Peranan Mr. Hempher Terhadap Gerakan Muhammad bin Abdul Wahab (Bag 11)

Muhammad bin Abdul Wahab

Pecihitam.org – Setelah mengenal Muhammad Ibn Abdul Wahab secara tidak sengaja, Mr.Hempher rupanya menyimpan kekaguman terhadap sosok yang fenomenal ini. Maka dari itu Mr.Hempher benar-benar memamfaatkan si anak muda ini untuk mengelabuinya dengan berbagai macam saran dan pandangan. Dengan kata lain ia mencuci otak Muhammad Ibn Abdul Wahab secara bertahap.

Mereka menjadi sahabat yang baik, Mr.Hempher senantiasa mendampingi langkah si pemuda ini untuk menjerumuskannya ke dalam jurang takfiri yang membahayakan. Kini Mr.Hempher melanjutkan kesaksiannya selama dengan pemuda yang angkuh ini.

Tiga hari kemudian aku berbincang-bincang panjang dengannya soal bahwa minuman khamar itu tidak haram. Aku perdaya dirinya dengan menyertakan dalil-dalil al-Quran dan hadist, dan pada akhirnya aku berkata padanya,

“Dibenarkan bahwa Mu’awiyah dan Yazid serta Bani Umayyah dan Bani Abbas mereka saling menawarkan khamar. Maka mungkinkah mereka itu berada dalam kesesatan dan kau sendiri dalam kebenaran? Sesungguhnya tidak ada lagi keraguan bahwa mereka itu lebih memahami Kitabullah dan Sunnah Rasul, dan benarkah mereka tidak mengetahui hal yang haram sementara mereka memahami hal yang makruh dan perkara yang dibenci?

Sedangkan kitab-kitab Yahudi dan Nasrani menunjukkan kehalalan khamar, masuk akalkah bila agama yang satu (Islam) mengharamkan khamar sedangkan agama yang lain menghalalkannya? Sementara semua agama berasal dari sisi Tuhan Yang Maha ESA! Kemudian disebutkan dalam riwayat bahwa Umar meminum khamar sehingga turun ayat, “Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) Al-Maidah 91. Bila khamar itu haram maka Rasul akan menghukumnya , tetapi ia tidak melakukannya maka inilah dalil menunjukkan kehalalan khamar”.

Muhammad menyimak keteranganku dengan penuh perhatian, kemudian Ia bangkit sambil mengatakan, “Bahkan dibenarkan dalam riwayat bahwa Umar mencampur khamar dengan air lalu meminumnya, dan mengatakan jika mabuk, maka itu haram. Tetapi jika tidak mabuk maka tidak haram”.

Kemudian Ia menambahkan bahwa Umar benar dalam masalah ini, sebab Al-qur’an mengatakan, “Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah SWT dan sembahyang..”(Al-Maidah 91). Jika khamar itu tidak memabukkan maka hal tidak akan terjadi seperti ayat yang telah aku sebutkan, karena itu khamar tidak dilarang jika tidak memabukkan”.

Baca Juga:  Syeikh bin Baz: Perayaan Maulid Muhammad bin Abdul Wahab Itu Sunnah

Shafiyyah memberitahu apa yang telah terjadi, ia berhasil menuangkan khamar keras kepada pemuda ini, dan memberitahuku bahwa Ia telah meminumnya sampai mabuk, berkelakuan kasar dan menyetubuhi dirinya beberapakali malam itu, dan telah aku melihat badannya (Muhammad) lemah dan kurus lantaran malam itu.

Demikiannlah aku dan Syafiyyah mengendalikan Muhammad Ibn Abdul Wahab sepenuhnya. Sungguh suatu hal yang menggetarkan diriku tentang pesan penting yang dikatakan menteri Negara-negara jajahan, ketika aku memohon izin berangkat,

“Kami telah berhasil mengembalikan Spanyol dari tangan orang kafir (maksudnya orang muslim) dengan khamar dan kesesatan, maka kita harus berusaha agar Negara-negara yang menjadi milik kami dengan dua formula ini”.

Pada suatu hari, aku bicara tentang puasa dengan si Muhammad, lalu aku katakana padanya, “Sesungguhnya Al-qur’an mengatakan “dan berpuasa itu baik bagimu…”(al-Baqarah 184) dan tidak mengatakan bahwa puasa itu wajib bagimu, maka puasa dalam pandangan Islam itu sunnah bukan wajib!”.

Tetapi Ia bangkit dan mengatakan, “Hai Muhammad (nama samaran Mr.Hempher), kau ingin mengeluarkan aku dari agamaku?!”. Lalu aku katakana padanya, “Ya Wahab, agama itu kesucian hati, keselamatan jiwa, dan tiada permusuhan dengan yang lain. Bukannkah Rasulullah pernah bersabda, “Agama itu cinta”? Bukankah al-Qur’an menyebutkan bahwa “Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yakin” (al-Hijr 99).

Jadi jika manusia mendapati keyakinan akan Allah dan hari akhir, maka itulah kebajikan hati dan kebersihan amal, dialah orang yang paling utama”. Tetapi Muhammad menggelengkan kepalanya tanda menolak dan tidak senang.

