Tafsir Alif Lam Mim Menurut Kyai Shalih Darat, Bagaimanakah Maknanya?

Alif Lam Mim Menurut Penafsiran Kyai Shalih Darat, Bagaimanakah Maknanya?

PeciHitam.org – Sebelum memaparkan penafsiran alif lam mim, Kyai Shaleh Darat terlebih dulu mendeskripsikan tentang surat Al-Baqarah di mana kalimat tersebut merupakan ayat pertama dari surat tersebut.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Berikutnya beliau menjelaskan tentang standar makkiyah dan madaniyyah (Surat yang turun di Mekah atau di Madinah). Menurut beliau setiap surat yang turun setelah masa Hijrah Nabi, maka surat tersebut disebut dengan madaniyah, meskipun tempat turunya berada di Mekah, Arafah, ataupun Tabuk. Sedangkan ayat yang turun sebelum masa hijrah, maka dinamakan dengan makiyyah, meskipun tempat turunnya di Madinah.

Setelah menjelaskan semua itu, Kyai Shalih Darat menjelaskan beberapa faidah dari surat al-Baqarah. Faedah pertama adalah, bahwa jika surat Al-Baqarah dibaca di dalam rumah, maka setan tidak akan sanggup memasuki rumah tersebut serta membatakan semua perbuatan ahli sihir.

Selain itu, di dalam surat Al-Baqarah terdapat seribu perintah, seribu hukum, serta seribu pilihan. Setelah itu, beliau menjelaskan tentang disunahkannya membaca ta’awwudz bagi sesorang yang hendak membaca Al-Quran, dilanjut dengan penyebutan basmalah dan alif lam mim baru setelah itu kemudian beliau menfasirkannya.

Dalam menafsirkan alif lam mim, Kyai Shaleh Darat awalnya mengatakan bahwa alif lam mim merupakan lafadz di mana tidak ada yang menegerti rahasianya (asrar) kecuali Allah. Namun Allah memberikan maksud rahasia itu kepada Nabi Muhammad SAW di waktu para malaikat muqarrabun dan Nabi serta rasul sama sekali tidak ada yang mendengrnya.

Baca Juga:  Jangan Baca Kitab Kuning Sebelum Paham Rumus dan Istilahnya!

Kyai Shaleh Darat kemudian menguatkan pendapat itu dengan cerita yang ada dalam sebuah hadits yang menceritakan saat turunnya surat kaf ha ya ‘ain shad (Surat Maryam ayat 1). Tatkala malaikat Jibril mengucapkan huruf Kaf, maka Nabi menimpalinya dengan “sampun ngerti kula” (Saya sudah mengerti).

Lalu Jibril melanjutakan membaca huruf “Ha” maka nabi berkata “Saya sudah mengerti” dan begitulah seterusnya sampai berakhir pada huruf “Ṣad”. Mengetahui semacam itu, Jibril lalu berkata “bagaimana baginda bisa mengetahuinya, (padahal) saya tidak mengetahui”.

Menurut Kya Shaleh Darat, lafadz alif lam mim merupakan al-aḥruf al-muqaṭṭa’ah (terputus-putus). Pada awal surat, al-aḥruf al-muqaṭṭa’ah memiliki dua bentuk: pertama, huruf yang terputus baik secara bacaan maupun tulisan sejenisnya “ṣad”, “qaf” dan “nūn”. Kedua, huruf yang terputus dalam segi bacaan saja, tidak pada tulisan semisal “alif lam mim”, “ḥa mim” dan “’ain sin qaf”.

Kedua bentuk tersebut sama-sama mengisyaratkan bahwa kalam Allah yang qadim tidak berupa huruf atau pun kalimat, karena keduanya memiliki akhir, sedangkan kalamullah tidak memiliki akhir. Namun arti atau makna dari al-aḥruf al-muqaṭṭa’ah tidaklah memiliki akhir, begitu juga dengan kalamullah. Dengan begitu sebenarnya alif lam mim mengsyaratkan bahawa kalamulah itu qadim sekaligus tidak berakhiran.

Baca Juga:  Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 111-118; dan Terjemahannya

Selain itu, penuturan al-aḥruf al-muqaṭṭa’ah (termasuk alif lam mim) juga mengindikasikan adanya nilai pendidikan. Dalam hal ini Kyai Shaleh Darat mengajak pembaca untuk berangan-angan, agar tidak tergesa-gesa mengajari anak kecil untuk membaca Al-Quran sebelum mereka diajarkan mengenal huruf-huruf hijaiyyah beserta susunannya. Mereka boleh diajari Al-Quran setelah mereka mengenali keseluruhan huruf hijaiyyah, kemudian susunannya.

Hal ini sekaligus memberi hikmah, bahwa kadar pengertian seseorang tergantung oleh kadar pengertiannya terhadap huruf-huruf hijaiyyah. Begitu juga keadaannya orang yang mengerti kalamullah sangat terpaut erat akan pengertiannya terhadap asrar (rahasia) Allah.

Kyai Shaleh Darat sisi juga membuat klasifikasi dari awal atau pembuka surat berupa huruf hijaiyyah. Menurutnya, al-aḥruf al-muqaṭṭa’ah terbagi menjadi dua jenis yaitu:

Muqaṭṭa’ah dalam segi tulisan dan bacaan sepertihalnya lafadz nūn, qaf serta ṣad dan muqaṭṭa’ah dalam pembacaan saja sepertihalnya alif lam mim. Jenis pertama menunjukkan makna yang tidak ada batasannya, seperti itulah kalamullah yang tidak memiliki akhir, tidak berupa huruf, juga tidak beruoa suara. Itulah kalamullah qadim yang bersifat azaliy.

Baca Juga:  Perbedaan Pendapat Ulama Mengenai Tafsir Ilmi, Sebuah Cabang Tafsir Kontemporer

Sedangkan jenis kedua mengisyaratkan bahwa huruf muqaṭṭa’ah itu jika disusun, maka tidak akan pernah habis selamanya, sepertihalnya huruf fa’, ‘ain dan lam. Ketiga huruf tersebut jika disusun maka dapat menjadi beberapa kata, semisal fi’lun, laf’un ‘alafun dan seterusnya.

Bagi orang yang telah mencapai tingkatan yang khash, alif lam mim memiliki makna isyarat terkait wujud (eksistensi) serta tingkatan-tingkatannya. Dalam ini Kyai Shaleh Darat mengutip perkataan Ibnu Arabi, bahwa alif merupakan isyarat kepada Dzat yang menjadi wujud pertama, yaitu Allah SWT. Lam merupakan isyarat kepada al-‘Aql al-Fa’al yang bernama Jibril, yaitu wujud kedua. Sedangkan mim merupakan merupakan isyarat kepada Muhammad yang menjadi wujud terakhir.

Mohammad Mufid Muwaffaq