Surah Al-Hajj Ayat 58-60; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Hajj Ayat 58-60

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Hajj Ayat 58-60 ini, menerangkan bahwa semua orang yang hijrah di jalan Allah, meninggalkan kampung halamannya, meninggalkan keluarga dan harta bendanya, hanya untuk mencari rida Allah, dengan tujuan menegakkan agama Islam bersama Nabi Muhammad saw.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kemudian mereka terbunuh dalam peperangan atau meninggal secara normal dalam keadaan yang demikian itu, maka Allah akan membukakan rezeki yang mulia kepada mereka di akhirat.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj Ayat 58-60

Surah Al-Hajj Ayat 58
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Terjemahan: Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.

Tafsir Jalalain: وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ (Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah) jalan ketaatan kepada-Nya, yaitu berhijrah dari Mekah ke Madinah ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا (kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik) yakni rezeki di surga. وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki) Pemberi rezeki yang paling utama.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang yang keluar untuk berhijrah di jalan-Nya dalam rangka mencari keridhaan Allah dan mencari balasan disisi-Nya, meninggalkan tanah air, keluarga dan rekan-rekan, serta meninggalkan negerinya karena Allah, Rasul-Nya dan menolong agama-Nya. Kemudian mereka terbunuh di dalam jihad atau mereka wafat di pembaringan, bukan terjun ke dalam peperangan, maka mereka meraih pahala besar dan pujian indah.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.” (QS. An-Nisaa’: 100).

Firman-Nya: لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا (“Benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rizki yang baik,”) yaitu sesungguhnya Dia akan membalas mereka dengan rahmat dan rizki-Nya di dalam surga, sesuatu yang menyejukan mata-mata mereka.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa semua orang yang hijrah di jalan Allah, meninggalkan kampung halamannya, meninggalkan keluarga dan harta bendanya, hanya untuk mencari rida Allah, dengan tujuan menegakkan agama Islam bersama Nabi Muhammad saw. Kemudian mereka terbunuh dalam peperangan atau meninggal secara normal dalam keadaan yang demikian itu, maka Allah akan membukakan rezeki yang mulia kepada mereka di akhirat.

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa pada hakikatnya orang yang terbunuh atau mati biasa dalam keadaan hijrah untuk mempertahankan dan membela agama Allah adalah sama-sama akan diberi rezeki yang mulia di sisi Allah. Itulah yang dimaksud dengan ayat ini, dan juga disebutkan dalam firman Allah:

Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (an-Nisa`/4: 100)

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 90-92; Seri Tadabbur Al-Qur'an

Dan dalam hadis Nabi saw: Dari Salman al-Farisi ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan bertugas (siap bertempur pada jalan Allah), dia diberi rezeki, dan aman dari segala yang memfitnah dia. Dan bacalah olehmu jika kamu menghendaki (ayat ini).” (Riwayat Ibnu Abi Hatim)

Dari ayat ini dapat pula ditetapkan hukum, bahwa apabila ada perbuatan baik, sesuai dengan apa yang diperintahkan agama dan dikerjakan oleh beberapa orang, dalam pelaksanaan pekerjaan itu ada kaum Muslimin yang meninggal karena pekerjaan itu, dan ada yang mati secara normal di waktu melaksanakan pekerjaan itu, maka orang-orang yang mati secara normal itu diberi pahala yang sama oleh Allah.

Dalam ayat ini terdapat perkataan “rezeki” yang mulia, Allah tidak menerangkan apa yang dimaksud dengan rezeki yang mulia itu, dan kapan rezeki itu diberikan. Hal ini akan diterangkan pada ayat berikutnya (ayat 59).

Kemudian Allah menerangkan bahwa Dia adalah pemberi rezeki yang paling baik. Maksudnya ialah Allah memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya itu, semata-mata karena kasih sayangnya kepada mereka, sehingga ia memberikannya tiada terhingga kepada siapa yang dikehendaki-Nya, tanpa mengharapkan sesuatu balasan dari hamba-Nya itu.

