Surah Al-Ahzab Ayat 18-19; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Ahzab Ayat 18-19

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Ahzab Ayat 18-19 ini, menerangkan bahwa Allah mengetahui dengan sesungguhnya orang yang menghambat manusia mengikuti Rasulullah saw berperang di jalan-Nya. Dia mengetahui pula orang-orang yang enggan dan minta izin kepada Rasulullah saw untuk tidak ikut berperang, serta orang-orang yang mengajak penduduk Medinah agar tidak ikut berperang bersamanya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab Ayat 18-19

Surah Al-Ahzab Ayat 18
قَدْ يَعْلَمُ ٱللَّهُ ٱلْمُعَوِّقِينَ مِنكُمْ وَٱلْقَآئِلِينَ لِإِخْوَٰنِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا وَلَا يَأْتُونَ ٱلْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا

Terjemahan: “Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: “Marilah kepada kami”. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.

Tafsir Jalalain: قَدْ يَعْلَمُ ٱللَّهُ ٱلْمُعَوِّقِينَ (Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi) yang menghambat مِنكُمْ وَٱلْقَآئِلِينَ لِإِخْوَٰنِهِمْ هَلُمَّ (di antara kalian dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, “Marilah) kemarilah إِلَيْنَا وَلَا يَأْتُونَ ٱلْبَأْسَ (kepada kami.” Dan mereka tidak mendatangi peperangan) pertempuran إِلَّا قَلِيلًا (melainkan hanya sebentar) hanya ingin pamer dan cari muka.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah mengabarkan tentang ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Allah Ta’ala mengetahui orang-orang yang menghalangi orang lain untuk hadir dalam perang, serta orang-orang yang berkata kepada saudara-saudara mereka, yaitu rekan-rekan, keluarga dan teman-teman mereka: هَلُمَّ إِلَيْنَا (“Marilah kepada kami.”) yaitu kepada apa yang kami lakukan, berteduh dari terik matahari dan menikmati buah-buahan.
Disamping itu, لَا يَأْتُونَ ٱلْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلً (tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Allah mengetahui dengan sesungguhnya orang yang menghambat manusia mengikuti Rasulullah saw berperang di jalan-Nya. Dia mengetahui pula orang-orang yang enggan dan minta izin kepada Rasulullah saw untuk tidak ikut berperang, serta orang-orang yang mengajak penduduk Medinah agar tidak ikut berperang bersamanya.

Sementara itu, ada pula orang-orang yang ikut berperang sebentar saja sekedar untuk memperlihatkan kepada kaum Muslimin bahwa sebenarnya mereka itu termasuk orang yang ikut berperang. Akan tetapi, di saat kaum Muslimin lengah, mereka menghilang dengan diam-diam dan kembali ke rumahnya masing-masing.

Tafsir Quraish Shihab: Allah sungguh mengetahui siapakah sebenarnya orang-orang lemah [yang tidak mampu berperang] dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, “Bergabunglah bersama kami!” Padahal mereka tidak pernah samasekali merasakan kejamnya peperangan kecuali hanya sebentar saja.

Surah Al-Ahzab Ayat 19
أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَآءَ ٱلْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَٱلَّذِى يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلْخَوْفُ سَلَقُوكُم بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى ٱلْخَيْرِ أُو۟لَٰٓئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا۟ فَأَحْبَطَ ٱللَّهُ أَعْمَٰلَهُمْ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا

Baca Juga:  Surah An-Nur Ayat 41-42; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Terjemahan: “Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Tafsir Jalalain: أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ (Mereka bakhil terhadap kalian) maksudnya sangat perhitungan dalam menolong dan membantu kalian. Lafal asyihhatan bentuk jamak dari lafal syahiihun; berkedudukan menjadi hal atau kata keterangan keadaan dari dhamir yang terkandung di dalam lafal ya’tuuna.

فَإِذَا جَآءَ ٱلْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَٱلَّذِى (apabila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti) penglihatan atau seperti terbeliaknya يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْمَوْتِ (orang yang pingsan karena akan mati) yaitu orang yang sedang sekarat maut,

فَإِذَا ذَهَبَ ٱلْخَوْفُ (dan apabila ketakutan telah hilang) harta-harta rampasan telah diperoleh kaum Muslimin سَلَقُوكُم (mereka mencaci kalian) menyakiti kalian atau memukul kalian بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى ٱلْخَيْرِ (dengan lidah yang tajam, sedangkan mereka bakhil untuk berbuat kebaikan) atas harta rampasan yang telah diperolehnya.

أُو۟لَٰٓئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا۟ (Mereka itu tidak beriman) sesungguhnya فَأَحْبَطَ ٱللَّهُ أَعْمَٰلَهُمْ وَكَانَ ذَٰلِكَ (maka Allah menghapus pahala amal mereka. Dan yang demikian itu) penghapusan pahala amal perbuatan itu عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا (adalah mudah bagi Allah) dengan kehendak-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ (“Mereka tidak mendatangi peperangan melainkan hanya sebentar. Mereka bakhil terhadapmu.”) yaitu bakhil dalam kasih sayang terhadap kalian. As-Suddi berkata: “أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ (mereka bakhil terhadapmu), dalam masalah ghanimah [harta rampasan perang].”

