Apakah Takdir Bisa Dirubah? Ini Penjelasannya

Apakah Takdir Bisa Dirubah

Pecihitam.org – Mengubah takdir yang sudah pasti dan tidak dapat diubah adalah kemustahilan. Kita tidak bisa lari dari takdir bahwa segala yang hidup pasti akan mati. Kita tidak bisa merubah takdir bahwa manusia kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Kita juga tidak bisa merubah takdir terbitnya matahari dari barat. Jadi apakah takdir itu bisa dirubah? Jika bisa takdir yang seperti apa?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Menurut Syafi’i Asykur Pengertian takdir sendiri tidak bisa dilihat hanya dari satu pandangan saja. Syafi’i juga mengemukakan takdir menurut pandangan aliran Jabariyah dan aliran Qodariyah dan aliran Ahlussunnah wal jama’ah, yang mana aliran-aliran tersebut memiliki pandangan yang berbeda dan sangat signifikan mengenai takdir.

Pertama takdir menurut aliran Jabariyah yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada manusia adalah kehendak Allah. Manusia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti kehendak takdir tersebut. Jadi manusia ibarat wayang yang hanya dijalankan oleh dalangnya. Contohnya, ketika seseorang menjadi pencuri. Itu merupakan takdir bahwa seseorang tersebut sedang menjalani takdir sebagai seorang pencuri.

Baca Juga:  Pengertian Khalifah Menurut Ahli Tafsir

Adapun dalil yang dipakai oleh aliran jabariyah ini salah satunya adalah Q.S. Al-An’am ayat 112. Yang artinya : “Jikalau tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”.

Atau dalam Q.S. Ash-Shaffat ayat 96 yang artinya : “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.

Jadi aliran Jabariyah memahami bahwa apa yang diperbuat manusia adalah perbuatan Allah pada hakikatnya. Manusia sama sekali tidak berperan dalam kehidupannya sendiri. Bahkan manusia terkesan hanya seperti boneka bagi seorang dalangnya.

Kedua, adalah aliran Qodariyah adalah kebalikan dari jabariyah. Jika jabariyah semua yang terjadi dan dilakukan oleh manusia adalah kehendak Allah, maka Qodiriyah mengatakan kalau segala sesuatu yang terjadi pada manusia adalah murni atas tindakan manusia itu sendiri tanpa campur tangan Allah Swt.

Pemikiran aliran Qodiriyah ini adalah pemikiran kaum Rasionalis yaitu orang-orang yang mengedepankan Rasionalitas/logika dari pada unsur-unsur yang sifatnya transendental.

Adapun dalil-dalil yang dipakai oleh aliran Qodiriyah ini diantaranya seperti yang termaktub dalam Q.S. Al-Kahfi Ayat 29 yang artinya “Dan katakanlah kebenaran itu datangnya dari tuhanmu, barang siapa yang ingin beriman maka biarkanlah beriman dan barang siapa yang ingin kafir maka biarkanlah kafir”.

Dalam ayat lain seperti dalam Q.S Fushilat ayat 40 yang artinya “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”.

Pemikiran aliran Qodariyah ini kemudian dikatakan oleh William Paley bahwa ‘Tuhan sebagai Pembuat Jam‘ yang artinya Tuhan hanya menciptakan Alam semesta termasuk Manusia dan Makhluk lainnya sudah tersistrm dengan rapih dan setelah selesai dan berjalan maka tuhan tidak ikut campur didalamnya. Belakangan menurut Dhia Prekasa Yoedha pemikiran Paley ini menjadi Pameo di kalangan Akademisi termasuk di Indonesia.

Baca Juga:  Integrasi Ajaran Islam dengan Bidang Keilmuan Lain

Adapun yang terakhir adalah Aliran Ahlussunnah wal Jama’ah yang menyatukan antara dua pemikiran tersebut (Jabariyah dan Qodiriyah). Kaum Ahlussunnah mengatakam Bahwa yang dinamakan Takdir itu sudah ditentukan sejak zaman azali yang dimana ketentuan Allah itu dinamakan qadha dan qadar.

Akan tetapi ketentuan manusia tersebut bisa dirubah oleh Manusia dengan Berusaha (kasab), artinya manusia hanya berusaha sedangkan Allah yang menentukannya.

Adapun dalil yang dipakai oleh aliran Ahlussunnah ini diantaranya adalah Q.S Al-Baqarah Ayat 286 yang artinya “Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya, ia mendapatkan pahal dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapatkan siksa dari kemaksiatan yang dikerjakannya”

Jadi apabila ditanyakan apakah takdir bisa dirubah? Maka dari pandangan Ahlussunnah wal jama’ah ada takdir yang tidak bisa dirubah seperti kematian dan ada Takdir yang bisa dirubah melalui Usaha Manusia seperti Kebodohan menjadi kepintaran Kemiskinan menjadi kekayaan.

Baca Juga:  Pembacaan Manaqib, Salah Satu Bukti Kecintaan Kepada Wali Allah

Jangan mempersalahkan takdir sebelum berusaha. Jadi jangan menunggu Jodoh tapi menjemput jodoh. Jemputlah jodoh dengan batasan-batasan yang dibenarkan Syar’i dan Budaya”

(Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab)

Demikian Semoga Bermanfaat. Tabik!

Fathur IM