Tafsir Quraish Shihab: Dan orang-orang yang meninggalkan kampung halaman untuk meninggikan agama demi mendapatkan perkenan Allah, lalu terbunuh di medan perang atau meninggal di atas tempat tidur, mereka akan diganjar oleh Allah dengan ganjaran yang paling baik. Dia adalah sebaik-baik yang memberikan pahala yang banyak.

Surah Al-Hajj Ayat 59
لَيُدْخِلَنَّهُم مُّدْخَلًا يَرْضَوْنَهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَلِيمٌ حَلِيمٌ

Terjemahan: Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.

Tafsir Jalalain: لَيُدْخِلَنَّهُم مُّدْخَلًا (Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat) dapat dibaca Mudkhalan dan Madkhalan, artinya tempat masuk atau suatu tempat يَرْضَوْنَهُ (yang mereka menyukainya) yaitu surga. وَإِنَّ اللَّهَ لَعَلِيمٌ (Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui) tentang niat mereka حَلِيمٌ (lagi Maha Penyantun) dari menghukum mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: لَيُدْخِلَنَّهُم مُّدْخَلًا يَرْضَوْنَهُ (“Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rizky. Sesungguhnya Allah memasukkan mereka ke dalam suatu tempat yang mereka menyukainya,”) yaitu surga.

Kemudian Dia berfirman: وَإِنَّ اللَّهَ لَعَلِيمٌ (“Dan sesungguhnya Allah Mahamengetahui,”) orang yang betul-betul berhijrah dan berjihad di jalan-Nya serta orang yang berhak melakukan itu. حَلِيمٌ (“Lagi Mahapenyantun,”) yaitu menyantuni, memaafkan dan mengampuni dosa-dosa mereka serta menghapuskannya dengan hijrah dan tawakkal mereka kepada-Nya.

Sedangkan orang yang mati terbunuh di jalan Allah di antara orang yang hijrah dan orang yang tidak berhijrah, maka sesungguhnya dia akan hidup di sisi Rabbnya dengan mendapatkan rizki, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

Baca Juga:  Surah Ar-Ra'd Ayat 6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki.” (QS. Ali `Imran: 169).

Hadits-hadits dalam masalah ini cukup banyak, sebagaimana telah lalu. Sedangkan orang yang wafat di jalan Allah di antara orang yang berhijrah dan orang yang bukan berhijrah, maka ayat-ayat yang mulia dan hadits-hadits shahih mengandung pemberian rizki dan besarnya kebaikan Allah kepadanya.

Tafsir Kemenag: Allah akan memasukkan semua orang yang terbunuh di jalan-Nya dan orang-orang yang meninggal dalam keadaan hijrah itu ke dalam surga yang penuh kenikmatan di akhirat kelak, sebagai balasan bagi apa yang telah mereka lakukan.

Inilah yang dimaksud dengan rezeki pada ayat 58, dan kapan rezeki itu diberikan-Nya. Allah menerangkan bahwa Dia mengetahui semua perbuatan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang hijrah, mengetahui segala amal yang telah mereka perbuat, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

Sebagaimana Allah mengetahui pula perbuatan-perbuatan orang yang zalim. Sekalipun demikian Allah tidak segera menimpakan siksa kepada orang-orang yang zalim, karena Dia juga Maha Penyantun, Allah selalu memberi kesempatan kepada manusia yang berdosa untuk bertobat dan kembali mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan diridai Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka itu benar-benar akan dimasukkan oleh Allah ke dalam surga yang bertingkat-tingkat yang membuat mereka puas dan bahagia. Sesungguhya Allah Maha Mengetahui keadaan mereka. Karenanya, Dia lalu memberi mereka ganjaran yang baik. Dia juga Mahalembut dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.

Surah Al-Hajj Ayat 60
ذَلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنصُرَنَّهُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ

Terjemahan: Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Tafsir Jalalain: Perkaranya ذَلِكَ (demikianlah) apa yang telah Kami ceritakan kepadamu وَمَنْ عَاقَبَ (dan barang siapa membalas) melakukan pembalasan, yang dimaksud adalah orang-orang Mukmin بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِ (seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita) sesuai dengan penganiayaan yang dialaminya dari orang-orang musyrik yang berbuat aniaya terhadapnya. Atau dengan kata lain, ia memerangi mereka sebagaimana mereka memeranginya di bulan Muharam,

ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ (kemudian ia dianiaya lagi) dan diusir dari kampung halamannya oleh mereka لَيَنصُرَنَّهُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ (pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf) terhadap orang-orang yang beriman (lagi Maha Pengampun) terhadap mereka yang memerangi orang-orang musyrik, sekalipun dalam bulan Muharam.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: ذَلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنصُرَنَّهُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ (“Demikianlah dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah derita kemudian dia dianiaya [lagi], pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahapemaaf lagi Mahapengampun.”)

Baca Juga:  Surah Al-Furqan Ayat 21-24; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Muqatil bin Hayyandan Ibnu Jarir menyebutkan bahwa ayat ini turun tentang pasukan perang Sahabat yang bertemu dengan sekelompok pasukan kaum musyrikin di Muharram. Lalu kaum muslimin menyerukan mereka (orang-orang musyrik) agar tidak memerangi mereka di bulan haram. Akan tetapi orang-orang musyrik menolak seruan itu dan mereka tetap memeranginya, serta berbuat dhalim. Maka kaum muslimin memerangi mereka dan Allah pun menolong mereka.

إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ (“Sesungguhnya Allah Maha pemaaf lagi Maha pengampun”)

Tafsir Kemenag: Demikianlah, Allah akan memberikan rezeki yang baik dan surga yang penuh kenikmatan kepada orang-orang yang meninggal dalam keadaan hijrah dan berjihad di jalan Allah, dalam memerangi musuh-musuh mereka.

Kemudian Allah menegaskan jaminan pertolongan-Nya kepada orangorang yang hijrah dan berjihad, yaitu siapa di antara orang-orang yang beriman membalas siksaan orang-orang kafir, karena mereka telah diperangi, kemudian musuh-musuhnya itu memaksa mereka untuk hijrah meninggalkan kampung halaman mereka, pastilah Allah akan menolong mereka dan akan membalas perbuatan itu kembali.

Dalam pada itu Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Karena itu janganlah orang-orang yang beriman memerangi musuh-musuh mereka yang telah menyerah dan hendaklah mereka melindungi orang-orang yang minta perlindungan kepada mereka.

Jika orang-orang kafir membiarkan kaum Muslimin menjalankan agamanya, tidak mengganggu dan menyakiti mereka, Allah melarang memerangi orang-orang kafir itu. Allah memerintahkan untuk memaafkan kesalahan mereka, sebagaimana Allah telah memaafkan pula kesalahan orang-orang yang beriman. Allah berfirman:

Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim. (asy-Syura/42: 39-40).

Tafsir Quraish Shihab: Begitulah cara Kami dalam mengganjar manusia. Kami tidak pernah berlaku curang. Maka apabila seoang Mukmin, berdasarkan hukum kisas, membalas orang yang berbuat jahat kepadanya hanya dengan kejahatan yang semisal, tetapi si pelaku kejahatan kemudian malah menambah kejahatannya, maka Allah telah mengambil janji untuk menolongnya dari kejahatan orang itu.

Allah sungguh banyak ampunan-Nya kepada orang yang membalas suatu kejahatan hanya dengan yang semisal. Dia tidak akan menghukumnya karena hal itu. Dia pun amat luas sifat memaafkannya, hingga di hari kiamat nanti, menutupi kesalahan- kesalahan hamba-Nya yang taat.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Hajj Ayat 58-60 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S