Menelisik Sejarah Aliran Qadariyah dan Pemikiran Ekstrim Mereka

aliran qadariyah

Pecihitam.org – Qadariyah berasal secara bahasa berasal dari bahasa Arab yaitu Qadara yang artinya kemampuan dan kekuatan. Secara terminologi atau secara istilah Qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala perbuatan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan. Sehingga setiap orang adalah pencipta dari perbuatannya sendiri.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Penganut aliran Qadariyah mengingkari ilmu Allah terhadap perbuatan sebelum terjadi dan Allah belum membuat ketentuan apa-apa. Mereka menyatakan bahwa tidak ada takdir sehingga semua perkara merupakan kejadian baru yang ada pada saat terjadi. Dan sebelum terjadi Allah tidak menentukan dan tidak mengetahuinya serta hanya tahu telah terjadi. Mereka mengatakan bahwa Allah bukan pencipta perbuatan manusia dan tidak menentukan apa-apa.

Menurut aliran Qadariyah manusia berkuasa terhadap perbuatan-perbuatan mereka sendiri. Manusialah yang mewujudkan perbuatan-perbuatan baik atas kehendak dan kuasnya sendiri dan mereka pula yang melakukan dan menjauhi perbuatan-perbuatan dan atas kemauan dan kemampuannya sendiri.

Dalam dalam paham ini manusia merdeka atau bebas dalam setiap tingkah lakunya. Perbuatan baik maupun perbuatan jahat semua dilakukan atau tidak dilakukan berdasarkan kehendak bebas dan pilihannya serta kemampuan yang dimiliki manusia itu.

Dengan demikian paham ini menolak anggapan bahwa nasib manusia ditentukan oleh Tuhan semenjak zaman Azali dan manusia berbuat atau beraktivitas hanya mengikuti atau menjalani nasib yang sudah ditentukan. Bisa dikatakan aliran Qadariyah adalah kebalikan dari aliran Jabariyah

Para pakar sejarah teologi Islam tidak mengetahui secara pasti kapan paham ini timbul namun menurut keterangan yang lain paham Qadariyah di perkirakan timbul pertama kali oleh seorang bernama Ma’bad Al Juhani.

Menurut Ibnu Nabatah, Ma’bad al Juhani dan temannya Ghailan al Dimasyiqi mengambil paham ini dari seorang Kristen yang masuk Islam di Irak. Menurut Adz Dzahabi, Ma’had al Juhani adalah seorang tabiin yang baik dan ia pun menentang kekuasaan Bani Umayyah.

Baca Juga:  Sumber Sama, Mengapa Banyak Perbedaan Pendapat dalam Islam?

Paham Qodariyah ini disebarkan oleh Ma’had Al Juhani dan Ghailan al Dimasyiqi tahun 70 Hijriyah/ 689 Masehi pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705 Masehi).

Latar belakang timbulnya paham Qadariyah ini sebagai isyarat menentang kebijakan politik Bani Umayyah yang dianggapnya kejam. Aliran Jabariyah berpendapat bahwa khalifah Bani Umayyah membunuh orang hal itu karena sudah ditakdirkan Allah dan hal ini menjadi topeng kekejaman Bani Umayyah.

Maka aliran Qadariyah mau membatasi Qadar tersebut mereka mengatakan jika Allah itu adil maka Allah akan menghukum orang yang bersalah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat kebaikan

Manusia harus bebas dalam menentukan nasibnya sendiri dengan memilih perbuatan yang baik maupun yang buruk. Jika Allah itu telah menentukan lebih dahulu nasib manusia maka Allah itu dzalim.

Karena itu manusia harus merdeka memilih atau ikhtiar atas perbuatannya. Manusia harus memiliki kebebasan berkehendak. Menurut Qadariyah, orang-orang yang berpendapat bahwa amal perbuatan dan nasib manusia itu hanyalah tergantung pada qadar Allah saja dan selamat atau celakanya orang itu telah ditentukan oleh Allah sebelumnya pendapat tersebut adalah sesat.

Sebab pendapat tersebut berarti menentang keutamaan Allah dan berarti mengangkatnya pula yang menjadi sebab terjadinya kejahatan-kejahatan. Mustahil Allah melakukan kejahatan.