فَإِذَا جَآءَ ٱلْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَٱلَّذِى يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْمَوْتِ (“Apabila datang ketakutan [bahaya], kamu lihat mereka itu memandang kepdamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati.”) yaitu karena sangat takut dan kagetnya. Demikianlah ketakutan mereka yang pengecut untuk terjun dalam peperangan.

فَإِذَا ذَهَبَ ٱلْخَوْفُ سَلَقُوكُم بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ (“Dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencacimu dengan lidah yang tajam.”) yaitu jika keamanan sudah tercipta, maka mereka berbicara dengan sangat indah, fasih dan lantang. Mereka menyatakan diri mereka dengan kedudukan tinggi dalam keberanian dan kegagahan, padahal mereka berdusta.

Baca Juga:  Surah Al-Ankabut Ayat 43-45; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Ibnu ‘Abbas berkata: سَلَقُوكُم yaitu, mereka akan menjemput kalian.” Qatadah berkata: “Dalam masalah ghanimah, satu kaum mempunyai sifat yang sangat bakhil dan sangat buruk dalam pembagiannya, mereka menuntut seraya berkata: “Berikan kami, berikan kami, sesungguhnya kami berperang bersama kalian.” Sedang di saat kritis, mereka begitu penakut dan enggan untuk terjun, di samping mereka sangat bakhil terhadap kebaikan, yaitu mereka sama sekali tidak memiliki kebaikan. Terkumpul pada mereka sifat penakut dan kedustaan, sedang sifat kebaikan mereka itu sangatlah sedikit.

Sebagaimana syair berkata dalam misal tersebut: “Di saat damai, mereka bagaikan keledai, kasar dan keras. Di saat perang mereka seperti wanita-wanita yang sedang haidh.”, Untuk itu Allah berfirman: yang artinya (“Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapus [pahala] amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”)(al-Ahzab: 19). Yakni, mudah dan ringan bag-Nya.

Tafsi Kemenag: Pada ayat ini, Allah menyebutkan sifat-sifat orang-orang yang selalu menghindarkan diri dari ikut berperang bersama Nabi saw: 1. Mereka tidak menolong Muhammad dan kaum Muslimin dalam menghadapi musuh, baik pertolongan berupa harta benda maupun jiwa raga.

2. Apabila musuh-musuh telah menyerang dan orang-orang yang beriman telah bertempur dengan gagah berani menolak serangan musuh, mereka menoleh ke kiri dan ke kanan karena ketakutan dan mencari jalan dan kesempatan untuk lari dari medan pertempuran menghindari kematian.

3. Apabila pertempuran telah usai dan mereka merasa telah aman, mereka bersikap sombong dan membangga-banggakan jasa dan keberanian dalam medan pertempuran padahal semua itu adalah omong kosong belaka yang menyakitkan hati. Seakan-akan merekalah orang-orang yang berperang mati-matian sampai kemenangan tercapai, padahal semua yang mereka katakan itu adalah dusta belaka.

4. Mereka sangat rakus kepada harta rampasan yang telah diperoleh kaum Muslimin, dan tidak mau melepaskan sesuatu yang telah mereka dapat. Padahal sebelumnya mereka tidak mau mengeluarkan harta untuk menolong Nabi saw.

Orang-orang yang bersifat seperti yang disebutkan di atas itu pada hakikatnya adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak beramal dengan tulus ikhlas dan tidak mau berkorban sedikit pun, karena mereka adalah orang-orang munafik. Karena sifat dan sikap mereka yang demikian itu, maka Allah menghapus segala pahala amal perbuatan mereka dan menjadikannya seolah-olah debu yang beterbangan yang tidak ada artinya sama sekali.

Baca Juga:  Surah An-Naba Ayat 17-30; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Menghapuskan pahala amal perbuatan orang-orang munafik itu bukanlah suatu yang sukar bagi Allah, tetapi amat mudah bagi-Nya, karena Dia Mahakuasa lagi Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tafsir Quraish Shihab: Pada lahirnya, orang-orang munafik sangat memperhatikan keselamatan diri kalian. Seolah-olah, dalam hal ini, mereka tidak mempunyai rasa takut. Tapi jika rasa takut kepada musuh atau kepada Rasulullah benar-benar telah datang, mereka akan memandangimu, Muhammad. Mata mereka berputar-putar kebingungan, bagai orang yang tidak sadarkan diri menghadapi sekaratul maut.

Akan tetapi jika rasa takut itu mulai sirna, mereka mencaci dan menghujat kalian dengan sangat keras. Mereka sangat malas melakukan kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang beriman dengan setengah hati. Meskipun mereka telah menyatakan berislam, namun Allah Swt. akan menyia-nyiakan perbuatan mereka, lantaran orang-orang munafik itu memendam kekufuran dalam hati. Sungguh pekerjaan yang demikian itu bukan hal yang sukar bagi Allah(1).

(1) Ayat ini menunjukkan satu fakta ilmiah yang belum ditemukan pada saat diturunkannya al-Qur’ân. Yaitu bahwa bola mata orang yang sedang dalam keadaan sekaratul maut atau dalam ketakutan akan berputar-putar.

Kalau ditinjau secara lebih cermat, akan didapati bahwa perasaan takut yang sangat akan dapat menghilangkan kesadaran dan merusak jaringan pusat urat saraf bawah sadar di bagian otak. Oleh karena itu, kondisi orang yang ketakutan mirip dengan orang yang sedang menghadapi sekaratul maut: matanya melotot dengan bola mata yang berputar-putar sampai mati.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama
kandungan Surah Al-Ahzab Ayat 18-19 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S