As-Syekh Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husaini, Penyebar Islam di Sulawesi Selatan

Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husaini

Pecihitam.org – Sosoknya terlupakan sejarah. As-Syekh Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husaini merupakan penyebar Islam paling awal di Sulawesi Selatan (Sulsel). Bahkan Walisongo diyakini sebagai keturunannya yang menyebarkan Islam seantero Jawa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

As-Syekh Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husaini dilahirkan di Malabar, India, tahun 1310 M dan tercatat sebagai cucu keturunan nabi yang ke-2o. Ayahnya bernama Amir Ahmad Syah Jalaluddin. Jalur nasabnya terhubung hingga rasulullah.

Nasab lengkapnya adalah Maulana Husin Jumadil Kubro bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Azmatkhan bin Abdul Malik bin ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath bin ‘Ali Khali Qasam bin ‘Alwi Shohib Baiti Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah bin ‘Alwi al-Mubtakir bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa An-Naqib bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al-‘Uraidhi bin Imam Ja’far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad SAW.

Gerakan Dakwah As-Syekh Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husaini

Diantara aktvitas dakwahnya yung terlacak yaitu pada tahun 1349 M bersama adiknya Syeikh Thanauddeen (Datuk Adi Putera), beliau tiba di Kelantan dalam menjalankan misi dakwahnya. Dari Kelantan ia menuju Samudra Pasai kemudian bergerak ke arah Tanah Jawa. Di tanah Jawa, beliau mengamanahkan tugas dakwah ke putra tertuanya Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik

Baca Juga:  KH Abdul Karim Lirboyo, Seorang Anak Petani yang Manjadi Ulama Besar

Beliau sendiri memilih bergerak ke Sulawesi Selatan yang kemudian mengislamkan Raja Lamdusalat (La Maddusila Toappasawe’ Datu Tanete) pada tahun 1380 M. Pada awal abad ke-15, Maulana Husain mengantar puteranya Maulana lbrahim Al Hadrami ke tanah Jawa.

Akhirnya, As-Syekh Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husaini memutuskan untuk bermukim di Sulawesi. Hal ini dikarenakan sebagian besar orang Bugis ketika itu belum masuk Islam.

Ia wafat pada tahun 1453 dan dimakamkan di Tosora, Wajo. Tempat tersebut kini dijadikan situs wisata religi bagi masyarakat Wajo dan dari pelbagai penjuru.

Dalam analisis Asriyadi Khamis Bintang ditemukan bahwa sejarah masuknya Islam di Sulawesi Selatan hampir pasti selalu dikaitkan dengan datangnya tiga ulama dari Minangkabau yaitu Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro dan Datuk Patimang. Ini dapat dimaklumi karena titik pijaknya adalah ketika Islam secara rami diakui sebagai agama negara oleh kerajaan Gowa. Kalau ini dijadikan dasar pijakan, maka Islam datang ke Sulawesi Selatan pada tahun 1605 setelah kedatangan tiga orang ulama tersebut. Tentu hal ini masih dipertentangkan para sejarawan.

Baca Juga:  Karomah Imam Syafi'i dan Beberapa Kalam Hikmahnya

Sayyid Jamaluddin Assegaf menyatakan bahwa ia datang dari Aceh atas undangan raja Majapahit, Prabu Wijaya. Setelah menghadap Prabu Wijaya, ia beserta rombongannya sebanyak 15 orang kemudian melanjutkan perjalanannya ke Sulawesi Selatan, tepatnya di Tosora, kabupaten Wajo melalui pantai Bojo Nepo, Kabupaten Barru.

Kedatangannya di Tosora diperkirakan terjadi pada tahun 1320. Sebagian sejarawan lalu menetapkan tahun tersebut sebagai awal kedatangan Islam di Sulsel. Beragam pendapat ihwal kiprah As-Syekh Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husaini. Namun kontribusi beliau dalam pengembangan islam di Wajo dan seantero Sulsel belum banyak terungkap.

Kehadiran Gusdur di Wajo yang hendak berziarah ke makam As-Syekh Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husaini tersebut mulai menyibak sosoknya sebagai pembawa risalah islam di tanah Wajo, lebih awal dari Syekh Yusuf al-Makassary.

Prof. Dr. H. Ahmad Sewang kala menulis disertasi tentang Sejarah Islam di Sulsel, tidak menyentuh sosok Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husaini karena data belum memadai, kecuali makam di Tosora.

Namun kepada penulis, beliau mengakui hendak menelusurinya lebih jauh ihwal sejarah perkembangan Islam di Sulsel beserta para tokoh-tokohnya beserta jejak intelektualitas dan dakwahnya.

Baca Juga:  Mengenang Mbah Moen, Dari Kisah Klasik Hingga Menjadi Ulama Karismatik

Berbagai spekulasi muncul. Sosok Syeikh Jumadil Kubro diyakini memiliki ajaran Syiah sehingga ulama Sunni condong mengabaikannya. Spekulasi itu diperkuat dengan menguatnya bacaan-bacaan “cenningrara” di kalangan masyarakat Bugis yang selalu menyebut nama Ali bin Abu Thalib dan Fatimah Az-Zahrah yang ditutup dengan ucapan barakka’la ilaha illallah, kun fa yakun.

Meski begitu, Prof. Dr. Ahmad M. Sewang meragukannya. Menurutnya, problemnya karena terbatasnya literasi yang mendukung ihwal sosok dan kiprah Sayyid Jamaluddin Akbar di tanah Wajo.

As-Syekh Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husaini wafat di Wajo dan dimakamkan di Tosora pada tahun 1453 M. Makamnya terawat dengan baik hingga kini. Pemda Kabupaten Wajo menjadikannya salah satu destinasi wisata religi.

(Kutipan tulisan Dr. Firdaus Muhammad dalam bukunya Anregurutta – Literasi Ulama Sulselbar)

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published.