat berjuang untuk menggapai kejayaan dalam semua bidang, karena selain al-Qur’an-hadis, umat Islam sekarang sudah mempunyai modal besar, seperti warisan pemikiran dan peradaban umat Islam masa lalu yang bisa dijadikan cermin.

Sejarah konflik dihilangkan, persatuan digalang, dan program-program visioner dirintis dan dikembangkan secara produktif. Logikanya sederhana, tidak mungkin melakukan amar ma’raf nahyi munkar kalau dalam posisi lemah dan tertindas.

Tugas tersebut meniscayakan umat Islam sebagai pemimpin, pengendali, dan pengatur kebijakan dunia, sehingga bisa menebarkan nilai-nilai keadilan, kebenaran, dan kesetaraan universal. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW. :

الموْمن القوي خير واحب الي الله من الموْمن الضعيف, وفي كل خير, احرص علي ما ينفعك واستعن بالله ولاتعجز, وان اصابك شيئ فلاتقل لو اني فعلت كان كذا وكذا, ولكن قل : قدر الله وماشاء فعل, فان لو تفتح عمل الشيطان (رواه مسلم)[21]

Baca Juga:  Dalil Naqli dan Aqli dalam Ilmu Tauhid Ahlussunnah Wal Jamaah

“Umat Islam yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada yang lemah, dan semuanya baik. Bergegaslah pada sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah, dan kalau kamu tertimpa sesuatu, janganlah berkata ‘seandainya aku mengerjakan ini, maka akan terjadi ini dan itu, tetapi ucapkanlah Allah sudah menakdirkan sesuatu, dan apa yang dikehendaki pasti terjadi, karena kata ‘seandainya’ akan membuka aksi Setan”. (HR. Muslim).

Hadis tersebut seharusnya menggugah kesadaran dan semangat umat Islam untuk berpretasi dan memacu diri dalam meningkatkan potensi untuk meraih kemenangan dalam kompetisi global sekarang ini.

Maka jangan sampai merasa lemah, putus asa, dan rendah diri. Umat Islam adalah umat terbaik dan lebih tinggi derajatnya, maka kemenangan adalah keniscayaan yang harus diraih demi masa depan yang lebih cemerlang.

*Diolah dari berbagai sumber

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *