Surah Fatir Ayat 2; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Fatir Ayat 2

Pecihitam.org – Kandungan Surah Fatir Ayat 2 ini, menerangkan bahwa pemberian atau penahanan suatu rahmat termasuk dalam kekuasaan-Nya. Apabila Dia menganugerahkan suatu rahmat kepada manusia, tidak seorang pun dapat menahan dan menghalangi-Nya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Begitu pula sebaliknya, apabila Dia menahan dan menutup sesuatu rahmat dan belum diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, maka tiada seorang pun bisa membuka dan memberikannya, karena semua urusan di tangan-Nya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Fatir Ayat 2

مَّا يَفۡتَحِ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحۡمَةٍ فَلَا مُمۡسِكَ لَهَا وَمَا يُمۡسِكۡ فَلَا مُرۡسِلَ لَهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

Terjemahan: “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Tafsir Jalalain: مَّا يَفۡتَحِ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحۡمَةٍ (Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat) seperti rezeki dan hujan فَلَا مُمۡسِكَ لَهَا وَمَا يُمۡسِكۡۦ (maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah) dari hal-hal tersebut فَلَا مُرۡسِلَ لَهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦ (maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu) sesudah Allah menahannya. وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ (Dan Dialah Yang Maha Perkasa) Maha Menang atas perkara-Nya ٱلۡحَكِيمُ (lagi Maha Bijaksana) dalam perbuatan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala mengabarkan bahwa apa saja yang dikehendaki-Nya, pasti terwujud dan apa saja yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terwujud. Tidak ada yang dapat mencegah apa saja yang diberikan-Nya dan tidak ada yang dapat memberikan apa saja yang dicegah-Nya.

Baca Juga:  Surah Al-Qomar Ayat 9-17; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Imam Ahmad berkata, bahwa Warrad, Maula al-Mughirah bin Syu’bah berkata: “Mu’awiyah menulis surat kepada al-Mughirah bin Syu’bah yang isinya: ‘Tulislah untukku apa yang telah engkau dengar dari Rasulullah saw.. Lalu al-Mughirah memanggilku untuk menulis surat kepadanya yang isinya, bahwa aku mendengar Rasulullah berdoa saat selesai shalat:

(“Tidak ada ilah [yang berhak untuk diibadahi] kecuali Allah Mahaesa, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberikan apa-apa yang Engkau cegah, dan tidak berguna nasib baik seseorang untuk menyelamatkan dari [siksa, ancaman]-Mu”) aku mendengar beliau melarang untuk berkata:

“Si fulan berkata begini dan si fulan berkata begitu.” Banyak bertanya, menyia-nyiakan harta, dan mengubur hidup-hidup anak perempuan, serta durhaka kepada para ibu. (al-Bukhari dan Muslim mentakhrij hadits ini dari berbagai jalan dari Rawwad).

Tercantum di dalam Shahih Muslim bahwa Abu Sa’id al-Khudri berkata: “Sesungguhnya Rasulullah saw. Jika telah mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau berdo’a: (“Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Bagi Engkau puji-pujian sepenuh langit dan bum serta sepenuh segala sesuatu yang Engkau kehendaki selain itu ya Allah, yang berhak mendapatkan pujian dan pengagungan.

Sesuatu [pujian] yang paling berhak untuk diucapkan seorang hamba dan seluruhnya kami adalah hamba-Mu. Ya Allah, tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberikan apa-apa yang Engkau cegah, dan tidak berguna nasib baik seseorang untuk menyelamatkan dari [siksa, ancaman]-Mu.”)

Baca Juga:  Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 158-162 dan Terjemahannya

Sebagaimana firman Allah: yang artinya (“Jika Allah menimpakan suatu kemudlaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya.” (Yunus: 107). Dan di dalam masalah ini banyak contoh-contoh lain.

Imam Malik meriwayatkan : “Abu Hurairah berkata: ‘Jika mereka ditimpa hujan, dia mengucapkan: ‘Kami ditimpa hujan oleh bintang al-fath (anugerah).’ Kemudian dia membaca ayat ini:

مَّا يَفۡتَحِ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحۡمَةٍ فَلَا مُمۡسِكَ لَهَا وَمَا يُمۡسِكۡ فَلَا مُرۡسِلَ لَهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ (“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada sorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.’” (HR Ibnu Abi Hatim dari Yunus, dari Ibnu Wahb, dari Abu Hurairah).

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa pemberian atau penahanan suatu rahmat termasuk dalam kekuasaan-Nya. Apabila Dia menganugerahkan suatu rahmat kepada manusia, tidak seorang pun dapat menahan dan menghalangi-Nya. Begitu pula sebaliknya, apabila Dia menahan dan menutup sesuatu rahmat dan belum diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, maka tiada seorang pun bisa membuka dan memberikannya, karena semua urusan di tangan-Nya.

Dia Maha Perkasa berbuat menurut kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Oleh karena itu, kita harus selalu menghadap Allah melalui ibadah untuk mencapai cita-cita kita, dan senantiasa dengan bertawakal kepada-Nya, begitu pula di dalam usaha mencapai tujuan dan maksud yang diridai-Nya. Sejalan dengan ini, Allah berfirman:

Baca Juga:  Surah Fatir Ayat 33-35; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. (Yunus/10: 107) Dan dalam sebuah hadis disebutkan sebagai berikut: Dari al-Mugirah bin Syu’bah bahwa ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw apabila selesai salat mengucapkan, ‘Tiada tuhan melainkan Allah.

Dia Esa tiada ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah Tuhanku, tidak ada seorang pencegah pun terhadap sesuatu yang Engkau berikan dan tak ada seorang pemberi terhadap sesuatu yang Engkau cegah, tidak bermanfaat kejayaan seseorang dalam menghadapi siksaan Engkau.” (Riwayat Ahmad, al-Bukhari dan Muslim).

Tafsir Quraish Shihab: Jika Allah menganugerahkan rahmat-Nya kepada manusia–apa pun bentuknya, baik berupa hujan, karunia, ketentraman atau hikmah–maka tak sesuatu pun yang dapat mencegah-Nya. Sebaliknya, jika Dia menahan rahmat-Nya itu, maka tak ada sesuatu pun yang dapat menurunkan rahmat-Nya. Dialah Sang Mahaperkasa yang tak terkalahkan, Sang Mahabijaksana yang tak pernah melakukan kesalahan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama
kandungan Surah Fatir Ayat 2 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S