Dari sini ajaran-ajaran paham Qadariyah segera mendapat respon pengikut yang cukup banyak, sehingga khalifah segera mengambil tindakan dengan alasan demi ketertiban umum dan beberapa pengikutnya ditangkap dan dihukum serta dibunuh di Damaskus tahun 80H/690M.

Baca Juga:  Sejarah Munculnya Firqah Murji'ah dan Kesesatan Ajaran Mereka

Setelah peristiwa ini maka pengaruh paham Qadariyah semakin surut. Akan tetapi dengan munculnya paham Muktazilah, maka dapat diartikan sebagai penjelmaan kembali dari paham paham Qodariyah. Sebab antara keduanya terdapat persamaan dalam filsafatnya yang selanjutnya disebut sebagai kaum Qadariyah mu’tazilah.

Kemungkinan munculnya paham ini disebabkan oleh pergolakan politik dan juga tekanan sosial pada pemerintahan saat itu yang mana pemerintahan Bani Umayyah dikatakan kejam oleh mereka.

Mabad Al al-Juhani adalah seorang tabi’in yang baik dan ia pernah belajar kepada Washil bin Atha pendiri Mu’tazilah. Kemudian ia melibatkan diri dalam pandangan politik dan memihak kepada Abdurrahman Bin al-‘ash Gubernur Sijistan dalam menentang kekuasaan Bani Umayyah.

Sesudah Ma’bad meninggal, paham Qodariyah terus disebarkan oleh Ghailan al Dimasyqi yang merupakan penduduk kota Damaskus. Ayahnya pernah bekerja pada Khalifah Usman bin Affan.

Ketika penyebaran dilakukan di Damaskus ia segera mendapat tantangan dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tetapi sesudah khalifah ini wafat kembali melanjutkan penyebaran paham Qodariyah ini.

Sehingga ia akhirnya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh Hisyam Ibnu Abdul Malik (720-743M). Sebelum dieksekusi terlebih dahulu diadakan perdebatan antara Ghailan dengan al Auza’i yang dihadiri oleh Hisyam sendiri

Sebagian orang-orang Qadariyah mengatakan bahwa semua perbuatan manusia yang baik itu berasal dari Allah. Sedangkan perbuatan manusia yang jelek itu dari manusia sendiri yang menciptakan yang tidak ada sangkut-pautnya dengan Allah.

Ada yang berpendapat ajaran qodariyah dikatakan Majusi karena mereka mengatakan adanya dua pencipta yaitu pencipta kebaikan dan pencipta keburukan.

Hal ini Sama persis dengan ajaran agama majusi atau zoroaster yang mengatakan adanya Dewa Terang (kebaikan dan siang) disebut dan Dewa keburukan (gelap dan malam).

Baca Juga:  Firqoh Mu'tazilah dan Doktrin-doktrin Rasionalitas Mereka

Mereka sulit diketahui aliran yang bagaimana, karena dalam segi tertentu mempunyai kesamaan ajaran dengan Mu’tazilah dan dalam segi yang lain mempunyai kesamaan dalam ajaran Murji’ah sehingga disebut Murji’ah Qodariyah

Doktrin doktrin aliran Qadariyah

Secara garis besar pada dasarnya berkisar tentang takdir Tuhan yaitu:

  1. Manusia berkuasa atas segala perbuatannya.
  2. Takdir adalah ketentuan Allah AWT yang diciptakan-Nya bagi seluruh alam semesta beserta seluruh isinya sejak zaman Azali. Yaitu hukum dalam istilah Alquran disebut sunnatullah

Aliran Qodariyah sekarang sudah punah sebagaimana yang telah dituturkan oleh Ibnu Hajar dan Al Qurtubi, tetapi Qodariyah sekarang hanya menetapkan ilmu Allah terhadap perbuatan hamba sebelum terjadi.

Hanya saja mereka berbeda dengan ulama Salaf dalam hal perbuatan hamba, yang terjadi atas kehendaknya sendiri tanpa ada campur tangan dari Allah.

Kesesatan Qadariyah ini lebih ringan daripada yang pertama oleh karena itu ulama Salaf menetapkan sesat ajaran Qadariyah yang mengingkari ilmu Allah saja. Meskipun Qodariyah sudah punah namun pemikirannya masih subur di kalangan Mu’tazilah itulah mengapa mu’tazilah bisa disebut juga ahli waris paham Qadariyah.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.