Sejarah Perkembangan Aswaja Hingga Sampai ke Nusantara

Sejarah Perkembangan Aswaja Hingga Sampai ke Nusantara

PeciHitam.orgVisi transformasi yang dibangun Ahlussunnah Waljamaah dapat dilihat pada proses penyebaran Islam di Nusantara. Sebagaimana dimaklumi, Islam diperkenalkan Nabi Muhammad dan berkembang sejak fase hijrah dari Makkah ke Madinah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kira-kira pada abad ke-7 H, tepatnya sejak masa-masa awal keruntuhan Dinasti Abbasiyah, Islam sudah masuk ke Indonesia. Dan, sekitar 7 (tujuh) abad kemudian, tepatnya pada 1344 H, Nahdlatul Ulama (NU) lahir di Surabaya.

Artinya, metodologi Ahlussunnah Waljamaah telah mendorong umat Islam di Indonesia untuk menjadi bagian dari peradaban Islam di dunia.

Klaim NU sebagai pengusung tradisi Ahlussunnah Waljamaah dan secara otomatis menjadi bagian dari peradaban Islam dunia didukung oleh fakta fakta historis.

Syaikh Ahmad Khatib Sambas, misalnya, ulama terkemuka yang lahir di Sambas, Kalimantan Barat, sejak masa mudanya sudah menunjukkan semangat menggebu-gebu untuk mendalami ilmu ilmu keislaman, sehingga beliau berketetapan hati untuk bermukim lebih lama di Makkah al-Mukarramah.

Pasalnya, iklim politik di Nusantara waktu itu tidak kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Syaikh Ahmad Khatib Sambas muncul sebagai tokoh sufi dan perintis kombinasi autentik dua tarekat besar, “Qadiriyah wa Naqsyabandiyah”, Tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah.

Tarekat Qadiriyah digagas oleh Syaikh Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Shaleh Zangi Dost al-Jailani (w. 1166 M) yang mengacu pada tradisi mazhab Iraqi yang dibangun Imam al-Junaid.

Baca Juga:  Prinsip-Prinsip Ahlussunnah Wal Jama’ah

Sementara Tarekat Naqsyabandiyah dibangun oleh Syaikh Muhammad ibn Muhammad Baha’uddin al-Uwaisyi al-Bukhari al Naqyabandi (w. 1189 M) yang didasarkan pada tradisi al-Khurasani yang dipelopori oleh al-Bustami.

Kedua jenis tarekat inilah yang dengan brilian diramu dan diracik oleh Syaikh Sambas dalam satu kesatuan yang bulat seperti dikenal kalangan umat Islam sekarang ini.

Kitabnya Fath al-‘Arifin menunjukkan integritas keilmuan Syaikh Ahinad Khatib Sambas di lingkungan masyarakat Islam Tarekat Ahmad Khatib Sambas diamalkan oleh masyarakat Islam di belahan dunia, terutama di negara-negara yang bermaahab Syafii dan bertasawuf ala al-Bushtami dan al-Junaid.

Pelanjut tradisi Aswaja kemudian adalah ulama besar Syaikh Nawawi Banten (1813-1897). Beliau adalah seorang ulama yang telah mencapal derajat “mujtahid mazhab”.

Beliau telah menulis sejumlah kitab keagamaan yang hingga kini masih digunakan di lingkungan pesantren di Nusantara dan negeri Islam lainnya. Syaikh Nawawi merupakan wujud dari geliat dan pergumulan Islam lokal yang lahir di tengah keterbatasan Nusantara.

Dia akhirnya menetap di Makkah sebagai bentuk protesnya atas kondisi kolonialisme Belanda. Nawawi mencapai puncak kariernya sebagai mujtahid mazhab di bidang fikih.

Dia telah meninggalkan lebih dari seratus karya tulis dan muridnya tersebar di seluruh dunia, terutama di negara negara penganut mazhab Syafi’i.

Penerus Awaja berikutnya adalah Syaikh Mahfudz Termas (w. 1919) Ahli hadis ini merupakan penerus tradisi pemikiran Syaikh Ahmad Khatib Sambas dan Syaikh Nawawi Banten, Kitab Manhaj Dzawi al-Nasar sebuah kitab metodologi autentisitas hadis yang hingga kini diajarkan di Universitas al-Azhar, Mesir.

Baca Juga:  Rentetan Sejarah Berdirinya Nahdlatul Ulama

Buku ini merupakan komentar atas karya Imam Abdur Rahman al-Suyuthi (w.911 H). Mandzhumat Ilm al-Atsar. Selain Mahfudz Termas ulama tersohor lainnya yang meneruskan tradisi Aswaja adalah Kiai Khalil Bangkalan (1819-1925).

Beliau adalah ahli gramatika Arab dan guru dari KH. Hasyim Asy’ari. Meskipun dari sisi pemikiran tidak cukup dikenal, Kiai Khalil Bangkalan berhasil mencapai puncak popularitas dan kharisma sehingga menjadi rujukan ulama Jawa pada masanya.

Ulama periode berikutnya adalah Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan (1901-1952) ulama asal Kediri yang intens mendalaml tasawuf. Dia mengarang kitab Sirajut al-Thalibin sebuah komentar cukup luas atas kitab Minhajul al-‘Abidin karya Al-Ghazali.

Kitab Ini menjadi kajian penting di beberapa negara berpenduduk Muslim, tidak terkecuali di komunitas al-Azhar Mesir dan beberapa negara di Afrika Barat.

Dengan demikian, dalam kesinambungan garis tradisi Aswaja ini dari belahan barat dan timur Dunia Islam, terletak posisi krusial NU. Kekukuhan NU berpegang pada tradisinya ini bertolak dari kesinambungan mata rantai khazanah keislaman yaug menghubungkan Timur Tengah, Asia, Afrika, hingga Nusantara.

Deretan ulama tadi adalah generasi awal yang berjasa dalam meletakkan landasan corak keagamaan Nahdlatul Ulama, Khazanah Itulah yaug dikenal dengan Ahlussunnah Waljamaah atau Aswaja.

Baca Juga:  Hukum Melafadzkan Niat Seperti Nawaitu dan Ushalli dalam Puasa, Shalat dan Ibadah Lainnya

Seperti dikemukakan tadi, paham ini awalnya ditata oleh Imam Hasan al-Bashri sebagal generasi tabi’in pasca Rasulullah Saw. yang bersikap moderat di tengah krisis berkepanjangan yaug menimpa umat Islam akibat al-fitnah al-kubra.

Satu abad kemudian, muncul al-Muhasibi, al-Qalauisi, dan Ibn Kullab yang membangun dasar-dasar wacana berpikir umat Islam dalam memasuki abad ke-3 H.

Langkah tersebut diteruskan oleh Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi, hingga Imam Abu Hamid al-Ghazali, Lalu dikembangkan di Indonesia pada awal abad ke-20 melalui wadah jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Silsilah generasi pasca-Imam al-Ghazali berkesinambungan dalam bentuk silsilah atau sanad-hingga ke pendiri NU, K.H. Hasyim Asy’ari, melalui Imam Abdul Karim al-Syahrastani, Imam al-Razi, al-Iji, al-Sanusi, al Bajuri, al-Dasuki, Syaikh Zaini Dahlan, Syaikh Mahfuz Termas, terus ke K.H. Hasyim Asy’ari.

Mohammad Mufid Muwaffaq