Pada lain kali aku katakan padanya, “Shalat itu tidak wajib”. Dia menanyakan padaku, “Kenapa begitu?”. Aku berkata padanya, “sebab dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman, “dan dirikanlah shalat untuk mengingatku” (Taha 14), maka yang dimaksud shalat adalah mengingat Allah SWT. Jadi ingalah Allah sebagai ganti shalat!”. Muhammad berkata, “Ya! Aku pernah mendengar, sebagian ulama mengingat Allah SWT di waktu-waktu shalat sebagai ganti melaksanakan shalat”.

Baca Juga:  Khalid Basalamah Salah Memahami Tabarruk, Ini Kritik dari Santri

Maka betapa senangnya diriku mendengar perkataannya itu. Aku terus membumbui pandangannya ini sehingga aku perkirakan bahwa aku dapat mengendalikan jalan pikirannya. Tidak lama kemudia aku melihatnya tidak lagi serius dengan perkara shalat, terkadang dia shalat dan terkadang tidak. Terutama di waktu subuh, ia sering meninggalkan shalat subuh. Setelah semalam aku asyik berbincang panjang dengannya sampai lewat tengah malam, sehingga mendekati subuh ia kelelahan dan meninggalkan shalat.

Begitulah aku tanggalkan pakaian keimanan dari pundak anak si Wahab ini sedikit demi sedikit. Pernah suatu kali aku mendebatnya mengenai Rasul, tiba-tiba ia langsung menunjuk wajahku dan melotot, lalu berkata “Jika kau bicara soal ini aku tidak akan lagi berteman denganmu”. Aku khawatir ia akan marah dan benci padaku, karena itu aku menahan diri untuk bicara soal itu lagi”.

Tetapi minimal aku telah memperdaya dirinya bahwa ia berpegang teguh pada pemikiran yang ketiga, yaitu bukan Ahlussunnah dan juga Syiah dan ia sangat menerima pemikiran ini dengan sepenuhnya karena dirinya dipenuhi dengan kesombongan dan kemandiriannya (yang kelewatan).

Ditambah dengan keberadaan Shafiyyah yang selalu menemaninya selama satu minggu, juga dengan akad-akad (nikah mut’ah) yang diperbaharuinya, sehingga kami berdua benar-benar mengendalikan pemikiran si Muhammad ini.

Pada lain waktu aku katakan padanya. “Benarkah Nabi mempersaudarakan antara sahabatnya?”. Maka ia menjawab. “Ya!”. Lalu aku menanya lagi, apakah hukum-hukum Islam bersifat temporal atau permanen?”, Ia menjawab, “permanen, sebab Rasulullah pernah bersabda, “(Hukum) Halalnya (sesuatu dari Nabi) Muhammad adalah halal sampai hari kiamat dan (hukum) haramnya (sesuatu dari Nabi) Muhammad adalah haram sampai hari kiamat”.

Lalu aku berkata padanya, “Jika begitu, mari kita mempersaudarakan aku dan kau!” aka terjalinlah persaudaraan antara aku dan dia. Setelah itu, aku selalu bersamanya dan menemaninya ke mana saja dia pergi dan aku bersemangat untuk memetik buah hasil dari pohon yang telah aku tanam sebelumnya, buah yang berharga di masa mudaku.

Baca Juga:  Inilah Biografi Lengkap Muhammad bin Abdul Wahab dari Lahir Hingga Wafat

Setiap bulan, aku tuliskan hasil kerjaku dan laporkan kepada kementerian sebagaimana itu sudah menjadi tugasku sejak aku pergi meninggalkan London. Jawaban yang aku dapatkan dari kementerian sangat membuatku puas. Aku dan wahab berjalan di jalan (pemikiran) yang telah kami bangun berdua dengan langkah-langkah yang cepat, dan aku tidak pernah meninggalkannya dimana saja dia berada.

Targetku adalah memperkuat jiwanya yang berpikiran sangat bebas dan memperuncing keraguannya dan aku selalu mendukungnya dengan suka cita dan memuji jiwanya yang berapi-api. Terkadang, ia  bersikap kritis dan aku yang bersikap lembut padanya dengan mengatakan sambil menipunya,

“Kemarin malam aku bermimpi melihat Rasulullah, aku melihatnya seperti yang digambarkan oleh para penceramah di mimbar-mimbar. Ia duduk di atas kursi dan di sekitarnya sekelompok ulama yang tidak aku kenal seorangpun dari mereka dan aku melihatmu datang dengan wajahmu yang memancarkan sinar, ketika kamu sampai kepada Rasulullah, beliau beridiri memuliakanmu dan memelukmu, lalu (Rasul) berkata,

“Wahai Muhammad (Ibn Abdulwahab), namamu adalah namaku, kau mewarisi ilmuku, dan menduduki kedudukanku dalam mengatur urusan agama dan dunia”, kemudian kamu berkata, Wahai Rasulullah aku takut menampakkan ilmuku kepada manusia”, Rasulullah berkata padamu, “Janganlah takut, sesungguhnya kedudukan kamu itu tinggi”.

Mendengar kisah yang aku buat-buat dari mimpiku, dirinya (Muhammad) merasa melambung merasa kesenangan yang luar biasa, dan bertanya apakah benar mimpiku itu?. Aku menjawab. “Ya!”. Setiap ia menanyakan hal itu aku menjawab dengan positif sampai ia yakin dan aku mengira mulai saat itulah ia berniat untuk melaksanakan kewajibannya (seperti dalam mimpiku). Wallahu A’lam.

Besambung…

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *