Begini Cara Islam Mengistimewakan Anak Yatim Seperti yang Dicontohkan Nabi dan Sunan Drajat

Begini Cara Islam Mengistimewakan Anak Yatim Seperti yang Dicontohkan Nabi dan Sunan Drajat

PeciHitam.org Tidak ada yang berharap manusia terlahir dalam keadaan Yatim. Akan tetapi di dunia fana ini tidak ada yang mengetahui nasib seseorang kecuali Allah SWT telah menggariskannya. Manusia terlahir dalam keadaan keluarga utuh merupakan anugerah dariNya. Maka kita perlu mensyukurinya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Keadaan yatim akan mempengaruhi psikologi anak, yang mana perhatian dan kasih saying tidak utuh ketika terlahir kedunia dari ayah dan ibunya. Anak yatim tidak akan mendapatkan perhatian dari sosok ayah dan biasanya menjadi tulang punggung keluarga.

Maka dalam Islam, Anak Yatim sangat mendapatkan perhatian dan keistimewaan lebih daripada anak yang bukan Yatim.

Pengertian Anak Yatim dalam Islam

Pengertian dalam syara’ untuk Yatim berbeda dengan pengetian dalam Bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, biasanya predikat Yatim akan bersambung dengan Piatu, yakni tidak memiliki ayah Ibu.

Sedangkan dalam bahasa Arab, Yatim merupakan keadaan anak yang tidak memiliki Ayah sebagai  penyangga atau tulang punggung keluarga sebelum usia Baligh.

Jika sudah telah mencapai usia baligh maka predikat Yatim sudah tidak lagi berlaku sebagaimana pada masa kanak-kanak. Penjelasan tentang istilah yatim dijelaskan dalam sebuah hadis yang menceritakan bahwa Ibnu Abbas RA pernah menerima surat dari Najdah bin Amir yang berisi beberapa pertanyaan, salah satunya tentang batasan individu disebut yatim, Sahabat Ibnu Abbas membalas surat;

“Dan kamu bertanya kepada saya tentang seorang anak yatim, kapan terputus predikat yatim itu, sesungguhnya predikat itu putus bila ia sudah balig dan menjadi dewasa”

Muhammad Seorang Yatim

Muhammad SAW, kita ketahui, beliau seorang yatim yang ditinggal oleh ayahnya pada saat masih dalam kandungan. Kitab Khulasah Nuril Yaqin menjelaskan bahwa, Muhammad SAW ditinggal wafat oleh ayahnya Sayyid Abdullah saat ayahnya baru berumur 18 tahun. Sayyid Abdullah dimakamkan di kota Madinah saat melakukan perjalanan dagang dikota ini.

Baca Juga:  Punya Ayah Tiri, Masihkah Disebut Anak Yatim? Ini Penjelasannya

Beberapa Riwayat memang menyelisihkan tentang kewafatan Abdullah, apakah setelah Nabi Muhammad lahir atau sebelum. Akan tetapi pendapat yang lebih kuat, Sayyid Abdullah wafat pada saat Nabi Muhammad masih dalam kandungan Sayyidah Aminah.

Cobaan Rasulullah SAW juga bukan hanya ditinggal oleh Ayahnya saat masih dalam kandungan, Ibunya juga meninggalkan Muhammad kecil pada saat berumur 6 tahun.

Lengkap sudah keadaan Muhammad SAW kecil menjadi Yatim piatu pada saat masih berumur sangat belia. Sayyidah Aminah meninggal dalam perjalanan ziarah ke pusara Ayahnya dan meninggal didesa Abwa, desa antara Makkah dan Madinah.

Keadaan Nabi Muhammad SAW yang seorang Yatim menjadikan beliau sangat sayang kepada anak yatim sekaligus orang yang menyantuninya. Nabi Muhammad pernah bersabda;

عن عبد العزيز بن أَبِي حَازِمٍ قَالَ: حَدَّثَنِي أبي قال: سَمِعْتُ سَهَلْ اِبْن سَعْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلَ اللهِ أَنَا وَكَافِلُ اْليَتِيْمِ فِى الْجَنَّةِ هَكَذَا وَقَالَ بِإِصْبَعِيْهِ السَّبَابَةِ وَالْوُسْطَى

Artinya; “Dari Abd al-Aziz bin Abi Ḥazim dia berkata: Bapakku menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar Sahl bin Sa’ad, dari Nabi saw. beliau bersabda, “Aku dan orang yang menanggung anak yatim adalah seperti ini di surga.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah.” (HR. Bukhari)

Hadits yang menerangkan betapa besar penghargaan Islam dan Rasulullah kepada anak Yatim. KH Achmad Chalwani, pengasuh Pesantren Berjan Purworejo menambahkan, Rasulullah bersama dengan orang yang mau menyantuni anak yatim, kelak senantiasa berdampingan di surga.

Keistiewaan Anak Yatim

Anak yatim dalam islam menduduki maqam yang Istimewa karena memang dimuliakan disisi Allah SWT. Walaupun memiliki banyak keistimewaan, kiranya tidak ada yang menginginkan hal tersebut. Rasulullah pernah didatangi seorang lelaki yang mengadu tentang kekerasan hatinya, maka Rasulullah bersabda;

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲْ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﺷَﻜَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺴْﻮَﺓَ ﻗَﻠْﺒِﻪِ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ: ﺇِﻥْ ﺃَﺭَﺩْﺕَ ﺗَﻠْﻴِﻴْﻦَ ﻗَﻠْﺒِﻚَ ﻓَﺄَﻃْﻌِﻢِ ﺍﻟْﻤِﺴْﻜِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻣْﺴَﺢْ ﺭَﺃْﺱَ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴْﻢِ

Artinya; “Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya ada seseorang yang mengeluhkan kerasnya hati kepada Rasulullah SAW, lalu beliau berkata: “Jika engkau ingin melembutkan hatimu, maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim”

Penjelasan Rasul bahwa anak Yatim bisa menjadi media untuk melembutkan hati manusia yang keras. Dan memberi sedekah yatim, mengusap kepalanya merupakan Sunnah Nabi, rambut yatim yang kita usap dengan telapak tangan, menjadi perantara hati kita semua dilembutkan oleh Allah SWT. dan mudah menerima aspirasi dan pendapat orang lain.

Baca Juga:  Hukum Mencabut Uban Menurut Pandangan Para Ulama

Allah menambahkan dalam ayat Al-Qur’an sebagai berikut;

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (١)فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (٢

Artinya; “Thukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin” (Qs. Al-Mauun: 1-3)

Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa orang yang menghardik, menzhalimi, dan membuat sakit hati anak yatim disamakan dengan orang yang mendustakan Agama. Predikat menghardik yatim juga disetarakan dengan seseorang yang sering melalaikan shalat mereka. Naudzubillah min dzalik

Selain kedua maqam tersebut masih banyak sekali pahala yang akan didapatkan orang jika berbuat baik kepada anak yatim. Islam mengajarkan untuk berbuat baik kepada yatim agar bisa menjadi lumbung pahala manusia di dunia.

Muhammad SAW dan Anak Yatim

Dalam kitab Durratun Nasihin karya Syaikh Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir terdapat kisah Hikmah tentang anak yatim. Diceritakan dalam kitab tersebut suatu ketika Rasulullah SAW pada hari raya melihat anak-anak Madinah berbahagia dengan datangnya Idul Fitri.

Nabi melihat dari kejauhan ada seorang anak kecil duduk sendirian dan tampak bersedih hati. Rasul mendekati anak tersebut seraya bertanya; “Wahai anak, mengapa engkau tak bermain seperti teman-temanmu itu?”

Anak kecil tersebut kemudian menangis ditanya demikian. Dengan terisak anak kecil tersebut menjawab; “Wahai tuan, saya sangat sedih. Teman-teman saya gembira memakai pakaian baru dan saya tak punya siapa-siapa untuk membelikan pakaian baru”

Nabi kemudian bertanya kembali “Di mana orang tuamu?”

Baca Juga:  Betulkah Gaya Rambut Qaza' Itu Hukumnya Haram?

Si anak kecil tersebut melanjutkan cerita bahwa ayahnya telah syahid karena ikut berperang bersama Rasulullah SAW, sedangkan ibunya menikah lagi. Namun, semua harta ayahnya dibawa serta. Ayah tirinya lantas mengusirnya dari rumah.

Rasulullah kemudian memeluk dan membelainya. “Wahai anak, maukah kamu kalau saya menjadi ayahmu, ‘Aisyah sebagai ibumu, dan Fatimah Az-Zahra menjadi saudarimu?”

Anak kecil tersebut terperanjat kaget mengetahui bahwa didepannya adalah Rasulullah SAW. Dia pun tampak sangat gembira. Nabi SAW lalu membawa anak itu ke rumah dan memberikan pakaian yang layak. Beberapa waktu kemudian, anak kecil itu menemui teman-teman dengan perasaan sangat bahagia, dan mengenakan pakaian yang lebih baru.

Sunan Drajat dan Tradisi Santunan

Pengamalan untuk mengasihi anak yatim bukan hanya sekedar jargon dilakukan oleh salah satu Walisongo. Sunan Drajat, yang bernama Asli Raden Qasim yang dimakamkan di Lamongan mencontohkan bahwa mengasihi yatim merupakan Sunnah Rasulullah SAW.

Beliau mendirikan pesantren yang mana banyak dari santrinya merupakan dari golongan tidak mampu dan anak yatim terlantar. Sejarah panti Asuhan di Nusantara dapat dirunut dari Pesantren Sunan Drajat ini.

Pada era kerajaan dahulu, Sunan Drajat sudah memiliki visi visioner untuk memuliakan anak-anak Yatim sebagaimana yang Rasul contohkan.

Selain itu, di Nusantara juga terdapat tradisi menyantuni anak yatim pada bulan Muharram, tahun baru dalam kalender Islam. Tradisi ini dilakukan secara luas oleh para Muslimat dengan mengadakan acara santunan untuk para Yatim.

Bantuan bisa berupa fasilitas beasiswa, perlengkapan sekolah atau sembako yang dibutuhkan oleh para yatim. Hal ini merupakan bentuk pengamalan dalam kerangka tradisi yang perlu dilestarikan.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan